<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:Calibri;
mso-font-alt:"Century Gothic";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:Cambria;
mso-font-alt:"Palatino Linotype";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle
{mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:15.0pt;
margin-left:0cm;
mso-pagination:widow-orphan;
border:none;
mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt;
padding:0cm;
mso-padding-alt:0cm 0cm 4.0pt 0cm;
font-size:26.0pt;
font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;
mso-ansi-language:EN-US;}
span.TitleChar
{mso-style-name:"Title Char";
mso-ansi-font-size:26.0pt;
mso-bidi-font-size:26.0pt;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;}
p.Quote, li.Quote, div.Quote
{mso-style-name:Quote;
mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:black;
mso-ansi-language:EN-US;
font-style:italic;}
span.QuoteChar
{mso-style-name:"Quote Char";
color:black;
font-style:italic;}
p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph
{mso-style-name:"List Paragraph";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:36.0pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

 Lagi-lagi,
saya ‘terjebak’ dengan tema seperti ini. Sejak beberapa waktu yang lalu, saya
berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengangkat tema ini di dalam blog saya.
Saya bersikukuh untuk tidak menghadirkan tema ini sebagai bahan tulisan. Saya
menghindari segala macam bentuk cerita dan film yang bertemakan hal ini. Namun
sepertinya hati saya tak bisa dibohongi. Bohong jika saya mengatakan bahwa
hari-hari saya tidak dipenuhi dengan cinta. Bohong jika saya tidak tersentuh
oleh cinta sama sekali. Bohong jika saya tak pernah menerima curahan cinta tak
terbatas.

 Perasaan
ini terjadi secara tak sengaja. Saya menemukan sebuah artikel dan membacanya.
Tak ada sama sekali artikel yang mengarah kepada tema “cinta”. Saat itu, saya
membaca artikel tentang “spirit” atau semangat
hidup. Bagaimana orang-orang melewati masa-masa kritisnya dengan semangat
membara. Bagaimana mereka menangis dengan tegar, tersenyum diantara sakitnya
derita, bahkan mencoba tenang dikala dada bergemuruh. Entah oleh musibah, bencana,
kekurangan atau kehilangan, mereka tetap menjadi seorang manusia. Mereka tetap
menangis walau malaikat tak pernah
menangis, namun mereka tetap menjaga diri dan tenang ketika hewan manapun
mengamuk tak karuan. Karena mereka tetap manusia.

 Saya
terharu sekaligus takjub dengan kisah singkat yang dituliskan di buku tersebut.
Kisah klasik namun menggugah hati. Cerita lama yang tak pernah usang. Kisah
seekor kadal yang terjepit selama puluhan tahun, namun masih tetap hidup
seperti tidak terjadi apa-apa. Saya akan menceritakannya kembali untuk Anda.

 Waktu
itu, seorang manusia ingin membongkar rumahnya yang sudah usang. Ia berniat
merenovasinya agar terlihat baru dan bagus. Sedikit demi sedikit bagian rumah
itu dilepas dan disingkirkan. Tiba pada saat peruntuhan dinding, pemilik rumah
kaget sekaligus heran. Disana terdapat seekor kadal yang terjepit dan tak dapat
bergerak. Setelah diteliti lebih lanjut, kadal tersebut terjepit oleh dinding
yang mengeras akibat semen. Ia tak dapat pergi kemana-mana. Yang membuat si
pemilik rumah takjub adalah bahwa kadal tersebut tidak mati padahal ia telah
membangun rumah tersebut selama bertahun-tahun. Tertarik dengan apa yang
terjadi, ia menunda peruntuhan dindingnya hingga ia tahu apa yang terjadi.

 Tak
lama kemudian, datang kadal lain mendekati kadal yang terjepit itu. Ia membawa
sesuatu di mulutnya. Ia mendekati kadal yang terjepit itu dan memberikan
sesuatu yang ada di mulutnya—makanan—kepada kadal yang terjepit itu. Selesai
memberikan makanan itu, ia pergi dan kembali beberapa jam setelahnya hanya
untuk melakukan hal yang sama.

* *
*

 Bagi
kita, mungkin itu adalah hal terbodoh yang dilakukan oleh hewan tak berakal.
Namun, dapatkan Anda rasakan apa yang sedang terjadi? Kekuatan cinta dan kasih
sayang telah mendorong kadal yang bebas dan tidak terjepit memberikan makanan
kepada kadal yang terjepit. Kadal bebas itu tak mendapat apa-apa. Ia hanya
mendapat lelah dan bisa jadi membuang waktunya sia-sia karena telah memberikan
makanan kepada kadal lain yang tak mampu berbuat apa-apa. Ia bisa saja mencari
kadal lain yang lebih cantik atau tampan misalnya, atau lebih bebas, agar dapat
bersama-sama berbagi cinta. Ia bisa saja meninggalkan kadal yang terjepit dan
tidak mempedulikannya. Toh, lambat laun kadal yang terjepit itu akan mati dan
perjuangannya selama ini memberikan makanan adalah sia-sia. Setiap kadal tahu
akan hal itu.

 Terkadang,
pikiran kita sama seperti kadal tak bermoral. Sama seperti kadal tanpa cinta. Sama
seperti kadal yang hanya mencari kesenangan sesaat dengan mencari yang lebih
cantik atau tampan dan lebih bebas agar dapat berbagi cinta. Kita bahkan lebih
parah daripada kadal. Kepada orang lain yang kita cintai, baik itu sedang bebas
atau sedang terjepit, kita justru sering menyakitinya. Alih-alih memberikan
makanan untuk bertahan hidup, kita justru mentertawakan keterjepitannya. Kita
justru mensyukuri dan menyebarluaskan derita yang dialaminya. Lebih parah lagi,
kita membiarkannya terjepit dan membiarkannya sakit lebih parah.

 Saya
mendapatkan hikmah dalam seni mencintai orang yang benar-benar ingin kita
cintai. Tak perlu jauh-jauh ke Hollywood atau Bollywood, Indonesia menyimpan
segudang kisah cinta yang menarik untuk disimak, diperhatikan dan dipetik
hikmahnya. Jika Anda ingin melihat bagaimana rupa dan bentuknya, saya sarankan
untuk melihatnya bukan dari kacamata muda-mudi yang sedang pacaran atau baru
saja menikah, tapi lihatlah dari kacamata pasangan senja yang telah puluhan
tahun menikah. Dan saya mendapatkannya saat saya pergi mengunjungi Candi
Borobudur, Jawa Tengah.

 Pemandangan
yang saya lihat sepertinya biasa, namun membuat hati saya terguncang. Bukan
karena sedih atau terluka, namun karena takjub. Sepasang manusia berumur senja
bersama dengan anak dan cucu mereka. Mereka membawa selembar tikar, rantang makan
siang, tempat minum dan dua buah payung. Mereka berpakaian warna-warni, bahkan
bisa dibilang ramainya warna baju mereka membuat cucu-cucu mereka merasa tersaingi.

 Tiba
waktu makan siang. Mereka menggelar tikar mereka di bawah pohon rindang. Mereka
membuka rantang mereka, menyiapkan makan siang, dan meminta cucu mereka untuk
mencuci tangan. Gelak tawa tak kunjung reda dari anak dan cucu mereka. Sesedikit
teriakan riang yang memekakkan telinga membuat ibu anak-anak itu pura-pura
cemberut, namun kembali tertawa sesudahnya. Bagian paling mengharukan terjadi.
Sungguh, saya mendokumentasikan ini dengan risiko dikatakan ‘sentimentil’,
‘melankolis’, ‘sok romantis’, atau apapun namanya. Namun saya merasa penting
untuk mendokumentasikannya disini. Setidaknya untuk diri saya sendiri.

 Bagian
paling mengguncang dan mengharukan terjadi. Sepasang manusia senja itu saling
suap-menyuap dalam menghabiskan makan siangnya. Nasi yang jatuh pun diambil dan
dibersihkan oleh mereka berdua. Bahkan, sambil makan siang, tangan mereka
saling bergenggaman. Selesai makan, mereka saling mendahulukan pasangannya
untuk minum. Mereka tidak mau minum sebelum pasangannya minum. Akhirnya, cucu
merekalah yang bersama-sama meminumkan air itu kepada kakek neneknya. Dan
akhirnya, mereka semua tertawa karena tumpahan air minum itu membasahi tikar
yang mereka bawa.

* *
*

 Sulit
memang, untuk mencintai seseorang apa adanya. Lebih sulit lagi jika durasi untuk
mencintai adalah selamanya. Jika cinta monyet hanya bertahan beberapa bulan
saja dan cinta sepasang muda-mudi yang dimabuk asmara hanya bertahan beberapa
tahun saja, berapa besar cinta sejati yang dapat bertahan selamanya, bahkan
saat orang yang dicintainya itu tidak memiliki apa-apa.

 Banyak
pasangan muda yang mencintai istrinya karena kelebihannya, namun menyembunyikan
ketidaksukaan padanya atas kekurangannya. Tidak sedikit pula dari mereka yang
terlalu jujur dan berterus terang hingga menyakiti hati pasangannya. Secara
teori, seni mencintai tidaklah sulit. Cukup dengan sebuah klausul “mencintai
apa adanya”, cinta sejati itu akan terwujud. Namun dalam prakteknya bisa jadi
sangat sulit; atau bahkan impossible, terutama bagi orang-orang yang
memandang bahwa tidak diperlukan cinta dalam berumah tangga.

 Belajar
dari kadal diatas, atau seorang kakek nenek yang saya amati di Borobudur, kita
bisa belajar mencintai orang yang ingin kita cintai. Saya katakan ‘ingin’
karena mencintai adalah sebuah pilihan. Anda tidak harus mencintai pasangan
Anda karena itu pilihan Anda. Seperti halnya kadal diatas, ia mempunyai pilihan
untuk tetap bertahan dan berkorban mencintai kadal yang terjepit, atau ia bisa
saja dengan mudah pergi dengan kadal yang lain dan meninggalkan kadal yang
terjepit sendirian dan membiarkannya mati. Jika ada orang yang mengatakan cinta
itu tidak rasional, maka kita telah melihat bahwa cinta itu memang irrasional.

 Bayangkan
berapa banyak waktu Anda terbuang sia-sia ketika Anda menyakiti hati orang yang
Anda cintai. Alih-alih mendukungnya dan mendorongnya untuk sesuatu yang akan
dilakukannya, terkadang kita lupa dan justru membatasi dirinya. Berapa banyak
para suami yang jengkel dan marah ketika istrinya terlalu lama berdandan.
Berapa banyak pula istri yang mendendam hanya karena suaminya tidak pernah
memperhatikan potongan rambutnya yang baru, atau tas yang baru saja dibelinya,
atau bahkan warna kulitnya yang sepertinya semakin bertambah putih.

 Bayangkan
betapa berharganya waktu kita jika kita manfaatkan untuk menyukai apa saja yang
dilakukan oleh pasangan kita. Bayangkan betapa hebatnya waktu yang terlewati
dan tak pernah kembali itu kita habiskan untuk membuat pasangan kita tersenyum
dan tergelak bahagia. Tak ada sesuatu yang dianggap memalukan jika kita mau
mencintai apa adanya. Anda bisa hitung berapa banyak orang miskin yang malu
membawa tikar dan rantang saat piknik. Sebaliknya, lebih banyak orang kaya dan
bermobil mewah justru bangga dengan pasangannya apapun yang dilakukannya,
termasuk membawa tikar dan rantang saat piknik.

* *
*

 Seni
mencintai menurut saya bukan terletak pada tikar dan rantang. Seni mencintai
juga bukan terletak dari statusnya sebagai miskin atau kaya. Kuncinya adalah
menerima apa adanya. Sekalipun orang yang kita cintai tidak memiliki apa-apa,
menerima apa adanya adalah menerima dirinya dan segala kekurangannya, serta menerima
ketidakberdayaannya atas sesuatu yang tidak dimilikinya. Mengapa mesti malu
jika kita mampu menertawakannya bersama? Mengapa mesti marah jika itu dapat
dijadikan bahan candaan yang segar? Mengapa mesti cemberut dan dendam jika hal
tersebut dapat dijadikan bahan diskusi ringan sebelum tidur?

Terakhir, saya
akan mengutip sebagian pidato Steve Jobs, CEO Apple Inc., dalam wisuda yang
dilakukan di Universitas Stanford:

“Your
time is limited, so don’t waste it leaving someone else’s life.
Don’t be trapped by dogma which is living with the results of other people’s
thinking.
Don’t let the noise of others opinion ground up your own inner voice.
And most important, have the courage to follow your heart and intuition,
they somehow already know what you truly want to become…”

Dan pesan saya pun sama seperti yang Steve
Jobs pesankan untuk Anda: Don’t waste your time leaving someone else’s
life
.

Yogyakarta, 1 Juli 2008

…ketika meninggalkan seseorang yang
ingin ku cintai disebut sebagai pemborosan waktu,
saat itulah ku tak ingin memboroskan waktu itu…

5 Responses to “Seni Mencintai…”
  1. Parameter, Ekspektasi, dan Estimasi(1)

    “Setiap kondisi memilki arti yang berbeda bagi setiap orang”

    “Apa ini ga terlalu sulit? Sejauh mana pengetahuan teori respon butirmu (sebuah teori dalam bidang pendidikan-pengukuran)? Kamu masih S-2”. Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan oleh dosen pembimbingku ketika konsultasi tesis untuk kali ketiga. Pahit memang mendengarnya. Hati terasa dongkol karena beliau bertanya hanya setelah membaca judul tesis saya (even by glance). Setelah aku jelaskan tentang isi yang akan diteliti akhirnya terjadi kesepakatan kalau judulnya harus diubah.
    ***
    Judul berubah membawa konsekuensi harus mengubah rasionalisasi kenapa penelitian harus dilakukan dan tentu saja hal ini membutuhkan kerja yang ekstra keras. Walhasil demi mencari dukungan terhadap latar belakang penelitian aku harus dan sudah membaca puluhan jurnal selama tiga minggu. Stres memang dan semakin bertambah karena semua jurnal dalam bahasanya David Beckham. Lebih payah lagi menyangkut hal-hal baru yang membuat kepala mengeluarkan ketombe amat banyak.
    ***
    Perjuangan terus berlanjut. Janjian ketemu dosen Sabtu (setalah dua minggu) gagal karena hasil yang dibaca belum dituangkan dalam tulisan. Semakin banyak membaca jurnal ternyata semakin bingung dan kebingungan itu meminta dicarikan solusinya alias harus mencari referensi lain yang mendukung. Tekad ketemu hari Selasa tidak terealisasi karena belum juga kelar. Keinginan kuat harus bisa menyerahkan draft dalam minggu ini menyebabkan tubuh dengan segala alat kelengkapannya harus bekerja keras dan bergadang. Teori MESTAKUNG-nya Yohanes Surya-pun terbukti terjadi menimpaku karena hari Kamis adalah kesempatan terakhirku ketemu dosen dalam minggu ini.
    ***
    Akhirnya draft itupun selesai dan di-print out tepat pukul 11.30. Hati terasa lega. Namun, kelegaan itu belum dapat dinikmati dengan senyum kemenangan karena draft itu harus diserahkan sementara waktu sudah makin mepet. Setelah mandi ala kadarnya versi seorang bujangan dan motor dipanasi, aku bergegas segera ke kampus meninggalkan kamarku yang bak kapal pecah. Biarlah pikirku. Nanti diberesi setelah dari kampus. Eh, sebentar, tentu saja aku berpakaian dulu sebelum pergi ke kampus.
    ***
    Sial! Ternyata jalan sepanjang menuju Gramedia dari arah selatan ditutup karena ada pengaspalan jalan. Terpaksa aku harus memutar lewat belakang Bethesda dan menembus jalan pintas SMAN 3 Yogyakarta. Syukurlah dua lampu merah yang aku lewati bersahabat, tidak menghentikanku. Motor terus aku kebut dengan kecepatan yang tidak biasa dan hampir terpeleset karena lewat tumpukan pasir di depan Wisma Gadjah Mada Jl. Kolombo.
    ***
    Alhamdulillah, lega juga karena sampai kampus dengan selamat. Buru-buru aku mampir ke papan pengumuman untuk melihat jadwal dosen pembimbingku. Hatiku makin merasa lega karena kuliah dosenku selesainya pukul 12.40. Berarti aku tidak telat, pikirku sambil mengelus-elus dada. Akupun beranjak naik ke lantai dua untuk menunggu dosen di depan pintu ruangan tempat beliau mengajar.
    ***
    Beberapa saat menunggu, tiba-tiba aku melihat orang yang sedang ditunggu ada di lantai satu. Aku berpikir beliau akan naik ke atas untuk melanjutkan kuliah karena jam kuliah memang belum usai sehingga aku tetap di atas. Tapi, setelah menunggu beberapa lama beliau belum kelihatan juga. Akupun segera bergegas mengejar ke ruangan tempat beliau biasa singgah, siapa tahu mungkin ada mahasiswa lain yang akan konsultasi. Ternyata beliau tidak ada. Setelah mengelilingi kampus dan bertanya ke beberapa orang hasil akhirnya adalah CELAKA 13, NIHIL. Aku bergegas ke ruang kuliah dan di sana aku melihat ternyata jadwal kuliahnya dimajukan 1 jam. Pantas beliau sudah tidak ada di ruangan, kataku dalam hati.
    ***
    Bak dihantam halilintar tubuhkupun lemas, kaki sudah ga kuat lagi berjalan. Hasil perjuangan selama tiga minggu akhirnya tidak bisa diserahkan hari ini dan harus menunggu Selasa depan. Konsekuensinya, waktu untuk ke lapangan tertunda lagi. Keinginan untuk lulus dengan segera masih dalam angan-angan. Harapan untuk pulang ke Mataram-pun tertuda.
    Hemmm…Maafkan aku ibu, ayah…Keinginan kalian untuk memelukku belum bisa terealisasi… Aku juga kangen sama kalian. Kangen dipeluk. Kangen dengan masakan Ibu. Kangen sama plecing kangkun Lombok…Duh, betapa nikmatnya. Di Jogja kangkungnya keras, kecil-kecil lagi.
    ***
    Sejenak aku istirahat duduk di bawah pohon menghirup udara segar yang bertiup dari sela-sela daun yang lebat. Beberapa helai diantaranya ada yang jatuh berterbangan. Tiba-tiba aku ingat sebuah kalimat di puisi yang ditulis temanku:

    Daun terbang karena tiupan angin atau karena pohon sudah tidak menginginkannya lagi?

    Sepintas aku berpikir apakah situasi yang aku hadapi sekarang ini terjadi karena keinginan dosenku atau karena keinginannku sendiri? Aku sempat mengernyitkan dahi memikirkannya.
    ***
    Sambil makan siang–dari pagi perutku hanya diisi separuh gelas energen karena sebagian direbutkan para semut yang kelaparan di kamarku, terpaksa deh ga minum semuanya–aku curhat sama kakak kelasku, mahasiswa S-3 yang dosen pembimbinya sama dengan aku. Aku cerita panjang lebar. Namun, ceritaku ternyata tidak kalah seru dengan pengalamannya dibimbing oleh dosen kami. Sebuah nasihat klasik dia sempat berikan kepadaku sebelum kami berpisah. ”Sabar, dijalani saja. Namanya mahasiswa bimbingan, jadi harus manut”.
    ***
    Yah, sabar! Itu adalah kata yang paling mujarab yang dijadikan sebagai alibi untuk menenangkan diri. Tiba-tiba aku ingat seorang tokoh dalam novel Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata, Lintang namanya. Seorang tokoh yang menempuh jarak 80 km pergi pulang sekolah dengan jalan kaki. Seorang tokoh yang tidak pernah ngeluh atas keadaan yang menimpanya. Seorang tokoh yang tidak pernah bolos sekolah walau apapun halangan yang menghadang. Seorang tokoh yang tetap bersikeras masuk sekolah meski kerap kali dihadang buaya buas. Seorang tokoh yang tetap masuk sekolah meski setibanya di sana teman-temannya sedang menyayikan lagu Padamu Negeri pertanda sekolah akan bubar. Seorang tokoh yang terpaksa jalan kaki 40 km pulang ke rumah dari sekolah karena rantai sepedanya yang sering putus sudah tidak bisa disambung lagi. Seorang tokoh yang sekolahnya sangat memprihatinkan. Seorang tokoh yang hanya memilki 9 orang teman di sekolahnya…Ya! Lintang, Lintang, dan Lintang. Tiada kata menyerah dalam kamusnya. Tiada kata mengeluh hinggap di hatinya…
    ***
    Yups! kenapa aku harus mengeluh? Tanyaku dengan hati yang masih menyisakan rasa kecewa. Akupun beranjak ke perpustakaan dengan langkah gontai tidak bersemangat. Sejenak aku buka laptop dan segera aku hidupkan kotak ajaib ini. Biasanya aku browsing jurnal untuk nyari referensi tambahan. Kali ini aku tidak bersemangat. Segera aku buku Microsoft Word yang halamannya masih kosong. Mulai kutulis sebuah kalimat (persis di bawah judul) yang kemudian menjadi ide dari tulisan ini dengan harapan rasa kecewa terobati.
    ***
    Kecewa. Sebuah kata yang memiliki makna yang dalam jika dirasakan oleh hati dan menyakitkan. Sebuah rasa yang timbul karena tidak terpenuhiunya antara harapan dengan kenyataan yang terjadi. Sebuah rasa yang terjadi karena kita mengharapkan sesuatu berdasarkan parameter yang kita tentukan sendiri. Sebuah rasa yang muncul karena kita menilai sesuatu, keadaan, atau seseorang menurut parameter kita sendiri. Dan, aku menilai dosenku berdasarkan parameter yang ada pada diriku sendiri. Aku beranggapan dosenku akan selesai kuliah sesuai jadwal.
    ***
    Parameter. Kata ini mengacu pada sesuatu yang bersifat luas, dalam ilmu statistik dipandang sebagai karakteristik populasi. Karena menyangkut populasi, keberadaannya tidak bisa diukur secara langsung. Apalagi, jika hal tersebut bersifat kualitatif, hal-hal yang bersifat behavioral , atitude, dan latent trait lainnya. So, harus dikuantitatifkan. Itupun mendapat kritikan karena penguantitatifan laten trait bersifat unroboust.
    ***
    Secara teori, parameter populasi didekati dengan ekspektasi. Jadi, nilai ekspektasi adalah nilai yang bersifat teoritik (hanya berupa postulat), belum berujud, masih abstrak. Contohnya kasus yang aku alami. Aku memiliki ekspektasi untuk bertemu dosen pembimbing dan ekspektasiku beliau ada. Ekspektasi merupakan kesimpulan dari suatu event yang berulang sampai takhingga kali. Aku meng-ekspekatasi dosenku akan keluar sesuai jadwal. Agar ekspektasi menjadi nyata diperlukan suatu estimasi.
    ***
    Estimasi merupakan nilai numerik dari ekspekatasi (parameter) dan bersifat pendekatan. Oleh karena bersifat pendekatan, tentu saja nilai ini mengandung kesalahan (error). Estimasi yang baik memiliki sifat kecukupan (sufficient statistically), konsisten (consistent), dan memiliki kesalahan yang kecil (small variance).
    ***
    Estimasi yang baik adalah nilai yang tidak overestimate atau tidak underestimate. Aku memiliki estiamsi terhadap dosenku yang bersifat overestimate padahal sesungguhnya underestimate. Hal ini terjadi karena data-data yang aku miliki kurang. Seperti jadwal dosen yang berubah, tempat menunggu yang salah, dan teknik-teknik untuk ketemu dosen belum banyak aku miliki (jadi n kecil, tidak representatif). Jadi, karena kurangnya data akhirnya estimasiku menimbulkan kesalahan yang besar dan kesalahan ini berujud kekecewaan. Jika dinyatakan dalam hubungan persamaan sebagai berikut:
    Ekspektasi (parameter) = Estimasi + Error
    atau
    Harapan = Kenyataan + Kekecewaan
    Sesempurna apapun tidaklah pernah ditemukan hubungan (exactly):
    Harapan – Kenyataan = 0
    melainkan semuanya bersifat asimptot
    ***
    Artinya, apapun itu, faktor kesalahan selalu memainkan peran. Dan, bukankah sangat fitrah manusia melakukan suatu kesalahan? Tapi, jika kesalahan itu dilakukan berulang-ulang dan menyagkut hal yang sama, tentu itu bukan kesalahan, melainkan kebiasaan. Aku teringat tausyiah Ust. Syatori Abdur Rauf bahwa

    “semakin kita sering mengabaikan kesalahan kecil, semakin mengurangi sensitifitas kita terhadap kesalahan, dan karena merasa aman dan nyaman akan mencoba melakukan kesalahan yang lebih besar”

    Kalimat ini memiliki makna yang sangat dalam dan aku mulai menyadari kalau aku telah melakukan banyak kesalahan dalam manajemen waktuku. Terkadang, bahkan sangat sering kita menyalahkan kesalahan sendiri sebagai sebab terjadinya kegagalan. Padahal, bukankah kesuksesan itu butuh yang namanya kesabaran? Yah, memang untuk tahu apa dan bagaimana sabar itu kita akan dikasi media berupa kegagalan atau kekecewaan..hemmmm…..
    ***
    Jika ditarik keluar untuk generalisasi–tapi, ini hanya pendapat pribadi, tidak mewakili pendapat orang secara umum–ketika menilai sesuatu, keadaan, atau seseorang secara umum amatlah bijak kalau kita tidak menggunakan parameter yang melekat pada kita. Tindakan menggunakan ekspektasi parameter tidaklah tepat karena setiap sesuatu, kondisi, atau orang memiliki ukurannya sendiri-sendiri.
    Kalaupun menggunakan estimasi, estimasi-lah dengan bijak. Cari informasi yang banyak agar hasilnya tidak overestimate atau underestimate.
    ***
    Janganlah kita mengukur baju orang dengan menggunakan tubuh kita sendiri karena setiap kondisi memiliki arti berbeda bagi setiap orang”
    ***
    Meng-estimasi dengan overestimate (berdasarkan apa yang ada pada kita) cenderung akan menimbulkan kekecewaan atau dapat menimbulkan kesan akan meremehkan orang. Meng-estimasi dengan underestimate, jika itu terhadap seseorang akan menyebabkan orang itu menjadi sakit hati. Sebuah kalimat bijak dari Salim A Fillah mungkin ada baiknya kita renungkan ”Janganlah kita mengukur baju orang dengan menggunakan tubuh kita sendiri”. Karena apa yang aku alami, dari sudut apapun dosenku memandang tesisku, demikian pula keberadaan tokoh Lintang, semuanya mengandung makna sendiri. Hasil prasangka kita akan minimal dalam kesalahan jika kita sedikit merelakan diri untuk mencari informasi yang lebih banyak. Karena dengan kearifan dalam diri ketika memandang keadaan, sesuatu, atau orang akan bermuara pada sebuah kalimat ”Setiap kondisi memiliki arti berbeda bagi setiap orang”.

    Ya Allah, segala sesuatu terjadi atas kehendak-Mu. Dan Engkau pulalah yang menciptakan kesulitan itu bersama kemudahan.. Laa Ilaaha Illaa Anta Subhaanaka Innii Kuntu Minazzolimiin…………………

    (1) tulisan ini dibuat tepat setelah peristiwa yang menjadi prolog tulisan ini terjadi. Kamis, 31 Juli 2008, pukul 14.15 – 17.30, di perpustakaan Pasca Sarjana UNY

    Musmuliadi

  2. Klarifikasi…
    Tulisan Parameter, Ekspektasi, dan Estimasi bukan bermaksud mengomentari tulisan Seni Mencintai… Kedua tulisan ini merupakan dua hal yang terpisah..
    Trims

    Mas Mus

  3. Mas Mus, bagus tuh tulisannya :) Kenapa ga bikin blog sendiri aja? ;)
    Tetap semangat! Sampai ketemu di insus depan, insya Allah :)

  4. Haaaaaaa,,, pemandangan yang menyenangkan! (ga mau ambil resiko bilang kakak melankolis :P)
    Sayangnya kontras dengan pemandangan sepasang orang tua yang nyaris tiap hari saya lihat dirumah. Saya meyakininya sebagai watak. Tentu bukan maksud saya menyatakan bahwa mereka sedang berada dalam suasana bertengkar, hanya saja saya belum pernah mendengar pernyataan kasih sayang secara verbal apalagi melihat tindakan gentle dari masing2 pihak. Saya tidak berani berspekulasi mereka tidak saling mencintai, karena nyatanya tidak pernah ada perpisahan dan masing2 melaksanakan tggjwb dgn baik. Mungkin, kata hambar lebih tepat. Itu bagi saya-bagian eksternal mereka. So barangkali tidak semua orang tidak menikmati suasana seperti ini. Meski tentu saja cerita kakak diatas jauh lebih menyenangkan untuk dibayangkan. Saya jadi berpikir apa arti “Aku Ingin” karya Sapardi, juga bagaimana gambaran McCartney tentang ungkapan kasih sayang sebelum masa tuanya di “When I’m 64″. Kemudian timbul juga keinginan agar orang tua saya menyempatkan diri menonton If Only (he loved her like there was no tomorrow). Masing-masing…
    Trims artikelnya. Teach me a lot (khawatir watak mereka menurun hehehe)

  5. mas kris tulisanya bagus banget, aku copy yaa, biar banyak temen wd yang baca.

Leave a Reply