I have move on to my new website:
http://kristiono-setyadi.net
Please check it out! 
No Comments »
Yes, I am writing a post as a beta test for the new FS Blog 2.0. Sound’s great! Sorry to disappointed you not to write for a long time coz I still testing the Beta version together with Friendster’s team and beta testers all over the world.
No Comments »
<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:Wingdings;
panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
mso-font-charset:2;
mso-generic-font-family:auto;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}
@font-face
{font-family:Calibri;
mso-font-alt:"Century Gothic";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:Cambria;
mso-font-alt:"Palatino Linotype";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle
{mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:15.0pt;
margin-left:0cm;
mso-pagination:widow-orphan;
border:none;
mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt;
padding:0cm;
mso-padding-alt:0cm 0cm 4.0pt 0cm;
font-size:26.0pt;
font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;
mso-ansi-language:EN-US;}
span.TitleChar
{mso-style-name:"Title Char";
mso-ansi-font-size:26.0pt;
mso-bidi-font-size:26.0pt;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;}
p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph
{mso-style-name:"List Paragraph";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:36.0pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
p.Quote, li.Quote, div.Quote
{mso-style-name:Quote;
mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:black;
mso-ansi-language:EN-US;
font-style:italic;}
span.QuoteChar
{mso-style-name:"Quote Char";
color:black;
font-style:italic;}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
/* List Definitions */
@list l0
{mso-list-id:156383169;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:-1710315536 939179706 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l0:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
@list l1
{mso-list-id:513111384;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:711629932 1072082916 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l1:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
@list l2
{mso-list-id:1238780996;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:-1218020834 -936106012 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l2:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
@list l3
{mso-list-id:1914654349;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:729972204 -2043799118 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l3:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
@list l4
{mso-list-id:1957710982;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:-447066442 1652096638 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l4:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
ol
{margin-bottom:0cm;}
ul
{margin-bottom:0cm;}
–>
Sabtu
ini saya libur. Saya mencoba mengendurkan kembali ritme cepat yang biasa saya
gunakan saat bekerja. Saya membuka laptop saya dan mencoba melihat seluruh isi
yang ada di dalamnya. Folder My Documents berisi begitu banyak dokumen
penting yang saya bawa dari kantor dan bisnis pribadi saya. Hampir setiap saat
saya membuka dan mengisinya dengan tumpukan file-file penting. Namun ada satu
folder yang jarang saya buka. Folder Others yang berisi tentang
rekaman-rekaman baik itu dokumen, rekaman suara, atau video masa lalu. Saya
buka kembali dan mencoba mencari sesuatu disana.
Tak
ada yang istimewa. Hanya beberapa dokumen dan catatan-catatan ringan masa lalu.
Beberapa foto, rekaman percakapan telepon, dan video momen-momen penting. Namun
ada satu folder yang sangat jarang saya buka. Bukan karena tidak ada sesuatu
disana, tetapi justru ada sesuatu disana yang menjadi masa lalu yang
menyakitkan. Saya membukanya kembali. Folder itu terbuka. Isinya hanya beberapa
file mp3 yang berjejer sebanyak dua baris. Namun rekaman tersebut adalah
sedikit rekaman dari masa lalu saya yang menyakitkan. Dan saya kembali dibawa
dalam situasi itu.
* *
*
Hari
itu, Minggu, beberapa bulan yang lalu, saya berada dalam kamar saya. Mengerjakan
proyek di depan komputer dan tenggelam diantara buku-buku pemrograman yang
sehari-hari saya baca. Tiba-tiba, telepon genggam saya berdering. Salah satu sahabat
saya membutuhkan bantuan. Sahabat saya, seorang wanita, membutuhkan bantuan.
Dia menghadapi seorang laki-laki yang secara sadis dan bengis membentaknya dan
benar-benar memperlakukan wanita layaknya banci. Tentu saja, seorang wanita
melawan seorang laki-laki bukanlah lawan yang seimbang. Saya memintanya untuk
menyebutkan dimana posisinya dan saya langsung meng-hibernate laptop
saya dan secepat mungkin menuju ke lokasi yang disebutkannya.
Sesampainya
disana, saya melihat pemandangan yang mengerikan. Seorang laki-laki yang sudah
beristri membentak-bentak sahabat saya itu. Entah apa yang jadi masalahnya,
namun saya tidak akan menerima perlakuan seperti itu. Dengan sedikit marah,
saya parkir motor saya di depan mereka. Rupanya, kedatangan saya membuat
laki-laki ini terdiam. Ia lalu mengambil posisi agak menjauh dan benar-benar terdiam.
Sebelum saya mulai, saya pergi mengambil air wudhu agar segala ucapan dan
tindakan saya tidak keluar batas. Saya berdoa seperti doa Nabi Musa ketika
menghadapi Firaun,
“Ya
Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan
lepaskankah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”
Selesai
mengambil air wudhu, saya berjalan menuju mereka. Saya mulai berbicara pelan
dan tenang. Mencoba mengurai apa yang sedang terjadi. Sahabat saya menangis. Lalu
saya mencoba mengajak laki-laki itu untuk berdialog. Saya katakan padanya bahwa
tidak seharusnya seorang laki-laki memperlakukan wanita seperti itu. Tindakan
yang hanya dimiliki seorang laki-laki penakut.
Kejadian
itu terus berputar dan menjadi hidup dalam benak saya selagi saya mendengarkan
dialog yang saya rekam sejak saya tiba di tempat itu hingga laki-laki tersebut
melarikan diri dengan motornya terburu-buru. Ia melarikan diri meninggalkan
saya dan sahabat saya yang tak berdaya.
Rekaman
itu terus berputar menuturkan dialog saya dan sahabat saya waktu itu. Dan akhirnya,
rekaman itu selesai ketika saya dan sahabat saya masing-masing pergi
meninggalkan tempat itu. Hingga saat ini, kejadian tersebut menyisakan luka
yang mendalam bagi saya karena dengan jabatan dan kekuasaan yang dia miliki,
sampai detik ini laki-laki tersebut tak pernah berhenti menjatuhkan saya,
dengan berbagai cara.
* *
*
Kita
memiliki masa lalu, baik yang menyenangkan ataupun yang menyakitkan. Hampir
semua orang (atau bahkan semua orang) memiliki masa lalu itu. Masa lalu yang
menyenangkan biasanya kita koleksi ke dalam lembaran-lembaran album foto dan keping-keping
CD. Masa lalu itu selalu ingin kita kenang dan menjadi penyemangat hidup kita.
Masa lalu yang menyenangkan itu akan menjadi sesuatu yang membuat kita
tersenyum di saat dunia seperti tak bersahabat sama sekali.
Sebaliknya,
masa lalu yang menyakitkan biasanya kita simpan dalam ruang yang sempit, kardus
yang gelap, dan berada di pojokan gudang yang tak terjangkau sama sekali. Harapan
kita adalah masa lalu yang buruk itu tak akan pernah mengingatkan kita lagi
tentangnya. Tak akan pernah hadir lagi dan tak akan pernah mengusik hari-hari
ceria yang kita miliki. Saya pun menyimpan masa lalu yang menyakitkan dalam
folder yang jarang saya jangkau, folder yang tidak penting dan tidak menarik
untuk dibuka.
Sebagian
orang berpikir untuk melenyapkan saja kenangan-kenangan masa lalu dan memulai
hidup baru dengan lebih baik. Namun justru beberapa tahun kemudian, ketika
mereka sukses dan kenangan tersebut tanpa sengaja hadir kembali, biasanya
mereka tidak siap dan menjadi jatuh karenanya. Sebagian orang lagi dengan
bijaksana menyimpannya dan menjaganya sebagai pelajaran terbaik dalam hidup. Saat
mereka ditimpa kesulitan dan musibah, terkadang mereka justru melihat dan me-review
masa lalu mereka yang buruk, agar mereka dapat membandingkan bahwa saat ini
tidaklah seburuk dahulu. Dan mereka yakin jika mereka mampu lepas dari masa
lalu yang buruk, saat ini pun mereka pasti bisa.
Tidak
ada sesuatu pun yang dapat menghalangi keceriaan kita jika kita mampu menanggapinya
dengan positif. Pengalaman apapun, apakah itu baik atau buruk, bisa saja
menjadi penyebab keceriaan kita di masa yang akan datang. Rekaman yang saya
dengar tadi biasanya sangat menyakitkan dan saya tidak menemukan satu celah pun
yang membuat saya ceria ketika mendengar rekaman itu. Namun, lambat laun,
seiring berjalannya waktu, saya mampu mengatasinya dengan baik.
* *
*
Selesai
mendengarkan rekaman itu, suasana hati saya tidak berubah. Saya sudah tidak
lagi terpengaruh dengan situasi saat itu. Kondisi saya menjadi lebih baik. Saya
buka Windows Media Player dalam laptop saya dan memilih satu diantara ratusan
koleksi lagu yang ada disana. Salah satu lagu favorit saya adalah dari Oasis
yang berjudul Don’t Look Back in Anger…
Yogyakarta, 9 Agustus 2008
Seharusnya seperti itulah kita bersikap
pada masa lalu yang menyakitkan.. Don’t Look Back in Anger… agar kita selalu
dapat mengambil pelajaran darinya…
No Comments »
<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:Calibri;
mso-font-alt:"Century Gothic";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:Cambria;
mso-font-alt:"Palatino Linotype";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle
{mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:15.0pt;
margin-left:0cm;
mso-pagination:widow-orphan;
border:none;
mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt;
padding:0cm;
mso-padding-alt:0cm 0cm 4.0pt 0cm;
font-size:26.0pt;
font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;
mso-ansi-language:EN-US;}
span.TitleChar
{mso-style-name:"Title Char";
mso-ansi-font-size:26.0pt;
mso-bidi-font-size:26.0pt;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;}
p.Quote, li.Quote, div.Quote
{mso-style-name:Quote;
mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:black;
mso-ansi-language:EN-US;
font-style:italic;}
span.QuoteChar
{mso-style-name:"Quote Char";
color:black;
font-style:italic;}
p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph
{mso-style-name:"List Paragraph";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:36.0pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>
Lagi-lagi,
saya ‘terjebak’ dengan tema seperti ini. Sejak beberapa waktu yang lalu, saya
berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengangkat tema ini di dalam blog saya.
Saya bersikukuh untuk tidak menghadirkan tema ini sebagai bahan tulisan. Saya
menghindari segala macam bentuk cerita dan film yang bertemakan hal ini. Namun
sepertinya hati saya tak bisa dibohongi. Bohong jika saya mengatakan bahwa
hari-hari saya tidak dipenuhi dengan cinta. Bohong jika saya tidak tersentuh
oleh cinta sama sekali. Bohong jika saya tak pernah menerima curahan cinta tak
terbatas.
Perasaan
ini terjadi secara tak sengaja. Saya menemukan sebuah artikel dan membacanya.
Tak ada sama sekali artikel yang mengarah kepada tema “cinta”. Saat itu, saya
membaca artikel tentang “spirit” atau semangat
hidup. Bagaimana orang-orang melewati masa-masa kritisnya dengan semangat
membara. Bagaimana mereka menangis dengan tegar, tersenyum diantara sakitnya
derita, bahkan mencoba tenang dikala dada bergemuruh. Entah oleh musibah, bencana,
kekurangan atau kehilangan, mereka tetap menjadi seorang manusia. Mereka tetap
menangis walau malaikat tak pernah
menangis, namun mereka tetap menjaga diri dan tenang ketika hewan manapun
mengamuk tak karuan. Karena mereka tetap manusia.
Saya
terharu sekaligus takjub dengan kisah singkat yang dituliskan di buku tersebut.
Kisah klasik namun menggugah hati. Cerita lama yang tak pernah usang. Kisah
seekor kadal yang terjepit selama puluhan tahun, namun masih tetap hidup
seperti tidak terjadi apa-apa. Saya akan menceritakannya kembali untuk Anda.
Waktu
itu, seorang manusia ingin membongkar rumahnya yang sudah usang. Ia berniat
merenovasinya agar terlihat baru dan bagus. Sedikit demi sedikit bagian rumah
itu dilepas dan disingkirkan. Tiba pada saat peruntuhan dinding, pemilik rumah
kaget sekaligus heran. Disana terdapat seekor kadal yang terjepit dan tak dapat
bergerak. Setelah diteliti lebih lanjut, kadal tersebut terjepit oleh dinding
yang mengeras akibat semen. Ia tak dapat pergi kemana-mana. Yang membuat si
pemilik rumah takjub adalah bahwa kadal tersebut tidak mati padahal ia telah
membangun rumah tersebut selama bertahun-tahun. Tertarik dengan apa yang
terjadi, ia menunda peruntuhan dindingnya hingga ia tahu apa yang terjadi.
Tak
lama kemudian, datang kadal lain mendekati kadal yang terjepit itu. Ia membawa
sesuatu di mulutnya. Ia mendekati kadal yang terjepit itu dan memberikan
sesuatu yang ada di mulutnya—makanan—kepada kadal yang terjepit itu. Selesai
memberikan makanan itu, ia pergi dan kembali beberapa jam setelahnya hanya
untuk melakukan hal yang sama.
* *
*
Bagi
kita, mungkin itu adalah hal terbodoh yang dilakukan oleh hewan tak berakal.
Namun, dapatkan Anda rasakan apa yang sedang terjadi? Kekuatan cinta dan kasih
sayang telah mendorong kadal yang bebas dan tidak terjepit memberikan makanan
kepada kadal yang terjepit. Kadal bebas itu tak mendapat apa-apa. Ia hanya
mendapat lelah dan bisa jadi membuang waktunya sia-sia karena telah memberikan
makanan kepada kadal lain yang tak mampu berbuat apa-apa. Ia bisa saja mencari
kadal lain yang lebih cantik atau tampan misalnya, atau lebih bebas, agar dapat
bersama-sama berbagi cinta. Ia bisa saja meninggalkan kadal yang terjepit dan
tidak mempedulikannya. Toh, lambat laun kadal yang terjepit itu akan mati dan
perjuangannya selama ini memberikan makanan adalah sia-sia. Setiap kadal tahu
akan hal itu.
Terkadang,
pikiran kita sama seperti kadal tak bermoral. Sama seperti kadal tanpa cinta. Sama
seperti kadal yang hanya mencari kesenangan sesaat dengan mencari yang lebih
cantik atau tampan dan lebih bebas agar dapat berbagi cinta. Kita bahkan lebih
parah daripada kadal. Kepada orang lain yang kita cintai, baik itu sedang bebas
atau sedang terjepit, kita justru sering menyakitinya. Alih-alih memberikan
makanan untuk bertahan hidup, kita justru mentertawakan keterjepitannya. Kita
justru mensyukuri dan menyebarluaskan derita yang dialaminya. Lebih parah lagi,
kita membiarkannya terjepit dan membiarkannya sakit lebih parah.
Saya
mendapatkan hikmah dalam seni mencintai orang yang benar-benar ingin kita
cintai. Tak perlu jauh-jauh ke Hollywood atau Bollywood, Indonesia menyimpan
segudang kisah cinta yang menarik untuk disimak, diperhatikan dan dipetik
hikmahnya. Jika Anda ingin melihat bagaimana rupa dan bentuknya, saya sarankan
untuk melihatnya bukan dari kacamata muda-mudi yang sedang pacaran atau baru
saja menikah, tapi lihatlah dari kacamata pasangan senja yang telah puluhan
tahun menikah. Dan saya mendapatkannya saat saya pergi mengunjungi Candi
Borobudur, Jawa Tengah.
Pemandangan
yang saya lihat sepertinya biasa, namun membuat hati saya terguncang. Bukan
karena sedih atau terluka, namun karena takjub. Sepasang manusia berumur senja
bersama dengan anak dan cucu mereka. Mereka membawa selembar tikar, rantang makan
siang, tempat minum dan dua buah payung. Mereka berpakaian warna-warni, bahkan
bisa dibilang ramainya warna baju mereka membuat cucu-cucu mereka merasa tersaingi.
Tiba
waktu makan siang. Mereka menggelar tikar mereka di bawah pohon rindang. Mereka
membuka rantang mereka, menyiapkan makan siang, dan meminta cucu mereka untuk
mencuci tangan. Gelak tawa tak kunjung reda dari anak dan cucu mereka. Sesedikit
teriakan riang yang memekakkan telinga membuat ibu anak-anak itu pura-pura
cemberut, namun kembali tertawa sesudahnya. Bagian paling mengharukan terjadi.
Sungguh, saya mendokumentasikan ini dengan risiko dikatakan ‘sentimentil’,
‘melankolis’, ‘sok romantis’, atau apapun namanya. Namun saya merasa penting
untuk mendokumentasikannya disini. Setidaknya untuk diri saya sendiri.
Bagian
paling mengguncang dan mengharukan terjadi. Sepasang manusia senja itu saling
suap-menyuap dalam menghabiskan makan siangnya. Nasi yang jatuh pun diambil dan
dibersihkan oleh mereka berdua. Bahkan, sambil makan siang, tangan mereka
saling bergenggaman. Selesai makan, mereka saling mendahulukan pasangannya
untuk minum. Mereka tidak mau minum sebelum pasangannya minum. Akhirnya, cucu
merekalah yang bersama-sama meminumkan air itu kepada kakek neneknya. Dan
akhirnya, mereka semua tertawa karena tumpahan air minum itu membasahi tikar
yang mereka bawa.
* *
*
Sulit
memang, untuk mencintai seseorang apa adanya. Lebih sulit lagi jika durasi untuk
mencintai adalah selamanya. Jika cinta monyet hanya bertahan beberapa bulan
saja dan cinta sepasang muda-mudi yang dimabuk asmara hanya bertahan beberapa
tahun saja, berapa besar cinta sejati yang dapat bertahan selamanya, bahkan
saat orang yang dicintainya itu tidak memiliki apa-apa.
Banyak
pasangan muda yang mencintai istrinya karena kelebihannya, namun menyembunyikan
ketidaksukaan padanya atas kekurangannya. Tidak sedikit pula dari mereka yang
terlalu jujur dan berterus terang hingga menyakiti hati pasangannya. Secara
teori, seni mencintai tidaklah sulit. Cukup dengan sebuah klausul “mencintai
apa adanya”, cinta sejati itu akan terwujud. Namun dalam prakteknya bisa jadi
sangat sulit; atau bahkan impossible, terutama bagi orang-orang yang
memandang bahwa tidak diperlukan cinta dalam berumah tangga.
Belajar
dari kadal diatas, atau seorang kakek nenek yang saya amati di Borobudur, kita
bisa belajar mencintai orang yang ingin kita cintai. Saya katakan ‘ingin’
karena mencintai adalah sebuah pilihan. Anda tidak harus mencintai pasangan
Anda karena itu pilihan Anda. Seperti halnya kadal diatas, ia mempunyai pilihan
untuk tetap bertahan dan berkorban mencintai kadal yang terjepit, atau ia bisa
saja dengan mudah pergi dengan kadal yang lain dan meninggalkan kadal yang
terjepit sendirian dan membiarkannya mati. Jika ada orang yang mengatakan cinta
itu tidak rasional, maka kita telah melihat bahwa cinta itu memang irrasional.
Bayangkan
berapa banyak waktu Anda terbuang sia-sia ketika Anda menyakiti hati orang yang
Anda cintai. Alih-alih mendukungnya dan mendorongnya untuk sesuatu yang akan
dilakukannya, terkadang kita lupa dan justru membatasi dirinya. Berapa banyak
para suami yang jengkel dan marah ketika istrinya terlalu lama berdandan.
Berapa banyak pula istri yang mendendam hanya karena suaminya tidak pernah
memperhatikan potongan rambutnya yang baru, atau tas yang baru saja dibelinya,
atau bahkan warna kulitnya yang sepertinya semakin bertambah putih.
Bayangkan
betapa berharganya waktu kita jika kita manfaatkan untuk menyukai apa saja yang
dilakukan oleh pasangan kita. Bayangkan betapa hebatnya waktu yang terlewati
dan tak pernah kembali itu kita habiskan untuk membuat pasangan kita tersenyum
dan tergelak bahagia. Tak ada sesuatu yang dianggap memalukan jika kita mau
mencintai apa adanya. Anda bisa hitung berapa banyak orang miskin yang malu
membawa tikar dan rantang saat piknik. Sebaliknya, lebih banyak orang kaya dan
bermobil mewah justru bangga dengan pasangannya apapun yang dilakukannya,
termasuk membawa tikar dan rantang saat piknik.
* *
*
Seni
mencintai menurut saya bukan terletak pada tikar dan rantang. Seni mencintai
juga bukan terletak dari statusnya sebagai miskin atau kaya. Kuncinya adalah
menerima apa adanya. Sekalipun orang yang kita cintai tidak memiliki apa-apa,
menerima apa adanya adalah menerima dirinya dan segala kekurangannya, serta menerima
ketidakberdayaannya atas sesuatu yang tidak dimilikinya. Mengapa mesti malu
jika kita mampu menertawakannya bersama? Mengapa mesti marah jika itu dapat
dijadikan bahan candaan yang segar? Mengapa mesti cemberut dan dendam jika hal
tersebut dapat dijadikan bahan diskusi ringan sebelum tidur?
Terakhir, saya
akan mengutip sebagian pidato Steve Jobs, CEO Apple Inc., dalam wisuda yang
dilakukan di Universitas Stanford:
“Your
time is limited, so don’t waste it leaving someone else’s life.
Don’t be trapped by dogma which is living with the results of other people’s
thinking.
Don’t let the noise of others opinion ground up your own inner voice.
And most important, have the courage to follow your heart and intuition,
they somehow already know what you truly want to become…”
Dan pesan saya pun sama seperti yang Steve
Jobs pesankan untuk Anda: Don’t waste your time leaving someone else’s
life.
Yogyakarta, 1 Juli 2008
…ketika meninggalkan seseorang yang
ingin ku cintai disebut sebagai pemborosan waktu,
saat itulah ku tak ingin memboroskan waktu itu…
5 Comments »
<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:Wingdings;
panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
mso-font-charset:2;
mso-generic-font-family:auto;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}
@font-face
{font-family:Calibri;
mso-font-alt:"Century Gothic";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:Cambria;
mso-font-alt:"Palatino Linotype";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle
{mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:15.0pt;
margin-left:0cm;
mso-pagination:widow-orphan;
border:none;
mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt;
padding:0cm;
mso-padding-alt:0cm 0cm 4.0pt 0cm;
font-size:26.0pt;
font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;
mso-ansi-language:EN-US;}
span.TitleChar
{mso-style-name:"Title Char";
mso-ansi-font-size:26.0pt;
mso-bidi-font-size:26.0pt;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;}
p.Quote, li.Quote, div.Quote
{mso-style-name:Quote;
mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:black;
mso-ansi-language:EN-US;
font-style:italic;}
span.QuoteChar
{mso-style-name:"Quote Char";
color:black;
font-style:italic;}
p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph
{mso-style-name:"List Paragraph";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:36.0pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
/* List Definitions */
@list l0
{mso-list-id:149641015;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:-1667214624 -1746100004 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l0:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
@list l1
{mso-list-id:1912933689;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:-723503996 1322015804 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l1:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
ol
{margin-bottom:0cm;}
ul
{margin-bottom:0cm;}
–>
“Sometimes
it falls upon a generation to be great. You can be that great generation”
Nelson Mandela, 2005
I
was surprised by that film. At first, I think the film was just another story
of love and sex. I think its story was just a meeting between a man and a
woman, a little conversation, and much act in the room, especially in bed. But
I actually wrong.
Started
from a busy man who has never had a woman he loves, this film actually boring
at the first time. His job as an accountant in one of the government ministry
makes him busy and automatically spends the whole day and night staring at the
cryptic number in a not-so-familiar format. In a spare time (if he have it), he
writes something or maybe everything he wants to write. And then the fun was begun:
he went to the café and met the girl there.
The
story begins to flow normally, even dramatically. I actually didn’t have any
idea about the woman he met. But that’s not the point of that film. Briefly, this
man asks the girl whether she wants to come to Iceland with him. He offers her
to accompany him because he had another ‘empty slot’ and he doesn’t know with
whom to go there. And as we all guess, yes, the girl smile and agreed.
Well,
I don’t want to tell you the whole story as it would make you sleepy. If you
ever watch this film, you must agree with me that this film is all telling
about something we appreciate to be our attitude: INTEGRITY. You may also agree
that this film teach us about BRAVINESS, CONFIDENT, TELLING THE TRUTH, and
NOTHING TO LOSE. At last, this film is all about a POSITIVE ATTITUDE we want to
have in our attitude, despite of the bad side of this film (every film has a
bad and good side; please be fair).
* *
*
Now,
let’s take a look at our side. We live each day surrounding by a thousand of
people, even more. We live not in an empty world but full of people everywhere.
We live in a busy world that has 24 hours a day and 7 days a week (after all,
we always feel that we have lack of time, for sure!). We live in a similar
community with our attitude. Rich people mostly surrounded by rich, and
honestly, poor people are surrounded by their same level of poor. Teacher needs
to meet another teacher as the president frequently communicates with another
president. This is a normal pattern.
Let’s
imagine to the community that we were linked to. Someone said that we are all
the product of our environment and community. If we joining the marketing
community, we becoming a marketer. If our community spreads hate and
destruction, we are not impossible to be the best destructor in the world.
Hence, if our community spread justice, it is possible to build the justice
attitude in our heart.
But
can you imagine living in the community which its main slogan was everything
that’s good but act like a jerk? “Hey, it’s impossible,” you think. But it’s
quite true. This film proves it elegantly. In a simple example, this film shows
us that government, the simple but powerful organization (and community), acts
like that. Not only government institution, but also political organization.
And most organization we don’t know much.
Mostly
those jerk organization acts like that when the absolute results are all about
the money. Mostly of them are all about women. And mostly of them are all about
the status and position. Not sure about the cause what makes our organization
acts like that, but we can optimize our attitude to fight back against that bad
manner. It sometimes hurt in a start line but it pays much after the finish
line. And I bet there is no finish line as we were satisfied over and over
again to tell the truth and to bravely fight against the bad ones in an elegant
way.
In
the meantime, there are sometimes bad people who treat us in a single way that
make us happy but then hit us in the back without notice. We call these people “PENJILAT”
(I don’t know what PENJILAT means in English so I write it as it actually is in
Indonesian). There are a lot of people like this out there. We face these
people every single day. In our complex, in the office, in the bus, everywhere.
Just take a look closely to them and you quickly know their habits.
* *
*
Enough,
enough, I don’t want to drag you to even further discussion as we would end up
with gossiping others. That’s not the point I’m writing this article, anyway. I
just want to tell all of you about being happiness telling the truth. Being
cleanliness talking everyone’s kindness. Being honest showing another great
attitude. As “penjilat” keep kicking and telling the lies about us and surround
us, we promise not to irritated by this kind of person. As they, the “penjilat”,
continue spreading injustice and hate, we are struggling not to worry about
that. As they plan strategy to take us down, they will never get the job done. Because
they are a looser. Because they just only a chicken who only have a brave in kicking
our ass, not our face. They even willing to wipe our face after kicking our
butt, and after that, kicking again, wiping again, kicking again, and those
acts would be never ending story.
As
Nelson Mandela state in 2005 and as I put it in the beginning of this article,
I want to challenge you not to keep the bad attitude. Not to be a chicken. Not
to be someone who telling the lies. Not to kick someone else’s butt. But
reversely, I challenge you to telling the truth, to be honest, to keep the good
attitude, to grow our own integrity, and to sinking down our “penjilat” soul. As
we talking to our heart about this, they would agree and smile to us. They, our
heart, would support us to do the best. They would happy and live with us, not
against us. And while we are happy to live with those great attitudes,
“penjilat” would have their heart sinking down, turning into death even though
their body was healthy. Let’s be a part of the GREAT GENERATION.
Jogjakarta, June 26, 2008
No Comments »
<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:Wingdings;
panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
mso-font-charset:2;
mso-generic-font-family:auto;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}
@font-face
{font-family:Calibri;
mso-font-alt:"Century Gothic";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:Cambria;
mso-font-alt:"Palatino Linotype";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
h1
{mso-style-next:Normal;
margin-top:24.0pt;
margin-right:0cm;
margin-bottom:0cm;
margin-left:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan lines-together;
page-break-after:avoid;
mso-outline-level:1;
font-size:14.0pt;
font-family:Cambria;
color:#365F91;
mso-font-kerning:0pt;
mso-ansi-language:EN-US;}
h2
{mso-style-next:Normal;
margin-top:10.0pt;
margin-right:0cm;
margin-bottom:0cm;
margin-left:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan lines-together;
page-break-after:avoid;
mso-outline-level:2;
font-size:13.0pt;
font-family:Cambria;
color:#4F81BD;
mso-ansi-language:EN-US;}
h3
{mso-style-next:Normal;
margin-top:10.0pt;
margin-right:0cm;
margin-bottom:0cm;
margin-left:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan lines-together;
page-break-after:avoid;
mso-outline-level:3;
font-size:11.0pt;
font-family:Cambria;
color:#4F81BD;
mso-ansi-language:EN-US;}
h4
{mso-style-next:Normal;
margin-top:10.0pt;
margin-right:0cm;
margin-bottom:0cm;
margin-left:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan lines-together;
page-break-after:avoid;
mso-outline-level:4;
font-size:11.0pt;
font-family:Cambria;
color:#4F81BD;
mso-ansi-language:EN-US;
font-style:italic;}
h5
{mso-style-next:Normal;
margin-top:10.0pt;
margin-right:0cm;
margin-bottom:0cm;
margin-left:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan lines-together;
page-break-after:avoid;
mso-outline-level:5;
font-size:11.0pt;
font-family:Cambria;
color:#243F60;
mso-ansi-language:EN-US;
font-weight:normal;}
h6
{mso-style-next:Normal;
margin-top:10.0pt;
margin-right:0cm;
margin-bottom:0cm;
margin-left:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan lines-together;
page-break-after:avoid;
mso-outline-level:6;
font-size:11.0pt;
font-family:Cambria;
color:#243F60;
mso-ansi-language:EN-US;
font-weight:normal;
font-style:italic;}
p.MsoHeading7, li.MsoHeading7, div.MsoHeading7
{mso-style-next:Normal;
margin-top:10.0pt;
margin-right:0cm;
margin-bottom:0cm;
margin-left:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan lines-together;
page-break-after:avoid;
mso-outline-level:7;
font-size:11.0pt;
font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#404040;
mso-ansi-language:EN-US;
font-style:italic;}
p.MsoHeading8, li.MsoHeading8, div.MsoHeading8
{mso-style-next:Normal;
margin-top:10.0pt;
margin-right:0cm;
margin-bottom:0cm;
margin-left:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan lines-together;
page-break-after:avoid;
mso-outline-level:8;
font-size:10.0pt;
font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#4F81BD;
mso-ansi-language:EN-US;}
p.MsoHeading9, li.MsoHeading9, div.MsoHeading9
{mso-style-next:Normal;
margin-top:10.0pt;
margin-right:0cm;
margin-bottom:0cm;
margin-left:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan lines-together;
page-break-after:avoid;
mso-outline-level:9;
font-size:10.0pt;
font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#404040;
mso-ansi-language:EN-US;
font-style:italic;}
p.MsoCaption, li.MsoCaption, div.MsoCaption
{mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:9.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#4F81BD;
mso-ansi-language:EN-US;
font-weight:bold;}
p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle
{mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:15.0pt;
margin-left:0cm;
mso-pagination:widow-orphan;
border:none;
mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt;
padding:0cm;
mso-padding-alt:0cm 0cm 4.0pt 0cm;
font-size:26.0pt;
font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;
mso-ansi-language:EN-US;}
p.MsoSubtitle, li.MsoSubtitle, div.MsoSubtitle
{mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#4F81BD;
letter-spacing:.75pt;
mso-ansi-language:EN-US;
font-style:italic;}
span.Heading1Char
{mso-style-name:"Heading 1 Char";
mso-ansi-font-size:14.0pt;
mso-bidi-font-size:14.0pt;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#365F91;
font-weight:bold;}
span.Heading2Char
{mso-style-name:"Heading 2 Char";
mso-ansi-font-size:13.0pt;
mso-bidi-font-size:13.0pt;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#4F81BD;
font-weight:bold;}
span.Heading3Char
{mso-style-name:"Heading 3 Char";
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#4F81BD;
font-weight:bold;}
span.Heading4Char
{mso-style-name:"Heading 4 Char";
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#4F81BD;
font-weight:bold;
font-style:italic;}
span.Heading5Char
{mso-style-name:"Heading 5 Char";
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#243F60;}
span.Heading6Char
{mso-style-name:"Heading 6 Char";
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#243F60;
font-style:italic;}
span.Heading7Char
{mso-style-name:"Heading 7 Char";
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#404040;
font-style:italic;}
span.Heading8Char
{mso-style-name:"Heading 8 Char";
mso-ansi-font-size:10.0pt;
mso-bidi-font-size:10.0pt;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#4F81BD;}
span.Heading9Char
{mso-style-name:"Heading 9 Char";
mso-ansi-font-size:10.0pt;
mso-bidi-font-size:10.0pt;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#404040;
font-style:italic;}
span.TitleChar
{mso-style-name:"Title Char";
mso-ansi-font-size:26.0pt;
mso-bidi-font-size:26.0pt;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;}
span.SubtitleChar
{mso-style-name:"Subtitle Char";
mso-ansi-font-size:12.0pt;
mso-bidi-font-size:12.0pt;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#4F81BD;
letter-spacing:.75pt;
font-style:italic;}
p.NoSpacing, li.NoSpacing, div.NoSpacing
{mso-style-name:"No Spacing";
mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph
{mso-style-name:"List Paragraph";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:36.0pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
p.Quote, li.Quote, div.Quote
{mso-style-name:Quote;
mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:black;
mso-ansi-language:EN-US;
font-style:italic;}
span.QuoteChar
{mso-style-name:"Quote Char";
color:black;
font-style:italic;}
p.IntenseQuote, li.IntenseQuote, div.IntenseQuote
{mso-style-name:"Intense Quote";
mso-style-next:Normal;
margin-top:10.0pt;
margin-right:46.8pt;
margin-bottom:14.0pt;
margin-left:46.8pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
border:none;
mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD .5pt;
padding:0cm;
mso-padding-alt:0cm 0cm 4.0pt 0cm;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#4F81BD;
mso-ansi-language:EN-US;
font-weight:bold;
font-style:italic;}
span.IntenseQuoteChar
{mso-style-name:"Intense Quote Char";
color:#4F81BD;
font-weight:bold;
font-style:italic;}
span.SubtleEmphasis
{mso-style-name:"Subtle Emphasis";
color:gray;
font-style:italic;}
span.IntenseEmphasis
{mso-style-name:"Intense Emphasis";
color:#4F81BD;
font-weight:bold;
font-style:italic;}
span.SubtleReference
{mso-style-name:"Subtle Reference";
font-variant:small-caps;
color:#C0504D;
text-decoration:underline;
text-underline:single;}
span.IntenseReference
{mso-style-name:"Intense Reference";
font-variant:small-caps;
color:#C0504D;
letter-spacing:.25pt;
font-weight:bold;
text-decoration:underline;
text-underline:single;}
span.BookTitle
{mso-style-name:"Book Title";
font-variant:small-caps;
letter-spacing:.25pt;
font-weight:bold;}
p.TOCHeading, li.TOCHeading, div.TOCHeading
{mso-style-name:"TOC Heading";
mso-style-parent:"Heading 1";
mso-style-next:Normal;
margin-top:24.0pt;
margin-right:0cm;
margin-bottom:0cm;
margin-left:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan lines-together;
page-break-after:avoid;
font-size:14.0pt;
font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#365F91;
mso-ansi-language:EN-US;
font-weight:bold;}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
/* List Definitions */
@list l0
{mso-list-id:117383046;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:-1264055630 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l0:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
ol
{margin-bottom:0cm;}
ul
{margin-bottom:0cm;}
–>
Pernahkah Anda
menemui seseorang yang begitu seringnya berjanji namun secepat itu pula ia
mengingkari? Bisa jadi teman Anda? Sahabat dekat Anda? Rekan bisnis Anda? Tidak
perlu dijawab jika yang berlaku seperti itu adalah musuh Anda.
Saya
pernah memiliki pengalaman dengan orang-orang seperti ini. Begini ceritanya.
Dahulu, saya pernah bersahabat atau katakanlah berteman dekat dengan salah
seorang teman kuliah. Ia begitu baik. Karena baiknya, ia rela melakukan apa
saja untuk membela saya mati-matian, tak peduli saya salah atau benar. Ia
selalu menfasilitasi dan menyediakan apa saja yang saya butuhkan. Sejujurnya,
saya senang dan merasa terbantu. Namun saya tidak menyadari bahwa ada bahaya
mengancam dibalik itu.
Awalnya,
keadaan baik-baik saja. Hingga suatu ketika, konflik terjadi diantara kami.
Begitu sulit keadaan waktu itu sehingga saya tidak henti-hentinya meminta maaf
dan meminta orang lain untuk bisa mendamaikan kami. Konflik sudah terjadi dan
bodohnya, saya tidak tahu karakter asli teman saya itu. Konflik yang begitu
berkepanjangan membuatnya menabuh genderang perang. Namun sesaat menjadi baik
kembali tanpa sebab, dan keesokan harinya kembali konflik lagi. Begitu
seterusnya sehingga saya merasa lelah.
Jauh
sebelum konflik terjadi, kami aman-aman saja. Jalan bersama, makan bersama,
bahkan jika ada kesempatan, kami dengan senang hati menghabiskan waktu untuk
bermain computer game bersama. Waktu itu, persahabatan ini terasa
abadi. Tak ada pengganggu dan tak akan ada yang bisa meretakkan kehangatan itu.
Kami
masing-masing berjanji akan menjaga rahasia kami masing-masing, sekalipun suatu
saat, walaupun tidak kami harapkan, kami sudah tidak akrab lagi. Segala
kebaikan yang dia berikan saya terima karena niat ikhlas yang ia katakan. Pun
sebaliknya.
Benar
kata pepatah “jika kau ingin mengetahui karakter asli seseorang, lihatlah ia
pada saat terjadi konflik.” Saya benar-benar mengalami langsung kebenaran
pepatah ini. Memang, manusia adalah makhluk yang sangat sulit ditebak. Namun,
siapa mengira seekor ayam bisa menjadi singa jika ia sedang marah?
Keadaannya
menjadi semakin rumit. Satu per satu orang terlibat dan ketika masalahnya
semakin besar, semuanya seperti balon udara yang siap dipecahkan: meledak. Masing-masing
kami mempersiapkan senjatanya masing-masing. Segala macam argumen kami
sediakan. Namun saat itu, sejujurnya saya tidak tahu senjata apa yang ia
gunakan. Saya hanya berusaha bertahan sambil sesedikit mungkin menjatuhkannya.
Tepat
ketika perang argumen terjadi, satu hal yang saya takutkan muncul juga, dan hal
tersebut ternyata dijadikan senjata olehnya. Hampir semua rahasia saya dibuka
olehnya. Sungguh, malu rasanya. Anda mungkin tidak bisa merasakan apa yang saya
rasakan pada saat itu, namun rasanya seperti baru saja melakukan sebuah dosa
dan tertangkap basah.
* * *
Anda
pernah mengalaminya? Saya berharap Anda tidak pernah mengalaminya. Namun jika
Anda pernah mengalaminya, anggap saja bahwa setidaknya Anda belajar darinya.
Tidak banyak orang berkarakter seperti itu di dunia ini, tetapi tetap saja ada.
Karakter yang sangat jarang kita temui. Dalam dunia fauna, bisa jadi karakter
ini disebut ‘predator’. Ia tega memakan bangsanya sendiri ketika sedang lapar
atau marah.
Saya
mengambil banyak sekali pelajaran dalam hidup saya. Orang lain, termasuk
sahabat saya, boleh saja membuka rahasia dan menjatuhkan saya di hadapan orang
lain dengan membuka aib dan kejelekan saya. Namun saya belajar bahwa sikap
positif yang muncul dari dalam diri kita mampu menangkal segala macam serangan
negatif dan tantangan untuk mengadakan ‘perang terbuka’. Dan saya masih
bersyukur bahwa saya masih memiliki sahabat terbaik yang ketika terjadi konflik
masih dapat menjaga rahasia. Itulah sahabat terbaik sepanjang masa. Saya
sarankan kepada Anda untuk menjadi sahabat seperti itu karena dengan begitu,
kita telah membuat hidup seseorang menjadi lebih bahagia. Berkorban untuk
kebahagiaan orang lain terasa nikmat jika kita mampu merasakan indahnya
persahabatan itu sendiri.
Yogyakarta, 9 Juni 2008
“Sahabat, oh sahabat…”
No Comments »
<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:Wingdings;
panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
mso-font-charset:2;
mso-generic-font-family:auto;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}
@font-face
{font-family:Calibri;
mso-font-alt:"Century Gothic";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:Cambria;
mso-font-alt:"Palatino Linotype";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle
{mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:15.0pt;
margin-left:0cm;
mso-pagination:widow-orphan;
border:none;
mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt;
padding:0cm;
mso-padding-alt:0cm 0cm 4.0pt 0cm;
font-size:26.0pt;
font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;
mso-ansi-language:EN-US;}
span.TitleChar
{mso-style-name:"Title Char";
mso-ansi-font-size:26.0pt;
mso-bidi-font-size:26.0pt;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;}
p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph
{mso-style-name:"List Paragraph";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:36.0pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
/* List Definitions */
@list l0
{mso-list-id:1861822303;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:1619192702 32693226 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l0:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
@list l1
{mso-list-id:1927227323;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:-276158362 -931728806 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l1:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
ol
{margin-bottom:0cm;}
ul
{margin-bottom:0cm;}
–>
Belum hilang keterkejutan saya dengan
naiknya BBM, kini saya harus terkejut lagi dengan peristiwa yang melibatkan FPI
(Front Pembela Islam) dan AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan
Berkeyakinan dan Beragama). Insiden yang cukup mengagetkan itu terjadi di
Monas, pusat dari Ibukota Jakarta. Beberapa personil FPI dituduh melakukan
tindak kekerasan kepada aktivis AKKBB. Pemukulan bahkan pencekikan pun konon
terjadi. Foto-foto yang terpampang di media massa seperti Tempo cukup membuat
saya terhenyak. Ah, begitu ‘kasar’kah FPI?
Penasaran, saya mencari sumber berita dari
internet. DetikCom adalah salah satunya. Saya mengikuti terus perkembangan
kasus FPI dan AKKBB. Sedikit demi sedikit, hari demi hari, banyak fakta
bermunculan. Bahkan FPI mampu memberikan bukti otentik berupa foto dan rekaman
video. Namun lagi-lagi saya kecewa, bukti otentik yang dimiliki FPI tersebut
tidak cukup untuk memproses hukum sebuah organisasi bernama AKKBB. Bahkan,
Habib Rizieq pun ditahan. Ada apa dengan hukum negara ini?
* *
*
Kita semua, termasuk saya, sudah mengetahui
fakta yang terjadi di lapangan. Jika kita bertanya ke dalam hati nurani kita
saat ini, siapa sebenarnya yang salah? Saya sejujurnya tidak tahu siapa yang
salah, namun sikap ksatria dari anggota FPI, terutama Habib Rizieq, menunjukkan
keseriusan FPI untuk menyelesaikan masalah ini. Di lain pihak, AKKBB seakan tak
tersentuh sama sekali.
Saya terkadang menjadi heran kepada setiap
orang yang menyalahkan FPI. Saya sendiri bukan anggota FPI, namun saya yakin
kita semua masih memiliki hati nurani yang dapat membedakan mana yang salah dan
mana yang benar. Kecuali informasi yang kita terima adalah hasil manipulasi
media, saya percaya bahwa kita semua masih memiliki hati untuk membedakan mana
yang salah dan mana yang benar.
Lagipula, peristiwa ini dipicu oleh
kehadiran JAI (Jamaah Ahmadiyah Indonesia) yang secara umum meresahkan
masyarakat. SKB (Surat Keputusan Bersama) 3 Menteri menyebutkan bahwa Ahmadiyah
dilarang melanjutkan aktifitasnya kembali atau mereka akan ditangkap. Namun
mereka tidak dibubarkan. Sebaliknya, desakan masyarakat ‘tertentu’ (saya beri
tanda petik karena kata tertentu disana memiliki makna khusus yakni mengarah
kepada sekelompok kecil) untuk membubarkan FPI begitu kuat. Ada apa gerangan
dengan hukum di Indonesia?
Beberapa milis yang saya ikuti cenderung
menyoroti lemahnya pemerintah dalam bertindak tegas terhadap Ahmadiyah.
Ahmadiyah telah jelas-jelas menodai Islam dengan aturan-aturannya yang baru.
Tidak sampai disitu, ia juga mengkafirkan umat Islam yang tidak memeluk ajaran
Ahmadiyah. Hal inilah yang telah menimbulkan keresahan di masyarakat kita. Fungsi
pemerintah yang seharusnya melindungi masyarakat justru mati. Pemerintah tak
sanggup lagi melindungi rakyatnya. Ia hanya asyik dengan persiapan menjelang
Pemilu 2009. Pemerintah hanya asyik mengumpulkan suara untuk menjadikan dirinya
menjabat lagi di pemilu mendatang.
* *
*
FPI, AKKBB dan Ahmadiyah. Tiga buah organisasi
yang berbeda. Jauh berbeda. Namun sepertinya ada yang mencoba untuk memancing
di air keruh. Ketiganya bisa dibilang organisasi keagamaan. FPI berlabelkan
Islam, Ahmadiyah pun mengaku Islam, dan AKKBB sebagian besar pendukungnya
adalah Islam. Namun mengapa kita sebagai umat Islam memiliki cerminan yang
buruk?
Saya sedih sekaligus kecewa dengan Gus Dur
yang selalu membuat kontroversi dimana-mana. Cukuplah mantan presiden yang satu
ini kita jadikan pelajaran. Dan semoga para pendukung fanatiknya menyadari
bahwa statement Gus Dur berpotensi melemahkan persatuan umat Islam. Apalagi
Banser yang selalu siap sedia membela Gus Dur. Jika boleh saya bertanya,
memangnya siapa Gus Dur itu? Malaikat kah? Nabi kah? Jika memang ya, maka NU
ala Gus Dur telah membuat kelompok sendiri yang jauh lebih berbahaya dari
Ahmadiyah.
Yogyakarta, 9 Juni 2008
“kita semua tahu dan mengerti tentang
keadilan, tapi terkadang ada orang-orang yang memendam keadilan itu dalam
hati.. hingga keadilan dalam hatinya pun mati…”
5 Comments »
Beberapa
hari yang lalu, saya menyempatkan diri untuk menonton film FITNA yang menjadi
‘tontonan’ dunia saat ini. Saya mendapatkan film tersebut dari salah satu
sumber yang memang sangat cepat dalam hal mendownload sesuatu yang baru. Saya
hanya penasaran saja. Film seperti apakah FITNA ini sehingga mampu menggerakkan
jutaan umat muslim di dunia untuk beraksi menentang penyebaran film ini?
Durasi film
ini tidak lebih dari 20 menit atau tepatnya 15 menit lebih sedikit. Pada
awalnya, saya mendapatkan film ini dalam bahasa Belanda, namun akhirnya saya
dapatkan juga versi bahasa inggrisnya. Saya copy ke dalam flashdisk dan saya
tonton di rumah, sepulang saya dari kantor. Sambil melepas lelah, saya buka
laptop saya dan mulai memutar film berjudul FITNA ini.
Kesan
pertama begitu mengerikan. Peristiwa 9 September yang menimpa gedung WTC di
Amerika Serikat menjadi lambang terorisme yang sepertinya ingin diangkat film
ini. Seorang wanita berteriak dan berkata bahwa dia kepanasan dan akan segera
mati. Tak kalah mengerikannya dengan yang terekam di layar: seseorang yang
sedang terjun dari lantai teringgi gedung WTC ini. Sungguh suatu pemandangan
yang mengerikan.
Berikutnya
adalah peledakan bom di sebuah stasiun kereta api bawah tanah. Peristiwa ini
juga sepertinya menggambarkan terorisme yang menjadi sumber ketakutan dunia
saat ini. Ledakan yang terjadi sepertinya sangat dahsyat hingga menggelapkan
suasana stasiun tersebut. Layar menjadi gelap untuk sementara.
Hingga akhir,
film ini ternyata menggambarkan kekerasan dan kekejaman Islam terhadap umat
lain, seperti Kristen dan terlebih-lebih Yahudi. Tak segan-segan, Wilders
memasukkan ceramah-ceramah berbau ‘kekerasan’ dan ‘terorisme’. Lebih jauh lagi,
Wilders mengambil ayat-ayat Al-Quran sepotong demi sepotong dan jelas yang
diambil adalah ayat-ayat yang menurutnya merupakan perintah berbuat kekerasan
dan terorisme. Sungguh ironis!
* * *
Jutaan
muslim dunia memprotes hadirnya film ini di dunia tanpa batas, internet.
YouTube bahkan sempat menolak video ini karena mengandung kebencian dan hasutan
terhadap golongan lainnya. Wilders pun mengetahui hal ini dan ia berjanji akan
tetap berusaha meluncurkan film buatannya itu ke internet, bagaimanapun
caranya.
Indonesia,
melalui Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) telah secara resmi
meminta YouTube untuk menghapus film FITNA yang berbau kebencian terhadap umat
Islam itu. Presiden pun memerintahkan untuk memblokir situs YouTube secara
nasional jika dalam waktu 3×24 jam tidak ada tanggapan atau aksi apapun dari
YouTube.
Tiga hari
telah terlewati dan situs YouTube pun tak bergeming. Konten video FITNA tetap
ada di server YouTube dan dapat di download oleh siapapun. Akhirnya, pemerintah
mengeluarkan edaran kepada penyedia jasa internet di seluruh Indonesia untuk bersama-sama
memblokir situs YouTube. Perintah ini pun dipatuhi. Sebagian besar penyedia
layanan internet (ISP) mulai memblokir situs YouTube, namun ada sebagian kecil
yang masih ‘membandel’ dan tetap menyediakan akses ke situs penyedia konten
multimedia terbesar itu.
* * *
Saya
melihat kasus FITNA dari sisi yang berbeda. Marah dan ‘mangkel’ memang ada.
Apalagi melihat agama saya diinjak-injak dan dilecehkan seperti itu. Namun
penyikapan kita haruslah tetap bijak. Jika penyikapan kita adalah penyikapan
yang reaksioner, anarkis, dan merusak, maka benarlah apa yang digambarkan
Wilders dalam filmnya itu. Dan FITNA bukan lagi suatu fitnah melainkan suatu
fakta.
Seorang
kyai kondang pernah bertanya, “Apakah kita marah dengan hadirnya film FITNA?”
Spontan semua jamaah menjawab serempak, “Marah!”. Lalu ia melanjutkan lagi:
Kyai (K): “Apakah ada yang tidak marah?”
Semuanya terdiam. Sepertinya semuanya marah.
K: “Jika Rasulullah hidup di zaman ini, sekarang ini, apakah
ia akan marah?”
Jamaah: “Tidak… Yaa..”
Sebagian menjawab tidak dan sebagian lagi menjawab ya.
K: “Baik, baik. Marah itu wajar dan tidak marah pun wajar.
Mengapa?”
Semua jamaah diam. Akhirnya sang Kyai pun melanjutkan,
K: “Jika saya pribadi.. ini saya pribadi lho, tidak akan
marah. Kenapa? Karena apa yang dilakukan Wilders itu kurang parah. Masa’ cuma
gambar Al-Quran dirobek, trus terorisme, trus ceramah-ceramah… waaah, itu sih
biasa. Menurut saya, harusnya lebih dari itu jika memang Wilders berniat
menyakiti umat Islam ini. Masa’ hanya dengan ‘tipuan murahan’ begitu kita bisa
marah? Bagaimana bisa?”
Semua jamaah masih terdiam. Ada yang manggut-manggut tanda setuju.
K: “Karena saya yakin keislaman kita semua kokoh dan tak
akan tergoyahkan hanya dengan film murahan seperti itu, buat apa marah? Yang
ada juga saya akan tertawa dan tersenyum sambil mbathin, ‘kok ada ya orang goblok kaya gitu?’ “
Jamaah pun akhirnya tertawa tergelak-gelak.
* * *
Sulit
memang menilai apakah film ala Wilders tersebut merupakan fitnah belaka atau
benar-benar fakta. Sebagian orang mungkin akan terpengaruh dengan film
tersebut; namun sebagian yang lain justru penasaran. Ada apa dengan Islam hingga ia begitu dibenci
dan direndahkan serta diinjak-injak. Jika Wilders mau berpikir lebih panjang,
dia sesungguhnya berada di dua tujuan yang berbeda dan bertolak belakang:
antara memusuhi Islam dan ‘mempromosikan’ Islam. Kedua tujuan itu terjadi hanya
dengan sekali berbuat: mengedarkan FITNA.
Satu hal
yang saya cermati dari perkembangan FITNA ini adalah bahwa FITNA ini telah
berhasil membuat beberapa puluh orang (mungkin ratusan atau ribuan, bisa jadi)
mengikrarkan diri untuk memeluk Islam. Beberapa kabar yang saya dapat dari
milis-milis menunjukkan adanya angka yang signifikan tentang jumlah orang yang tergerak
untuk mempelajari Islam lebih lanjut. Di sisi lain, banyak pula kalangan yang
merendahkan dan melecehkan Wilders sebagai pembuat film. Mengapa? Dengan film
tersebut, Wilders secara tidak langsung ‘mencoreng’ wajah dirinya (dan bisa
jadi agamanya) dengan menunjukkan mental rendahan seperti ini. Maksud hati
ingin menampakkan wajah Islam yang penuh teror, Wilders justru menampakkan
wajahnya (dan bisa jadi pula, wajah agamanya) yang penuh dengan intrik dan
fitnah.
Oleh karena
itu, saya ingin memberikan Wilders bersama film FITNA-nya itu beberapa
penghargaan. Pertama, penghargaan karena telah membantu umat Islam introspeksi
diri. Kedua, membantu orang lain belajar Islam dan menemukan seperti apa wajah
Islam sebenarnya. Dan ketiga, menunjukkan dengan sebenar-benarnya seperti apa
wujud orang-orang yang tidak ingin Islam rukun dengan agama lainnya.
Yogyakarta, April 2008
Wilders.. wilders… Benar-benar Wild kamu itu..
1 Comment »
Jika cinta adalah permata
Kucoba menjadi sinarnya
Jika cinta adalah mutiara
Kucoba menjadi kerangnya
Jika cinta adalah matahari
Kucoba menjadi planet yang mengitarinya
Matamu berbicara melalui hatiku
Seakan ingin mengucapkan, “Mengapa?”
Aku tak dapat menangkap itu
Tapi, hanya satu yang kucari
Melalui tatapan matamu
Dan itu kutemukan di akhir pertemuan
Kehidupan yang kita jalani
Kenangan yang bersemayam di hati
Kebersamaan yang mengikat diri
Hilang oleh jarak dan waktu
Kuingin kembali menikmatinya
Sekalipun tak mampu mengembalikannya
Yang aku harapkan
Kita dapat menemukan
Sebuah bunga di taman
Yang dahulu,
Kitalah yang menanamnya…
Yogyakarta, Maret 2008
"Untuk ‘Maria’ yang merindukan seorang ‘Fahri’.. saat itu pasti hadir, insya Allah.."
4 Comments »
Bisa jadi,
saya hanya menjiplak salah satu lagu yang liriknya hampir sama, ‘Antara Anyer
dan Jakarta,
aku jatuh cinta…’. Namun, mengapa ‘Anyer’ saya ganti menjadi ‘Jogja’ bukanlah
semata-mata karena perasaaan saya sama dengan perasaan si penyanyi atau
pencipta lagu. Lebih daripada itu, antara Jogja dan Jakarta menyimpan lebih banyak kisah daripada ‘Anyer dan Jakarta’.
Sejak akhir
Desember lalu, saya telah beberapa kali mengunjungi beberapa kota di Pulau Jawa ini. Mulai dari
Tasikmalaya, Ciamis, Purwokerto, Cilacap, Magelang, Solo, Semarang, Ngawi, Blora, Nganjuk, Lumajang
hingga Jember. Kota-kota tersebut menyimpan ciri khas tersendiri dalam hati
saya dan yang terpenting adalah hikmah serta ilmu yang saya dapat dari
perbedaan yang ada diantara suku-suku tersebut. Secara umum memang dikenal
dengan suku Jawa, namun sesama suku Jawa pun terdapat perbedaan yang
signifikan. Apalagi dengan Jawa Barat (Sunda) atau Jakarta (Betawi).
Saya tidak
ingin membahas terlalu jauh tentang perbedaan suku. Lagipula, terlalu banyak
orang yang salah mengartikan perbedaan tersebut menjadi perselisihan sehingga
kekayaan yang seharusnya kita lestarikan justru malah lenyap tak berbekas
berganti dengan ashobiyah
kesukuan. Biarlah ciri khas itu tetap ada karena dengan begitu, kita bisa
belajar tentang karakter dan budaya masing-masing suku yang unik dan istimewa.
* * *
Sudah
hampir 9 tahun saya tinggal di Jogja. Sejak lahir hingga SMU (kurang lebih 18
tahun), saya tinggal di Jakarta.
Kota yang penuh
dengan kebisingan dan hiruk-pikuk berbagai macam manusia mulai ujung Sabang
hingga Merauke. Jakarta
hampir bisa dibilang punya segalanya, termasuk budaya. Warung Kopi Aceh,
Kondektur dan sopir bis dari Medan, Warung Padang, Warung Tegal, Pecel Lele
Lamongan, Bakso Wonogiri, Mie Gunung Kidul, Roti Bakar Bandung, Serabi Solo,
Tahu Petis Semarang, bahkan tak ketinggalan makanan khas Jakarta yang kini mulai
dilupakan, Kerak Telor.
Perpindahan
ke Jogja membuat saya harus menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan di Jogja. Jakarta yang semula
bising dan ramai harus berganti dengan Jogja yang tenang dan damai. Jika kita
yang menunggu bis di Jakarta,
maka bis lah yang menunggu penumpang di Jogja. Bis di Jakarta tak pernah kosong kecuali tengah
malam atau siang bolong (saat jam kantor dan jam sekolah sudah masuk) sedangkan
bis di Jogja tak pernah penuh kecuali saat menjelang jam kerja/sekolah atau
pada saat pulang kerja/sekolah.
Banyak
perbedaan yang mencolok sehingga saya berkesimpulan bahwa hidup di Jogja merupakan
kebalikan dari hidup di Jakarta.
Jogja tak pernah, atau jika pernah maka sangat jarang sekali, macet
berkepanjangan seperti Jakarta.
Jogja tak pernah banjir besar hingga menghebohkan seluruh dunia, minimal
penduduk Indonesia.
Jogja tak pernah terjadi kerusuhan seperti halnya tetangganya, Solo. Jogja pun
menjadi salah satu kota terbersih yang pernah
saya lihat selama mengunjungi beberapa kota
di Pulau Jawa.
Namun
demikian, Jogja tidak memiliki perputaran uang yang cepat seperti halnya Jakarta. Bisnis besar
yang dibangun di Jogja bisa jadi hanya sepersekian dari bisnis biasa di Jakarta. Arus informasi
dan komunikasi pun tidak secepat di Jakarta dan Bandung. Dan satu hal
lagi yang begitu mencolok adalah penghargaan terhadap waktu. Di Jakarta, satu
menit bisa berarti hidup atau mati. Namun di Jogja, sepertinya penjual arloji
harus memiliki strategi yang jitu karena Jogja hampir-hampir “tidak disiplin”
terhadap waktu. Seperti kata Kafi Kurnia tentang Jogja dalam Seminar Anti
Marketing-nya, “Disini, Waktu Berhenti.”
* * *
Delapan
tahun saya mengkolaborasikan dua buah kultur yang berbeda dan hampir bertolak
belakang. Saya memang lahir dan besar di Jakarta,
namun saya memiliki darah Jogja. Saya pernah mengikuti seminar tentang budaya
jawa, filosofi serta makna di balik bahasa Jawa yang demikian halus dan
“tinggi” itu. Dibalik ‘pencarian’ itu, akhirnya saya sadar bahwa saya masih
memiliki warisan budaya yang sangat luhur, yaitu budaya kesultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat.
Sejak
itulah saya mulai mengamati budaya yang bersinggungan dengan saya silih
berganti. Budaya Sunda contohnya. Saya sangat mengagumi budaya Sunda yang
dibangun di atas budi pekerti dan sopan santun yang, menurut saya, hampir
menyamai kesopanan ‘abdi dalem’ Keraton Jogja. Budaya cium tangan kepada yang
lebih tua (termasuk orang tua) dipahami sebagai sebuah penghormatan dan bukan
kewajiban semata. Satu hal yang hingga saat ini belum dapat terwujud dan akan
menjadi target saya ke depan adalah menguasai bahasa Sunda. Menurut saya,
bahasa Sunda itu unik dan memiliki ciri khas tersendiri. Sangat menyenangkan
seandainya saya mampu berbahasa Sunda dengan fasih.
Terlepas
dari kekurangan masing-masing budaya dan bahasa serta suku, saya benar-benar
dibuat kagum oleh budaya-budaya tersebut. Saat Sunda menganggukkan dan
menundukkan kepala sebagai penghormatan, Jawa (Timur) tersenyum lebar dan riang
dengan gayanya yang memang supel. Dan Jogja berada diantaranya. Saat Sunda
mencium tangan orang yang lebih tua, Jawa (Timur) menjabatnya dengan hangat.
Dan Jogja pun berada diantaranya. Saat Sunda menyuguhkan teh pahit sebagai
hidangan pembuka, Jawa (Timur) menghidangkan teh manis sebagai welcome drink-nya. Lagi-lagi, Jogja
berada di antara kedua budaya tersebut.
* * *
Antara Jogja
dan Jakarta, Aku Jatuh Cinta…
Saya benar-benar jatuh cinta pada
budaya-budaya itu. Tak hanya Jakarta dan Jogja saja, namun budaya yang terletak diantaranya. Saya ingin memiliki
kesopanan orang Sunda, ketegasan orang Jakarta,
dan ketulusan orang Jogja. Saya ingin mengumpulkan kebaikan-kebaikan budaya
tersebut dalam diri saya. Saya tak akan pernah mendengarkan omongan orang
negatif yang menilai Jakarta,
Sunda atau Jawa hanya dari satu sisi saja. Toh, satu keburukan yang hendak diperbaiki
lebih bernilai daripada satu kebaikan yang dimanfaatkan untuk menjatuhkan budaya
lain.
Antara Jogja
dan Jakarta, Aku Jatuh Cinta…
Tak ada
lagi tempat di hati saya bagi orang-orang yang berkata bahwa orang Jakarta itu keras dan
kasar, orang Sunda itu materialistik, dan orang Jawa itu pendendam. Yang ada
hanyalah orang Jakarta
itu tegas dan terus terang, orang Sunda itu sangat peduli terhadap kesehatan
finansial, dan orang Jawa itu penyabar. Objek yang sama dipandang dari sisi
yang berbeda.
Antara Jogja
dan Jakarta, Aku Jatuh Cinta…
Pati, 9 – 10
Februari 2008
Iin: Tong hilap nya…
Wahyu: Panjenengan ngendiko bade maringi kulo teh anget, kesupen
nggih?
Ella: Ude inget belon lu, nyang nggenjot sepeda dari pantai
Temon 6 kilo ampe mo pingsan?
3 Comments »
|