Hari itu,
saya tidak dapat menghadiri pernikahan seorang sahabat dekat di Magelang.
Undangan yang bertepatan dengan ‘tugas negara’ – membantu orang tua bekerja –
membuat saya tak memiliki pilihan untuk hadir dalam pernikahannya. Sabtu pagi,
5 Januari 2008, yang menjadi hari bahagianya, harus saya lewati di atas gerbong
kereta yang membawa saya ke Jakarta.
Dalam perjalanan, saya banyak merenung. SMS yang sudah saya jadwalkan terkirim
tepat jam 9 pagi tidak dapat terkirim karena satu dan lain hal, termasuk pulsa.
Saya lupa mengisinya sebelum berangkat.

Sepanjang
perjalanan, saya banyak merenung. Walaupun mendapatkan teman baru dari Medan yang sangat
menyenangkan, saya tetap merenung di sela-sela jeda pembicaraan. Merenung tentang
perjalanan saat itu, merenung tentang masa lalu, saat ini dan masa depan. Merenung
tentang perjalanan hidup yang telah saya lalui dan akan saya lalui. Merenung
tentang ‘kejutan-kejutan’ yang akan terjadi dan tidak terduga sebelumnya.
Akhirnya, renungan saya semuanya bermuara pada satu titik: ada satu kekuasaan
yang berada di balik itu semua.

Saya
memikirkan tentang kecelakaan yang terjadi antara kereta api dengan kendaraan
lain yang tak sejenis. Kecelakaan seperti itu sering terjadi padahal kereta api
memiliki jalur tersendiri dan tak pernah sedikit pun mengambil jalan yang bukan
haknya, yaitu aspal milik motor dan mobil serta kendaraan sejenis. Saya
kemudian berpikir bahwa menjadi baik saja tidak cukup. Menjadi baik dan patuh,
seperti kereta api, pun berisiko rusak jika lingkungan dan kawan-kawan sekitar
rusak, seperti motor dan mobil yang tidak patuh terhadap aturan di perlintasan
kereta api.

Kemudian
saya berpikir tentang orang-orang yang berada di dalam kereta api. Ketika
tertidur, mereka semua terlihat sama: polos. Tidak ada wajah seram, buruk rupa,
jelek, dan tak menarik. Wajah cantik dan tampan pun terlihat biasa jika sedang
tertidur. Dari sini, saya berbicara dengan hati nurani saya bahwa pada
dasarnya, semua manusia itu baik. Mereka memiliki jiwa yang bersih dan hati
nurani yang polos. Hanya saja, ketika mereka terjaga, lagi-lagi lingkunganlah
yang membuat mereka bersikap berbeda. Saya yakin seorang berwajah garang pun
dapat tersenyum manis di hadapan orang yang dikasihinya sedangkan wajah secantik
apapun akan terlihat masam dan kusut jika dihadapkan pada situasi yang paling
dibencinya.

Saya
meloncat lagi, kali ini berpikir tentang hubungan sesama manusia. Bagaimana
manusia membentuk hubungan satu dengan yang lain amatlah menarik bagi saya. Paradigma
‘mau berhubungan asal sama-sama untung’ sepertinya tak berlaku dalam pandangan
saya saat itu. Manusia mau berhubungan dengan orang lain bukan karena
keuntungan semata; saya lebih memilih menggunakan kata ‘kebutuhan’, karena pada
dasarnya manusia butuh berbicara dan mendengarkan. Dengan begitu, manusia
merasa hidup.

Banyak
renungan-renungan yang kadang suram, samar, terang, bahagia, hingga liar
sekalipun. Namun jika kebanyakan orang tak habis pikir mengapa semua itu
terjadi, saya justru selalu berpikir semua itu harus terjadi (“mengapa tidak?”
begitu pikir saya). Kita belajar darinya. Baik dan buruk hanyalah persepsi kita
tentang sesuatu. Benar bahwa kita tak dapat mengubah keadaan di luar diri kita,
namun kita tetap punya pilihan untuk menentukan sikap kita. Baik dan buruk,
bagus dan jelek, enak dan tidak enak hanyalah persepsi sementara orang terhadap
kejadian saat itu. Anda bisa buka kembali album dan buku kenangan Anda. Anda
akan temukan bahwa kejadian buruk yang menimpa Anda saat itu akan menjadi sesuatu
yang berharga saat ini. Kehilangan sesuatu atau seseorang yang Anda cintai di
masa lalu, contohnya, akan membuat Anda lebih tegar dan kuat saat ini.

Renungan
saya kembali kepada sahabat saya, Arifatun Anifah Setyawati, yang menikah Sabtu
pagi. Sudah banyak interaksi yang terjalin selama ini. Saya berpikir bahwa itu
semua bukan atas dasar keuntungan semata. Hubungan kami tetap baik walaupun ada
beberapa proyek bisnis yang gagal kami laksanakan. Jika Aan – nama panggilannya
– dan saya berpikir tentang keuntungan, kami mungkin sudah melupakan satu sama
lain.

Saya lalu
berpikir tentang diri saya sendiri. Tentang kejadian yang hadir dalam kehidupan
saya. Tentang ujian berat yang harus saya hadapi serta nikmat yang harus saya
syukuri. Saya menghitung berapa banyak perbandingan antara kenikmatan yang saya
terima dengan kesulitan yang saya derita. Hasilnya sepertinya mengejutkan diri
saya. Tak ada alasan bagi saya untuk mengeluh dan tak mampu berbuat. Walau
terkadang saya merasa tak berharga dan jatuh, saya sejenak menyadari bahwa saya
dikaruniai begitu banyak kenikmatan, hingga saya lelah menghitungnya, dan
tertidur.

(saya lupa apakah saya melanjutkan hitungan saya dalam
mimpi, jadi jangan tanyakan berapa banyak nikmat yang saya dapatkan.)

* * *

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu.
Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang Mengetahui.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari
karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, dia
memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan
dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah
matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang mempergunakan akalnya.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila dia memanggil
kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).

(Ar-Ruum: 21 – 35)

* * *

Kekuasaan
itu ada dan akan selalu ada. Ketika kita terbangun, tertidur, bekerja, terdiam,
merenung, bahkan melakukan kejahatan pun, kekuasaan itu akan selalu ada dan
hadir dalam hati kita. Kekuasaan itulah yang mencegah manusia saling membunuh sesamanya.
Kekuasaan itulah yang menimbulkan rasa cinta sesama manusia. Kekuasaan itulah
yang membuat kita tegar dan sabar menghadapi beratnya hidup. Pun ketika
seseorang melaksanakan niat jahatnya, kekuasaan itulah yang telah menimbulkan
penyesalan dalam diri. Dan akhirnya, kekuasaan itulah yang akhirnya telah
menikahkan sahabat saya Aan dengan seorang laki-laki yang sangat dicintainya.

 

Jakarta, 7 Januari 2008

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya pula, saya telah selesai
menuliskan pengalaman singkat ini untuk Anda karena saya ingin berbagi betapa
indahnya hidup tanpa rasa benci dan dendam. Betapa lapangnya hidup tanpa buruk
sangka, iri dan dengki. Dan betapa bahagianya hidup jika dikelilingi oleh
orang-orang yang kita cintai…

Leave a Reply