Bisa jadi,
saya hanya menjiplak salah satu lagu yang liriknya hampir sama, ‘Antara Anyer
dan Jakarta,
aku jatuh cinta…’. Namun, mengapa ‘Anyer’ saya ganti menjadi ‘Jogja’ bukanlah
semata-mata karena perasaaan saya sama dengan perasaan si penyanyi atau
pencipta lagu. Lebih daripada itu, antara Jogja dan Jakarta menyimpan lebih banyak kisah daripada ‘Anyer dan Jakarta’.
Sejak akhir
Desember lalu, saya telah beberapa kali mengunjungi beberapa kota di Pulau Jawa ini. Mulai dari
Tasikmalaya, Ciamis, Purwokerto, Cilacap, Magelang, Solo, Semarang, Ngawi, Blora, Nganjuk, Lumajang
hingga Jember. Kota-kota tersebut menyimpan ciri khas tersendiri dalam hati
saya dan yang terpenting adalah hikmah serta ilmu yang saya dapat dari
perbedaan yang ada diantara suku-suku tersebut. Secara umum memang dikenal
dengan suku Jawa, namun sesama suku Jawa pun terdapat perbedaan yang
signifikan. Apalagi dengan Jawa Barat (Sunda) atau Jakarta (Betawi).
Saya tidak
ingin membahas terlalu jauh tentang perbedaan suku. Lagipula, terlalu banyak
orang yang salah mengartikan perbedaan tersebut menjadi perselisihan sehingga
kekayaan yang seharusnya kita lestarikan justru malah lenyap tak berbekas
berganti dengan ashobiyah
kesukuan. Biarlah ciri khas itu tetap ada karena dengan begitu, kita bisa
belajar tentang karakter dan budaya masing-masing suku yang unik dan istimewa.
* * *
Sudah
hampir 9 tahun saya tinggal di Jogja. Sejak lahir hingga SMU (kurang lebih 18
tahun), saya tinggal di Jakarta.
Kota yang penuh
dengan kebisingan dan hiruk-pikuk berbagai macam manusia mulai ujung Sabang
hingga Merauke. Jakarta
hampir bisa dibilang punya segalanya, termasuk budaya. Warung Kopi Aceh,
Kondektur dan sopir bis dari Medan, Warung Padang, Warung Tegal, Pecel Lele
Lamongan, Bakso Wonogiri, Mie Gunung Kidul, Roti Bakar Bandung, Serabi Solo,
Tahu Petis Semarang, bahkan tak ketinggalan makanan khas Jakarta yang kini mulai
dilupakan, Kerak Telor.
Perpindahan
ke Jogja membuat saya harus menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan di Jogja. Jakarta yang semula
bising dan ramai harus berganti dengan Jogja yang tenang dan damai. Jika kita
yang menunggu bis di Jakarta,
maka bis lah yang menunggu penumpang di Jogja. Bis di Jakarta tak pernah kosong kecuali tengah
malam atau siang bolong (saat jam kantor dan jam sekolah sudah masuk) sedangkan
bis di Jogja tak pernah penuh kecuali saat menjelang jam kerja/sekolah atau
pada saat pulang kerja/sekolah.
Banyak
perbedaan yang mencolok sehingga saya berkesimpulan bahwa hidup di Jogja merupakan
kebalikan dari hidup di Jakarta.
Jogja tak pernah, atau jika pernah maka sangat jarang sekali, macet
berkepanjangan seperti Jakarta.
Jogja tak pernah banjir besar hingga menghebohkan seluruh dunia, minimal
penduduk Indonesia.
Jogja tak pernah terjadi kerusuhan seperti halnya tetangganya, Solo. Jogja pun
menjadi salah satu kota terbersih yang pernah
saya lihat selama mengunjungi beberapa kota
di Pulau Jawa.
Namun
demikian, Jogja tidak memiliki perputaran uang yang cepat seperti halnya Jakarta. Bisnis besar
yang dibangun di Jogja bisa jadi hanya sepersekian dari bisnis biasa di Jakarta. Arus informasi
dan komunikasi pun tidak secepat di Jakarta dan Bandung. Dan satu hal
lagi yang begitu mencolok adalah penghargaan terhadap waktu. Di Jakarta, satu
menit bisa berarti hidup atau mati. Namun di Jogja, sepertinya penjual arloji
harus memiliki strategi yang jitu karena Jogja hampir-hampir “tidak disiplin”
terhadap waktu. Seperti kata Kafi Kurnia tentang Jogja dalam Seminar Anti
Marketing-nya, “Disini, Waktu Berhenti.”
* * *
Delapan
tahun saya mengkolaborasikan dua buah kultur yang berbeda dan hampir bertolak
belakang. Saya memang lahir dan besar di Jakarta,
namun saya memiliki darah Jogja. Saya pernah mengikuti seminar tentang budaya
jawa, filosofi serta makna di balik bahasa Jawa yang demikian halus dan
“tinggi” itu. Dibalik ‘pencarian’ itu, akhirnya saya sadar bahwa saya masih
memiliki warisan budaya yang sangat luhur, yaitu budaya kesultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat.
Sejak
itulah saya mulai mengamati budaya yang bersinggungan dengan saya silih
berganti. Budaya Sunda contohnya. Saya sangat mengagumi budaya Sunda yang
dibangun di atas budi pekerti dan sopan santun yang, menurut saya, hampir
menyamai kesopanan ‘abdi dalem’ Keraton Jogja. Budaya cium tangan kepada yang
lebih tua (termasuk orang tua) dipahami sebagai sebuah penghormatan dan bukan
kewajiban semata. Satu hal yang hingga saat ini belum dapat terwujud dan akan
menjadi target saya ke depan adalah menguasai bahasa Sunda. Menurut saya,
bahasa Sunda itu unik dan memiliki ciri khas tersendiri. Sangat menyenangkan
seandainya saya mampu berbahasa Sunda dengan fasih.
Terlepas
dari kekurangan masing-masing budaya dan bahasa serta suku, saya benar-benar
dibuat kagum oleh budaya-budaya tersebut. Saat Sunda menganggukkan dan
menundukkan kepala sebagai penghormatan, Jawa (Timur) tersenyum lebar dan riang
dengan gayanya yang memang supel. Dan Jogja berada diantaranya. Saat Sunda
mencium tangan orang yang lebih tua, Jawa (Timur) menjabatnya dengan hangat.
Dan Jogja pun berada diantaranya. Saat Sunda menyuguhkan teh pahit sebagai
hidangan pembuka, Jawa (Timur) menghidangkan teh manis sebagai welcome drink-nya. Lagi-lagi, Jogja
berada di antara kedua budaya tersebut.
* * *
Antara Jogja
dan Jakarta, Aku Jatuh Cinta…
Saya benar-benar jatuh cinta pada
budaya-budaya itu. Tak hanya Jakarta dan Jogja saja, namun budaya yang terletak diantaranya. Saya ingin memiliki
kesopanan orang Sunda, ketegasan orang Jakarta,
dan ketulusan orang Jogja. Saya ingin mengumpulkan kebaikan-kebaikan budaya
tersebut dalam diri saya. Saya tak akan pernah mendengarkan omongan orang
negatif yang menilai Jakarta,
Sunda atau Jawa hanya dari satu sisi saja. Toh, satu keburukan yang hendak diperbaiki
lebih bernilai daripada satu kebaikan yang dimanfaatkan untuk menjatuhkan budaya
lain.
Antara Jogja
dan Jakarta, Aku Jatuh Cinta…
Tak ada
lagi tempat di hati saya bagi orang-orang yang berkata bahwa orang Jakarta itu keras dan
kasar, orang Sunda itu materialistik, dan orang Jawa itu pendendam. Yang ada
hanyalah orang Jakarta
itu tegas dan terus terang, orang Sunda itu sangat peduli terhadap kesehatan
finansial, dan orang Jawa itu penyabar. Objek yang sama dipandang dari sisi
yang berbeda.
Antara Jogja
dan Jakarta, Aku Jatuh Cinta…
Pati, 9 – 10
Februari 2008
Iin: Tong hilap nya…
Wahyu: Panjenengan ngendiko bade maringi kulo teh anget, kesupen
nggih?
Ella: Ude inget belon lu, nyang nggenjot sepeda dari pantai
Temon 6 kilo ampe mo pingsan?
Entries (RSS)
mmm….boleh…boleh…
ga lupa kok teh angetnya…
apalagi dah baca poster buat hari ahad khan? (lhoh???)
Asik lah kalo gitu, dapet teh anget gratis meskipun harus menempuh puluhan kilometer dulu ;P
Hari Ahad dah baca posternya, tapi ga bisa dateng .. Tolong ijinin ke ustadznya ya
Ya..ya..ya, generalisasi dan stereotype pada suku tertentu memang menyebalkan..It depends on each personal or individual, right?