Sebagian
orang, kebanyakan mungkin, lebih memilih sistem operasi Microsoft Windows
daripada sistem operasi lain, seperti Apple Macintosh atau UNIX/Linux. MS
Windows sudah sangat umum digunakan karena kemudahannya. Saya sendiri secara
pribadi belum pernah memiliki Macintosh. Namun Anda mungkin sudah tahu ‘siapa’
itu Linux.

Beberapa
hari yang lalu, saya menginstall laptop saya dengan Linux Debian untuk AMD64
(karena laptop saya menggunakan Turion 64bit). Instalasi sepertinya tidak ada
masalah. Selesai instalasi, semuanya berjalan lancar. Hingga suatu saat, saya
hendak mencoba online
menggunakan Debian baru saya. Duh! Kartu Wifi saya tidak terdeteksi oleh
Debian. Hanya kartu jaringan (LAN Card)
saja yang terdeteksi, itupun bukan sebagai wireless.
Dimana lagi saya harus mencari resource
terbaik selain internet? Saya gunakan kembali Windows XP saya dan mulai googling dengan kata kunci ‘atheros wireless install driver’.
Google menunjukkan banyak hasil namun beberapa ada yang relevan. Saya klik
salah satunya.

Artikel
demi artikel saya baca. Semuanya mengarah kepada satu sumber: driver Atheros,
yaitu kartu Wifi saya. Jika di Windows driver
tersebut sudah tersedia, namun tidak di Linux. Itulah asyiknya (atau susahnya?
Yah, setiap orang memiliki cara pandang masing-masing). Saya terus membaca dan
membaca. Penjelasan teknis yang sangat rumit membuat saya menyadari mengapa
sebagian pemula menjadi putus asa dan menyerah lalu kembali ke Windows tanpa
bertekad mempelajari Linux lebih lanjut. Namun saya pun menyadari bahwa Linux
memang seperti itu. Sangat teknis dan ‘ilmiah’. Disitulah letak tantangannya.

Dari
penjelasan tersebut akhirnya saya dibawa kepada satu driver Atheros yang sudah
sangat terkenal di dunia Linux: Madwifi.
Driver ini cukup stabil untuk dua buah arsitektur yang berbeda yaitu Intel dan
AMD. Madwifi juga mendukung Cyrix, Sparc, dan sistem operasi lainnya. Anda
dapat mendapatkan driver ini
secara gratis melalui situs www.madwifi.org.

Selesai download, saya coba boot kembali Linux saya. Sebagaimana
lazimnya, Anda harus meng-compile
sendiri source Madwifi
tersebut dan memasukkannya sebagai modul ke dalam kernel. Walaupun binary-nya sudah tersedia, saya
sarankan untuk meng-compile
langsung dari source-nya
dengan alasan integrasi dengan sistem Anda. Anda tinggal menggunakan perintah make dan semua modul yang
dibutuhkan akan tersedia dalam beberapa detik (dengan asumsi proses compiling Anda tidak terjadi kesalahan.
Jika ada, benarkan terlebih dahulu lalu compile
kembali).

Modul sudah tersedia dan saya load ke dalam memory dengan menggunakan modprobe. Saya tunggu beberapa saat
namun tidak terjadi apa-apa. Indikator network di pojok kanan atas menandakan
bahwa laptop saya tetap tidak terkoneksi. Kartu Atheros pun tidak terdeteksi
padahal modul ath_pci
sudah di-load dengan baik. Ada apa lagi? Saya
andalkan Google untuk mencari penyebabnya.

Linux memang berbeda dengan Windows,
namun saya baru menyadari bahwa switch
Wifi yang ada di panel depan laptop saya (Acer Aspire 5051) mengendalikan aktif
atau tidaknya kartu Wifi. Duh! (lagi!) Bagaimana cara saya mengaktifkan kartu
Wifi padahal Linux tidak dapat mendeteksi switch
yang ada di panel depan? Lagi-lagi saya menemukan jawabannya dalam beberapa
detik menggunakan Google. Anda yang sudah mengalami peristiwa ini mungkin
tersenyum-senyum dan berpikir betapa bodohnya saya. Bagi Anda yang belum
mengetahuinya, saya akan beritahu Anda jawabannya: acer_acpi.

Lalu, apa saja yang dibutuhkan untuk
berinternet ria melalui fasilitas hotspot dengan menggunakan Linux? Jika Anda
mengalami kesulitan, Anda dapat terus mengikuti pengalaman pribadi saya
sendiri.

 

Yogyakarta, 18 January 2008

Part 1…

Leave a Reply