Sesungguhnya
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.
janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah
baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang
dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar
dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar[1031].

Mengapa di waktu kamu
mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka
baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini
adalah suatu berita bohong yang nyata."

Mengapa mereka (yang
menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah
Karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi Maka mereka Itulah pada sisi Allah
orang- orang yang dusta.

Sekiranya tidak ada
kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya
kamu ditimpa azab yang besar, Karena pembicaraan kamu tentang berita bohong
itu.

(Ingatlah) di waktu
kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan
mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu
yang ringan saja. padahal dia pada sisi Allah adalah besar.

[An-Nuur: 11 – 15]

* * *

 Jika
Anda pernah membaca ayat ini dan meresapi maknanya, apalagi Anda seorang
muslim, Anda akan merasakan betapa kejahatan fitnah begitu besar. Bacalah Asbaabun Nuzuul (sebab-sebab
turunnya ayat) dari ayat ini. Anda akan temukan torehan sejarah yang sangat luar
biasa dan masih terjadi hingga saat ini. Anda akan temukan bagaimana Abdullah
bin Ubay bin Salul begitu sadis “menguliti” Ummul Mukminin Aisyah ra. dengan
fitnah yang diluar batas. Anda akan menangis terharu, jengkel, hingga melaknat
perbuatan seperti itu. Bagaimana bisa seorang laki-laki, yang fitrahnya
diciptakan untuk melindungi wanita, tega menyakiti hati wanita hingga relung
yang paling dalam?

 Bagaimanapun,
seorang wanita diciptakan teramat sangat lembut. Ia memiliki hati dan perasaan
yang lebih halus dari sutera, lebih sensitif dari tanaman putri malu, lebih
lembut dari bulu, dan lebih peka dari cermin. Sedangkan laki-laki, ia
diciptakan dalam bentuk yang sedemikian tangguh dan kuat, mampu menanggung
beban berat dan tanggung jawab yang besar. Setiap jenis memiliki keutamaannya
masing-masing.

 Allah
menciptakan laki-laki sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran,

Kaum laki-laki itu
adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian
mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka
(laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita
yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika
suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka)[290]. wanita-wanita
yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah
mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka
mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292].
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

[An-Nisaa: 34]

 Kelebihan
yang diberikan Allah kepada laki-laki justru merupakan beban tambahan bagi kaum
laki-laki. Pemimpin diatas berarti tanggung jawab dan tanggung jawab berarti
beban. Sehingga wanita adalah tanggung jawab laki-laki. Sebagaimana pimpinan
yang bertanggung jawab terhadap anak buahnya, maka wanita berada di bawah
perlindungan laki-laki.

 Islam
menghormati wanita sedemikian tingginya sampai-sampai Al-Quran banyak membahas
tentang wanita. Allah, melalui hikmah-Nya, ingin memberitahukan kepada kita
bahwa wanita adalah ‘istimewa’. Di satu sisi, ia dapat menjadi tiang agama, di
sisi lain ia pun dapat menghancurkan sebuah peradaban. Maka, wahai kaum
laki-laki, bersikaplah ksatria dengan tidak menjadikan wanita sebagai “sasaran
empuk” apapun, termasuk kekesalan, pelampiasan, hingga fitnah karena
ketidaksukaan. Laki-laki harus berhadapan dengan laki-laki.

* * *

 Kekejaman
terstruktur telah membuat Aisyah yang lembut hatinya menangis tanpa henti. Abdullah
bin Ubay bin Salul telah melakukannya bahkan kepada Rasulullah sendiri. Dan
hebatnya, Rasulullah hampir percaya! Suatu fitnah yang hebat! … Rasulullah pun
hampir menceraikan Aisyah…

 Sudah
sewajarnya kaum laki-laki melindungi wanita dimanapun ia berada. Kenal atau tidak
kenal. Seperti yang dilakukan oleh Shafwan (yang juga terkena fitnah Abdullah
bin Ubay bin Salul). Apa yang ia lakukan sungguh sebuah sikap ksatria. Ia
benar-benar menghormati Aisyah sebagai seorang wanita. Ia benar-benar
memberikan bantuan kepada Aisyah tanpa keinginan apapun.

 Tidak
heran jika Abdullah bin Ubay bin Salul, laki-laki yang melakukan kekejaman
terstruktur itu, seharusnya disebut banci. Seharusnya pula ia disebut
anak-anak. Atau lebih cocok dikatakan sebagai pengadu domba. Bahkan penjahat
wanita. Namun semua gelar itu sepertinya tak cukup. Hingga Allah memberikan
gelar yang pantas untuknya… Munafik.

 

Yogyakarta, 11 Desember 2007

Maha Suci Allah yang telah menciptakan Adam dan Hawa…

Maha Suci Allah pula yang telah menciptakan Abdullah bin Ubay
bin Salul, agar manusia dapat mengambil pelajaran darinya…

One Response to “Kekejaman Terstruktur dan Wanita”
  1. hmmm kalau begitu banyak donk yang bakal jadi banci kayak Abdullah bin Ubay bin Salul?;)

    how bad “it” is.

    beruntung ‘Aisya masih mempunyai pembela, Allah.
    gimana dengan yang bukan seberuntung ‘Aisya?

    sayangnya ‘Aisya cuma satu dan Abdullah bin Ubay bin Salul ada bejibun.

    i think penuduhan banci terlalu bagus, karena banci malah banyak yang lebih “care” ma wanita.

Leave a Reply