Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu
dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan
satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang. (Al-Hujuraat: 12)
* * *
Saya
terpaku membaca ayat ini. Sekali lagi. Sekali lagi. Dan akhirnya berkali-kali.
Entah telah berapa kali air mata ini menetes.. Ah, mereka, saudara-saudara
seiman yang begitu baik dan lucu-lucu. Mereka yang begitu penuh senyum dan
selalu menawarkan bantuan. Mereka yang tak pernah absen dalam acara yang
bertajuk dakwah. Mereka.. ah, hati ini serasa tak mampu menyebut nama mereka,
karena kebaikan-kebaikan dan jasa mereka terhadap diri saya yang tak mampu
berbuat apa-apa.
…
Hari
ini adalah hari yang baik bagi saya. Hari dimana matahari bersinar cerah. Hari
dimana siangnya hujan rintik-rintik membasahi jaket dan sedikit laptop yang terbungkus
dengan plastik. Hari dimana saya melihat burung-burung berkicau dan tersenyum
melihat anak-anaknya tumbuh besar. Hari dimana saya mengganti ban dalam motor dan
hari dimana salah seorang sahabat di asrama Dharmaputra, Ratno namanya, bersedia
berbagi dengan saya. Benar-benar hari yang indah.
Hari
ini pula adalah hari bersejarah. Hari dimana tampak kejelasan antara siang dan
malam. Hari dimana tampak jelas siapa teman dan siapa lawan. Hari dimana Allah
menampakkan sahabat dan penjahat. Sungguh, hari yang penuh dengan makna dan
hikmah…
Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari
kemarin, maka ia beruntung.
Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari
kemarin, maka ia merugi.
Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari
hari kemarin, maka ia celaka.
* * *
Hari
ini saya benar-benar bahagia. Allah telah memberikan hikmah yang banyak. Hari
ini saya benar-benar mendapatkan arti hidup yang sebenarnya. Hari ini saya merasakan
pengalaman baru dan luar biasa yang jarang didapat oleh orang seperti saya.
Anda tahu?
Sebagian
orang berlomba-lomba membuat fitnah yang nyata untuk menjatuhkan lawan
politiknya. Sebagian lagi membuat fitnah untuk menyingkirkan lawan bisnisnya. Sebagian
lagi memfitnah hanya untuk melindungi dirinya. Ada pula yang melakukan fitnah
hanya untuk mempertahankan jabatannya. Tapi pantaskah seorang yang memiliki
jabatan struktur dalam dakwah, apalagi seorang ketua, melakukan fitnah terhadap
saudaranya sesama aktifis dakwah tanpa mekanisme cross-check
terlebih dahulu? Allahu Rabbi,
sungguh luar biasa…
Anda
bisa bayangkan, seorang ketua, bahkan mas’ul dakwah, “mengadukan” sebuah
permasalah terkait dengan Anda TANPA membicarakan dahulu dengan Anda kebenaran
berita tersebut. Seorang ketua tersebut, tanpa mempertimbangkan efek baik dan
buruknya, meneruskan berita ini kepada orang lain yang justru akan semakin
menambah rumit masalah. Jika Anda menjadi saya, dan tentu saja Anda memegang
rahasia terpenting ketua tersebut, apa yang akan Anda lakukan? Balas dendam?
Ikut menyebarkan fitnah (atau tepatnya kebenaran tentang keburukannya) kepada
orang lain sehingga ia pun merasakan sakit yang sama? Meniru kelakuan
kekanak-kanakan seperti itu, dimana seorang anak yang tidak puas akan mengadu
pada orang tuanya? Subhanallah, Maha
Suci Allah…
Atas
nama jamaah (yang saya ragu ia sendiri tidak mengerti makna sebenarnya dari
jamaah), ia memakan daging saudaranya sendiri. Atas nama struktur, ia
membeberkan keburukan orang lain. Atas nama perbaikan, ia ceritakan
keburukan-keburukan itu, persis seperti presenter gosip di televisi. Seandainya
ia tahu bagaimana Rasulullah menyelesaikan masalah seperti ini… ya, seandainya
ia tahu… Namun saya tidak tahu apakah Sirah Nabawiyah miliknya telah dibaca
habis atau hanya penghias rak buku semata sebagai legalitas bahwa ia adalah
seorang ketua… Allah, lindungilah aku dari buruk sangka… Astaghfirullah…
Anda
dan saya, kita semua tahu bahwa sebutan untuk orang-orang seperti ini adalah …
pengecut. Sejujurnya, saya lebih takut menghadapi orang-orang pengecut seperti
ini. Orang-orang yang bermuka manis dan tersenyum di depan kita, namun diam-diam
ia menikam dari belakang. Orang-orang yang punya kekuasaan namun menggunakannya
untuk menyingkirkan orang lain; atau melindungi dirinya sendiri; atau mengharap
pujian; atau bahkan mempertahankan jabatannya karena sudah berprestasi menguak
keburukan orang lain….
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita
bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita
bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang
dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara
mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu
baginya azab yang besar. (An-Nuur: 11)
Ayat ini saya baca sesudah tak henti-hentinya
menangis di hadapan-Nya. Allah… ku tak peduli jika seluruh manusia membenciku,
asalkan Engkau ridho padaku.. itu sudah cukup bagiku.. yang aku takutkan adalah
bahwa aku mulai peduli kepada ridho manusia dan aku melupakan ridho-Mu…
* * *
(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong
itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu
ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. padahal
dia pada sisi Allah adalah besar. (An-Nuur: 15)
* * *
Dan pengecut itu
bernama… Kristiono Setyadi. Pengecut yang tidak berani bersikap tegas kepada
orang yang telah menikamnya. Pengecut yang tidak berani bersuara lantang
meninggikan kebenaran, hanya karena sistem yang tidak mengijinkan… Pengecut
yang tidak berdaya melawan kekuasaan, hanya karena kalah dalam pengaruh dan
kekuatan struktur… Namun pengecut ini, Kristiono Setyadi, masih berharap dan
akan selalu berharap pada satu kekuatan tanpa batas… ALLAH.
Laa hawlaa walaa quwwataa
illa biLLAH…
Yogyakarta, 10 Desember 2007
Rabighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii waafinii
wa fuannii…
Entries (RSS)
Tiap-tiap orang menempuh jalannya sendiri-sendiri, maka tuhanmu lebih Tahu siapa yang lebih benar jalannya…
Cara terbaik untuk ‘membalas’ kejahatan orang lain kepada kita, adalah dengan menunjukkan bahwa kita bisa JAUH lebih baik dari dia.
Apalagi jika kita berkesempatan membalasnya dengan kebaikan kepadanya, maka sebenarnya kita telah benar-benar mempermalukannya!
Tapi yang demikian biasanya tidak mudah, karena kita biasanya melihat permasalahan dari sudut pandang pribadi.
Only from The God glasses, you ‘ll know what should you do - not what you want to do. Then, you may see everything with no fault…
Habe Ich friendster?
Noch nich… *_*