Hijjaz,
dalam nasyidnya yang berjudul “Lukisan Alam”, mengajarkan pada saya untuk
selalu memahami bahwa hidup tidak selalu indah. Saya mengalami masa-masa dimana
kesulitan dan ujian yang begitu berat seakan merenggut dan menghancurkan sikap
positif saya. Banyak kesempatan, mungkin di hampir setiap kesempatan, saya
kembali kepada sikap negatif dan tidak percaya diri. Saya putus asa dan putus
harapan. Tak ada lagi yang dapat dijadikan sandaran, padahal saya telah berjanji
untuk menyerahkan semua pada-Nya. Namun, yah, Anda pasti pernah merasakannya, kan? Kira-kira seperti
itulah kondisinya.

Allah
memiliki banyak cara untuk mengingatkan dan mengajarkan hamba-Nya tentang arti
kesabaran dan keteguhan.  Melalui
berbagai ujian, kita dihadapkan pada berbagai pilihan yang terkadang bukan
antara mudah dan sulit; tetapi justru sulit dan sulit. Melalui nikmat pun, kita
dihadapkan pada berbagai pilihan yang mudah dan mudah; untuk menguji kita mana
diantara pilihan kita yang terjauh dari dosa.

Hidup tidak selalunya
indah, langit tak selalu cerah

Suram malam tak
berbintang, itulah lukisan alam

Dalam suka hitunglah
kesyukuranmu

Dalam senang awasi
kealpaanmu

Setitis derita
melanda, segunung kurniaan-Nya

Terkadang kita hanya ingat pada-Nya saat kita sedang dilanda
kesusahan. Ingat pun hanya sebatas ‘ingat’ yang hanya mampu membawa kita keluar
dari masalah. Jarang kita menghitung dan mengingat betapa banyaknya nikmat yang
telah Allah berikan pada saat suka dan senang. Bahkan dalam kondisi sulit pun,
masih banyak nikmat yang seharusnya kita syukuri.

Usah mengharapkan
kesenangan

Dalam perjuangan penuh
pengorbanan

Usah dendam
berpanjangan

maafkan kesalahan
insan

begitu ajaran Tuhan

Hidup adalah perjuangan tanpa henti (setidaknya begitu kata
Dewa 19). Perjuangan yang membutuhkan jiwa besar bahwa tak akan ada kenikmatan
yang berlangsung lama. Tak akan ada ranjang yang empuk. Tak akan ada bidadari
yang mendampingi. Juga tak akan ada perhiasan yang mengkilap. Semuanya hanya
ada setelah perjuangan selesai; itupun jika perjuangan kita meraih kemenangan.
Lalu buat apa mendendam pada manusia padahal hidup ini sangatlah singkat?

Dalam diam taburkanlah
baktimu

Dalam tenang,
buangkanlah amarahmu

Suburkanlah sifat
sabar dalam jiwamu itu

Sabar dan syukur adalah bagian dari agama. Rasulullah pernah
bersabda, “Alangkah baiknya urusan kaum
muslimin itu. Apabila ia ditimpa musibah dan ia bersabar, maka itu baik
baginya. Dan apabila ia diberi nikmat dan ia bersyukur, maka itu baik pula
baginya…”

Dan ketika kita mampu untuk bersabar dan bersyukur atas apa
yang telah menjadi ketentuan-Nya, akan terlaksana janji Allah yang akan
memberikan “jalan keluar yang tiada disangka-sangka”. Saya benar-benar bersaksi
bahwa “jalan keluar yang tiada disangka-sangka” itu sungguh ada. Dan saya
merasa telah mendapatkannya…

 

Tasikmalaya, 20
Januari 2008

Banyak jalan menuju
Roma, termasuk tersentuhnya hati saya mendengar dendang Asma’ul Husna yang
dikumandangkan bersama oleh siswa-siswi MAN Awipari, Tasikmalaya

2 Responses to “Jalan Keluar yang Tiada Disangka-sangka”
  1. hallo bang.
    saya sangat senang bisa masuk ke Blogg Abang. waduh salam kenal ya. btw abang biasa maen chat nda kalo kirim emailnya bang ke subhan_fmn@yahoo.co.id

  2. Terima kasih Subhan. Senang juga rasanya bermanfaat buat orang lain :) Saya setiap hari online. Silahkan add saya di:
    viaris@yahoo.com

Leave a Reply