Beberapa
hari yang lalu, saya menyempatkan diri untuk menonton film FITNA yang menjadi
‘tontonan’ dunia saat ini. Saya mendapatkan film tersebut dari salah satu
sumber yang memang sangat cepat dalam hal mendownload sesuatu yang baru. Saya
hanya penasaran saja. Film seperti apakah FITNA ini sehingga mampu menggerakkan
jutaan umat muslim di dunia untuk beraksi menentang penyebaran film ini?

Durasi film
ini tidak lebih dari 20 menit atau tepatnya 15 menit lebih sedikit. Pada
awalnya, saya mendapatkan film ini dalam bahasa Belanda, namun akhirnya saya
dapatkan juga versi bahasa inggrisnya. Saya copy ke dalam flashdisk dan saya
tonton di rumah, sepulang saya dari kantor. Sambil melepas lelah, saya buka
laptop saya dan mulai memutar film berjudul FITNA ini.

Kesan
pertama begitu mengerikan. Peristiwa 9 September yang menimpa gedung WTC di
Amerika Serikat menjadi lambang terorisme yang sepertinya ingin diangkat film
ini. Seorang wanita berteriak dan berkata bahwa dia kepanasan dan akan segera
mati. Tak kalah mengerikannya dengan yang terekam di layar: seseorang yang
sedang terjun dari lantai teringgi gedung WTC ini. Sungguh suatu pemandangan
yang mengerikan.

Berikutnya
adalah peledakan bom di sebuah stasiun kereta api bawah tanah. Peristiwa ini
juga sepertinya menggambarkan terorisme yang menjadi sumber ketakutan dunia
saat ini. Ledakan yang terjadi sepertinya sangat dahsyat hingga menggelapkan
suasana stasiun tersebut. Layar menjadi gelap untuk sementara.

Hingga akhir,
film ini ternyata menggambarkan kekerasan dan kekejaman Islam terhadap umat
lain, seperti Kristen dan terlebih-lebih Yahudi. Tak segan-segan, Wilders
memasukkan ceramah-ceramah berbau ‘kekerasan’ dan ‘terorisme’. Lebih jauh lagi,
Wilders mengambil ayat-ayat Al-Quran sepotong demi sepotong dan jelas yang
diambil adalah ayat-ayat yang menurutnya merupakan perintah berbuat kekerasan
dan terorisme. Sungguh ironis!

* * *

Jutaan
muslim dunia memprotes hadirnya film ini di dunia tanpa batas, internet.
YouTube bahkan sempat menolak video ini karena mengandung kebencian dan hasutan
terhadap golongan lainnya. Wilders pun mengetahui hal ini dan ia berjanji akan
tetap berusaha meluncurkan film buatannya itu ke internet, bagaimanapun
caranya.

    Indonesia,
melalui Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) telah secara resmi
meminta YouTube untuk menghapus film FITNA yang berbau kebencian terhadap umat
Islam itu. Presiden pun memerintahkan untuk memblokir situs YouTube secara
nasional jika dalam waktu 3×24 jam tidak ada tanggapan atau aksi apapun dari
YouTube.

Tiga hari
telah terlewati dan situs YouTube pun tak bergeming. Konten video FITNA tetap
ada di server YouTube dan dapat di download oleh siapapun. Akhirnya, pemerintah
mengeluarkan edaran kepada penyedia jasa internet di seluruh Indonesia untuk bersama-sama
memblokir situs YouTube. Perintah ini pun dipatuhi. Sebagian besar penyedia
layanan internet (ISP) mulai memblokir situs YouTube, namun ada sebagian kecil
yang masih ‘membandel’ dan tetap menyediakan akses ke situs penyedia konten
multimedia terbesar itu.

* * *

Saya
melihat kasus FITNA dari sisi yang berbeda. Marah dan ‘mangkel’ memang ada.
Apalagi melihat agama saya diinjak-injak dan dilecehkan seperti itu. Namun
penyikapan kita haruslah tetap bijak. Jika penyikapan kita adalah penyikapan
yang reaksioner, anarkis, dan merusak, maka benarlah apa yang digambarkan
Wilders dalam filmnya itu. Dan FITNA bukan lagi suatu fitnah melainkan suatu
fakta.

Seorang
kyai kondang pernah bertanya, “Apakah kita marah dengan hadirnya film FITNA?”
Spontan semua jamaah menjawab serempak, “Marah!”. Lalu ia melanjutkan lagi:

Kyai (K): “Apakah ada yang tidak marah?”

Semuanya terdiam. Sepertinya semuanya marah.

K: “Jika Rasulullah hidup di zaman ini, sekarang ini, apakah
ia akan marah?”

Jamaah: “Tidak… Yaa..”

Sebagian menjawab tidak dan sebagian lagi menjawab ya.

K: “Baik, baik. Marah itu wajar dan tidak marah pun wajar.
Mengapa?”

Semua jamaah diam. Akhirnya sang Kyai pun melanjutkan,

K: “Jika saya pribadi.. ini saya pribadi lho, tidak akan
marah. Kenapa? Karena apa yang dilakukan Wilders itu kurang parah. Masa’ cuma
gambar Al-Quran dirobek, trus terorisme, trus ceramah-ceramah… waaah, itu sih
biasa. Menurut saya, harusnya lebih dari itu jika memang Wilders berniat
menyakiti umat Islam ini. Masa’ hanya dengan ‘tipuan murahan’ begitu kita bisa
marah? Bagaimana bisa?”

Semua jamaah masih terdiam. Ada yang manggut-manggut tanda setuju.

K: “Karena saya yakin keislaman kita semua kokoh dan tak
akan tergoyahkan hanya dengan film murahan seperti itu, buat apa marah? Yang
ada juga saya akan tertawa dan tersenyum sambil mbathin, ‘kok ada ya orang goblok kaya gitu?’ “

Jamaah pun akhirnya tertawa tergelak-gelak.

* * *

Sulit
memang menilai apakah film ala Wilders tersebut merupakan fitnah belaka atau
benar-benar fakta. Sebagian orang mungkin akan terpengaruh dengan film
tersebut; namun sebagian yang lain justru penasaran. Ada apa dengan Islam hingga ia begitu dibenci
dan direndahkan serta diinjak-injak. Jika Wilders mau berpikir lebih panjang,
dia sesungguhnya berada di dua tujuan yang berbeda dan bertolak belakang:
antara memusuhi Islam dan ‘mempromosikan’ Islam. Kedua tujuan itu terjadi hanya
dengan sekali berbuat: mengedarkan FITNA.

Satu hal
yang saya cermati dari perkembangan FITNA ini adalah bahwa FITNA ini telah
berhasil membuat beberapa puluh orang (mungkin ratusan atau ribuan, bisa jadi)
mengikrarkan diri untuk memeluk Islam. Beberapa kabar yang saya dapat dari
milis-milis menunjukkan adanya angka yang signifikan tentang jumlah orang yang tergerak
untuk mempelajari Islam lebih lanjut. Di sisi lain, banyak pula kalangan yang
merendahkan dan melecehkan Wilders sebagai pembuat film. Mengapa? Dengan film
tersebut, Wilders secara tidak langsung ‘mencoreng’ wajah dirinya (dan bisa
jadi agamanya) dengan menunjukkan mental rendahan seperti ini. Maksud hati
ingin menampakkan wajah Islam yang penuh teror, Wilders justru menampakkan
wajahnya (dan bisa jadi pula, wajah agamanya) yang penuh dengan intrik dan
fitnah.

Oleh karena
itu, saya ingin memberikan Wilders bersama film FITNA-nya itu beberapa
penghargaan. Pertama, penghargaan karena telah membantu umat Islam introspeksi
diri. Kedua, membantu orang lain belajar Islam dan menemukan seperti apa wajah
Islam sebenarnya. Dan ketiga, menunjukkan dengan sebenar-benarnya seperti apa
wujud orang-orang yang tidak ingin Islam rukun dengan agama lainnya.

Yogyakarta, April 2008

Wilders.. wilders… Benar-benar Wild kamu itu..

One Response to “Mengapa FITNA Berhak Mendapatkan ‘Penghargaan’?”
  1. Me and my friends ever highlighted this FITNA movie as a motion for debate.The classic problem is that freedom of expression always fight against the religious value of certain religious community,in this case, Moslem.Westerners (let’s say Dutch men) are upholding their freedom of expression while we (as Moslem) are upholding our religious value that is undermined and violated by them. However, I think we should not exaggerate this 15-17 minutes controversial movie by drowning ourselves to a deep “cool war”. Just make another movie, which highlight the beauty of Islam, so that they could comprehend the sign, that Islam is DAMN MEANINGFUL on earth. For God sake , Westerners and even world’s community are not that stupid and easily persuaded by FITNA movie. The gap is always there and we should build the bridge called “empathy and understanding”.

Leave a Reply