<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Seni Mencintai…</title>
	<atom:link href="http://ksetyadi.blog.friendster.com/2008/06/seni-mencintai%e2%80%a6/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ksetyadi.blog.friendster.com/2008/06/seni-mencintai%e2%80%a6/</link>
	<description>Setiap detik begitu berharga...</description>
	<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 07:36:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: widya</title>
		<link>http://ksetyadi.blog.friendster.com/2008/06/seni-mencintai%e2%80%a6/#comment-39</link>
		<dc:creator>widya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 09:31:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ksetyadi.blog.friendster.com/2008/06/seni-mencintai%e2%80%a6/#comment-39</guid>
		<description>mas kris tulisanya bagus banget, aku copy yaa, biar banyak temen wd yang baca.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mas kris tulisanya bagus banget, aku copy yaa, biar banyak temen wd yang baca.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rid.ic14</title>
		<link>http://ksetyadi.blog.friendster.com/2008/06/seni-mencintai%e2%80%a6/#comment-38</link>
		<dc:creator>rid.ic14</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Oct 2008 03:45:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ksetyadi.blog.friendster.com/2008/06/seni-mencintai%e2%80%a6/#comment-38</guid>
		<description>Haaaaaaa,,, pemandangan yang menyenangkan! (ga mau ambil resiko bilang kakak melankolis :P)
Sayangnya kontras dengan pemandangan sepasang orang tua yang nyaris tiap hari saya lihat dirumah. Saya meyakininya sebagai watak. Tentu bukan maksud saya menyatakan bahwa mereka sedang berada dalam suasana bertengkar, hanya saja saya belum pernah mendengar pernyataan kasih sayang secara verbal apalagi melihat tindakan gentle dari masing2 pihak. Saya tidak berani berspekulasi mereka tidak saling mencintai, karena nyatanya tidak pernah ada perpisahan dan masing2 melaksanakan tggjwb dgn baik. Mungkin, kata hambar lebih tepat. Itu bagi saya-bagian eksternal mereka. So barangkali tidak semua orang tidak menikmati suasana seperti ini. Meski tentu saja cerita kakak diatas jauh lebih menyenangkan untuk dibayangkan. Saya jadi berpikir apa arti "Aku Ingin" karya Sapardi, juga bagaimana gambaran McCartney tentang ungkapan kasih sayang sebelum masa tuanya di "When I'm 64". Kemudian timbul juga keinginan agar orang tua saya menyempatkan diri menonton If Only (he loved her like there was no tomorrow). Masing-masing...
Trims artikelnya. Teach me a lot (khawatir watak mereka menurun hehehe)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Haaaaaaa,,, pemandangan yang menyenangkan! (ga mau ambil resiko bilang kakak melankolis :P)<br />
Sayangnya kontras dengan pemandangan sepasang orang tua yang nyaris tiap hari saya lihat dirumah. Saya meyakininya sebagai watak. Tentu bukan maksud saya menyatakan bahwa mereka sedang berada dalam suasana bertengkar, hanya saja saya belum pernah mendengar pernyataan kasih sayang secara verbal apalagi melihat tindakan gentle dari masing2 pihak. Saya tidak berani berspekulasi mereka tidak saling mencintai, karena nyatanya tidak pernah ada perpisahan dan masing2 melaksanakan tggjwb dgn baik. Mungkin, kata hambar lebih tepat. Itu bagi saya-bagian eksternal mereka. So barangkali tidak semua orang tidak menikmati suasana seperti ini. Meski tentu saja cerita kakak diatas jauh lebih menyenangkan untuk dibayangkan. Saya jadi berpikir apa arti &#8220;Aku Ingin&#8221; karya Sapardi, juga bagaimana gambaran McCartney tentang ungkapan kasih sayang sebelum masa tuanya di &#8220;When I&#8217;m 64&#8243;. Kemudian timbul juga keinginan agar orang tua saya menyempatkan diri menonton If Only (he loved her like there was no tomorrow). Masing-masing&#8230;<br />
Trims artikelnya. Teach me a lot (khawatir watak mereka menurun hehehe)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Kristiono</title>
		<link>http://ksetyadi.blog.friendster.com/2008/06/seni-mencintai%e2%80%a6/#comment-35</link>
		<dc:creator>Kristiono</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 09:59:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ksetyadi.blog.friendster.com/2008/06/seni-mencintai%e2%80%a6/#comment-35</guid>
		<description>Mas Mus, bagus tuh tulisannya :) Kenapa ga bikin blog sendiri aja? ;)

Tetap semangat! Sampai ketemu di insus depan, insya Allah :)
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Mus, bagus tuh tulisannya <img src='http://ksetyadi.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> Kenapa ga bikin blog sendiri aja? <img src='http://ksetyadi.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /><br />
Tetap semangat! Sampai ketemu di insus depan, insya Allah <img src='http://ksetyadi.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mus</title>
		<link>http://ksetyadi.blog.friendster.com/2008/06/seni-mencintai%e2%80%a6/#comment-34</link>
		<dc:creator>mus</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 08:03:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ksetyadi.blog.friendster.com/2008/06/seni-mencintai%e2%80%a6/#comment-34</guid>
		<description>Klarifikasi...
Tulisan Parameter, Ekspektasi, dan Estimasi bukan bermaksud mengomentari tulisan Seni Mencintai... Kedua tulisan ini merupakan dua hal yang terpisah..
Trims

Mas Mus
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Klarifikasi&#8230;<br />
Tulisan Parameter, Ekspektasi, dan Estimasi bukan bermaksud mengomentari tulisan Seni Mencintai&#8230; Kedua tulisan ini merupakan dua hal yang terpisah..<br />
Trims</p>
<p>Mas Mus</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mus</title>
		<link>http://ksetyadi.blog.friendster.com/2008/06/seni-mencintai%e2%80%a6/#comment-33</link>
		<dc:creator>mus</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 07:25:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ksetyadi.blog.friendster.com/2008/06/seni-mencintai%e2%80%a6/#comment-33</guid>
		<description>Parameter, Ekspektasi, dan Estimasi(1)

“Setiap kondisi memilki arti yang berbeda bagi setiap orang”

“Apa ini ga terlalu sulit? Sejauh mana pengetahuan teori respon butirmu (sebuah teori dalam bidang pendidikan-pengukuran)? Kamu masih S-2”. Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan oleh dosen pembimbingku ketika konsultasi tesis untuk kali ketiga. Pahit memang mendengarnya. Hati terasa dongkol karena beliau bertanya hanya setelah membaca judul tesis saya (even by glance). Setelah aku jelaskan tentang isi yang akan diteliti akhirnya terjadi kesepakatan kalau judulnya harus diubah.
***
Judul berubah membawa konsekuensi harus mengubah rasionalisasi kenapa penelitian harus dilakukan dan tentu saja hal ini membutuhkan kerja yang ekstra keras. Walhasil demi mencari dukungan terhadap latar belakang penelitian aku harus dan sudah membaca puluhan jurnal selama tiga minggu. Stres memang dan semakin bertambah karena semua jurnal dalam bahasanya David Beckham. Lebih payah lagi menyangkut hal-hal baru yang membuat kepala mengeluarkan ketombe amat banyak.
***
Perjuangan terus berlanjut. Janjian ketemu dosen Sabtu (setalah dua minggu) gagal karena hasil yang dibaca belum dituangkan dalam tulisan. Semakin banyak membaca jurnal ternyata semakin bingung dan kebingungan itu meminta dicarikan solusinya alias harus mencari referensi lain yang mendukung. Tekad ketemu hari Selasa tidak terealisasi karena belum juga kelar. Keinginan kuat harus bisa menyerahkan draft dalam minggu ini menyebabkan tubuh dengan segala alat kelengkapannya harus bekerja keras dan bergadang. Teori  MESTAKUNG-nya Yohanes Surya-pun terbukti terjadi menimpaku karena hari Kamis adalah kesempatan terakhirku ketemu dosen dalam minggu ini.
***
Akhirnya draft itupun selesai dan di-print out tepat pukul 11.30. Hati terasa lega. Namun, kelegaan itu belum dapat dinikmati dengan senyum kemenangan karena draft itu harus diserahkan sementara waktu sudah makin mepet. Setelah mandi ala kadarnya versi seorang bujangan dan motor dipanasi, aku bergegas segera ke kampus meninggalkan kamarku yang bak kapal pecah. Biarlah pikirku. Nanti diberesi setelah dari kampus. Eh, sebentar, tentu saja aku berpakaian dulu sebelum pergi ke kampus.
***
Sial! Ternyata jalan sepanjang menuju Gramedia dari arah selatan ditutup karena ada pengaspalan jalan. Terpaksa aku harus memutar lewat belakang Bethesda dan menembus jalan pintas SMAN 3 Yogyakarta. Syukurlah dua lampu merah yang aku lewati bersahabat, tidak menghentikanku. Motor terus aku kebut dengan kecepatan yang tidak biasa dan hampir terpeleset karena lewat tumpukan pasir di depan Wisma Gadjah Mada Jl. Kolombo.
***
Alhamdulillah, lega juga karena sampai kampus dengan selamat. Buru-buru aku mampir ke papan pengumuman untuk melihat jadwal dosen pembimbingku. Hatiku makin merasa lega karena kuliah dosenku selesainya pukul 12.40. Berarti aku tidak telat, pikirku sambil mengelus-elus dada. Akupun beranjak naik ke lantai dua untuk menunggu dosen di depan pintu ruangan tempat beliau mengajar.
***
Beberapa saat menunggu, tiba-tiba aku melihat orang yang sedang ditunggu ada di lantai satu. Aku berpikir beliau akan naik ke atas untuk melanjutkan kuliah karena jam kuliah memang belum usai sehingga aku tetap di atas. Tapi, setelah menunggu beberapa lama beliau belum kelihatan juga. Akupun segera bergegas mengejar ke ruangan tempat beliau biasa singgah, siapa tahu mungkin ada mahasiswa lain yang akan konsultasi. Ternyata beliau tidak ada. Setelah mengelilingi kampus dan bertanya ke beberapa orang hasil akhirnya adalah CELAKA 13, NIHIL. Aku bergegas ke ruang kuliah dan di sana aku melihat ternyata jadwal kuliahnya dimajukan 1 jam. Pantas beliau sudah tidak ada di ruangan, kataku dalam hati.
***
Bak dihantam halilintar tubuhkupun lemas, kaki sudah ga kuat lagi berjalan. Hasil perjuangan selama tiga minggu akhirnya tidak bisa diserahkan hari ini dan harus menunggu Selasa depan. Konsekuensinya, waktu untuk ke lapangan tertunda lagi. Keinginan untuk lulus dengan segera masih dalam angan-angan. Harapan untuk pulang ke Mataram-pun tertuda.
Hemmm...Maafkan aku ibu, ayah...Keinginan kalian untuk memelukku belum bisa terealisasi... Aku juga kangen sama kalian. Kangen dipeluk. Kangen dengan masakan Ibu. Kangen sama plecing kangkun Lombok...Duh, betapa nikmatnya. Di Jogja kangkungnya keras, kecil-kecil lagi.
***
Sejenak aku istirahat duduk di bawah pohon menghirup udara segar yang bertiup dari sela-sela daun yang lebat. Beberapa helai diantaranya ada yang jatuh berterbangan. Tiba-tiba aku ingat sebuah kalimat di puisi yang ditulis temanku:

Daun terbang karena tiupan angin atau karena pohon sudah tidak menginginkannya lagi?

Sepintas aku berpikir apakah situasi yang aku hadapi sekarang ini terjadi karena keinginan dosenku atau karena keinginannku sendiri? Aku sempat mengernyitkan dahi memikirkannya.
***
Sambil makan siang–dari pagi perutku hanya diisi separuh gelas energen karena sebagian direbutkan para semut yang kelaparan di kamarku, terpaksa deh ga minum semuanya–aku curhat sama kakak kelasku, mahasiswa S-3 yang dosen pembimbinya sama dengan aku. Aku cerita panjang lebar. Namun, ceritaku ternyata tidak kalah seru dengan pengalamannya dibimbing oleh dosen kami. Sebuah nasihat klasik dia sempat berikan kepadaku sebelum kami berpisah. ”Sabar, dijalani saja. Namanya mahasiswa bimbingan, jadi harus manut”.
***
Yah, sabar! Itu adalah kata yang paling mujarab yang dijadikan sebagai alibi untuk menenangkan diri. Tiba-tiba aku ingat seorang tokoh dalam novel Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata, Lintang namanya. Seorang tokoh yang menempuh jarak 80 km pergi pulang sekolah dengan jalan kaki. Seorang tokoh yang tidak pernah ngeluh atas keadaan yang menimpanya. Seorang tokoh yang tidak pernah bolos sekolah walau apapun halangan yang menghadang. Seorang tokoh yang tetap bersikeras masuk sekolah meski kerap kali dihadang buaya buas. Seorang tokoh yang tetap masuk sekolah meski setibanya di sana teman-temannya sedang menyayikan lagu Padamu Negeri pertanda sekolah akan bubar. Seorang tokoh yang terpaksa jalan kaki 40 km pulang ke rumah dari sekolah karena rantai sepedanya yang sering putus sudah tidak bisa disambung lagi. Seorang tokoh yang sekolahnya sangat memprihatinkan. Seorang tokoh yang hanya memilki 9 orang teman di sekolahnya...Ya! Lintang, Lintang, dan Lintang. Tiada kata menyerah dalam kamusnya. Tiada kata mengeluh hinggap di hatinya...
***
Yups! kenapa aku harus mengeluh? Tanyaku dengan hati yang masih menyisakan rasa kecewa. Akupun beranjak ke perpustakaan dengan langkah gontai tidak bersemangat. Sejenak aku buka laptop dan segera aku hidupkan kotak ajaib ini. Biasanya aku browsing jurnal untuk nyari referensi tambahan. Kali ini aku tidak bersemangat. Segera aku buku Microsoft Word yang halamannya masih kosong. Mulai kutulis sebuah kalimat (persis di bawah judul) yang kemudian menjadi ide dari tulisan ini dengan harapan rasa kecewa terobati.
***
Kecewa. Sebuah kata yang memiliki makna yang dalam jika dirasakan oleh hati dan menyakitkan. Sebuah rasa yang timbul karena tidak terpenuhiunya antara harapan dengan kenyataan yang terjadi. Sebuah rasa yang terjadi karena kita mengharapkan sesuatu berdasarkan parameter yang kita tentukan sendiri. Sebuah rasa yang muncul  karena kita menilai sesuatu, keadaan, atau seseorang menurut parameter kita sendiri. Dan, aku menilai dosenku berdasarkan parameter yang ada pada diriku sendiri. Aku beranggapan dosenku akan selesai kuliah sesuai jadwal.
***
Parameter. Kata ini mengacu pada sesuatu yang bersifat luas, dalam ilmu statistik dipandang sebagai karakteristik populasi. Karena menyangkut populasi, keberadaannya tidak bisa diukur secara langsung. Apalagi, jika hal tersebut bersifat kualitatif, hal-hal yang bersifat behavioral , atitude, dan latent trait lainnya. So, harus dikuantitatifkan. Itupun mendapat kritikan karena penguantitatifan laten trait bersifat unroboust.
***
Secara teori, parameter populasi didekati dengan ekspektasi. Jadi, nilai ekspektasi adalah nilai yang bersifat teoritik (hanya berupa postulat), belum berujud, masih abstrak. Contohnya kasus yang aku alami. Aku memiliki ekspektasi untuk bertemu dosen pembimbing dan ekspektasiku beliau ada. Ekspektasi merupakan kesimpulan dari suatu event yang berulang sampai takhingga kali. Aku meng-ekspekatasi dosenku akan keluar sesuai jadwal. Agar ekspektasi menjadi nyata diperlukan suatu estimasi.
***
Estimasi merupakan nilai numerik dari ekspekatasi (parameter) dan bersifat pendekatan. Oleh karena bersifat pendekatan, tentu saja nilai ini mengandung kesalahan (error). Estimasi yang baik memiliki sifat kecukupan (sufficient statistically), konsisten (consistent), dan memiliki kesalahan yang kecil (small variance).
***
Estimasi yang baik adalah nilai yang tidak overestimate atau tidak underestimate. Aku memiliki estiamsi terhadap dosenku yang bersifat overestimate padahal sesungguhnya underestimate. Hal ini terjadi karena data-data yang aku miliki kurang. Seperti jadwal dosen yang berubah, tempat menunggu yang salah, dan teknik-teknik untuk ketemu dosen belum banyak aku miliki (jadi n kecil, tidak representatif). Jadi, karena kurangnya data akhirnya estimasiku menimbulkan kesalahan yang besar dan kesalahan ini berujud kekecewaan. Jika dinyatakan dalam hubungan persamaan sebagai berikut:
Ekspektasi (parameter) = Estimasi + Error
atau
Harapan = Kenyataan + Kekecewaan
Sesempurna apapun tidaklah pernah ditemukan hubungan (exactly):
Harapan – Kenyataan = 0
melainkan semuanya bersifat asimptot
***
Artinya, apapun itu, faktor kesalahan selalu memainkan peran. Dan, bukankah sangat fitrah manusia melakukan suatu kesalahan? Tapi, jika kesalahan itu dilakukan berulang-ulang dan menyagkut hal yang sama, tentu itu bukan kesalahan, melainkan kebiasaan. Aku teringat tausyiah Ust. Syatori Abdur Rauf bahwa

“semakin kita sering mengabaikan kesalahan kecil, semakin mengurangi sensitifitas kita terhadap kesalahan, dan karena merasa aman dan nyaman akan mencoba melakukan kesalahan yang lebih besar”

Kalimat ini memiliki makna yang sangat dalam dan aku mulai menyadari kalau aku telah melakukan banyak kesalahan dalam manajemen waktuku. Terkadang, bahkan sangat sering kita menyalahkan kesalahan sendiri sebagai sebab terjadinya kegagalan. Padahal, bukankah kesuksesan itu butuh yang namanya kesabaran? Yah, memang untuk tahu apa dan bagaimana sabar itu kita akan dikasi media berupa kegagalan atau kekecewaan..hemmmm.....
***
Jika ditarik keluar untuk generalisasi–tapi, ini hanya pendapat pribadi, tidak mewakili pendapat orang secara umum–ketika menilai sesuatu, keadaan, atau seseorang secara umum amatlah bijak kalau kita tidak menggunakan parameter yang melekat pada kita. Tindakan menggunakan ekspektasi parameter tidaklah tepat karena setiap sesuatu, kondisi, atau orang memiliki ukurannya sendiri-sendiri.
Kalaupun menggunakan estimasi, estimasi-lah dengan bijak. Cari informasi yang banyak agar hasilnya tidak overestimate atau underestimate.
***
Janganlah kita mengukur baju orang dengan menggunakan tubuh kita sendiri karena setiap kondisi memiliki arti berbeda bagi setiap orang”
***
Meng-estimasi dengan overestimate (berdasarkan apa yang ada pada kita) cenderung akan menimbulkan kekecewaan atau dapat menimbulkan kesan akan meremehkan orang. Meng-estimasi dengan  underestimate, jika itu terhadap seseorang akan menyebabkan orang itu menjadi sakit hati. Sebuah kalimat bijak dari Salim A Fillah mungkin ada baiknya kita renungkan ”Janganlah kita mengukur baju orang dengan menggunakan tubuh kita sendiri”.  Karena apa yang aku alami, dari sudut apapun dosenku memandang tesisku, demikian pula keberadaan tokoh Lintang, semuanya mengandung makna sendiri. Hasil prasangka kita akan minimal dalam kesalahan jika kita sedikit merelakan diri untuk mencari informasi yang lebih banyak. Karena dengan kearifan dalam diri ketika memandang keadaan, sesuatu, atau orang akan bermuara pada sebuah kalimat ”Setiap kondisi memiliki arti berbeda bagi setiap orang”.

Ya Allah, segala sesuatu terjadi atas kehendak-Mu. Dan Engkau pulalah yang menciptakan kesulitan itu bersama kemudahan.. Laa Ilaaha Illaa Anta Subhaanaka Innii Kuntu Minazzolimiin.....................

(1)	 tulisan ini dibuat tepat setelah peristiwa yang menjadi prolog tulisan ini terjadi. Kamis, 31 Juli 2008, pukul 14.15 – 17.30, di perpustakaan Pasca Sarjana UNY


Musmuliadi



</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Parameter, Ekspektasi, dan Estimasi(1)</p>
<p>“Setiap kondisi memilki arti yang berbeda bagi setiap orang”</p>
<p>“Apa ini ga terlalu sulit? Sejauh mana pengetahuan teori respon butirmu (sebuah teori dalam bidang pendidikan-pengukuran)? Kamu masih S-2”. Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan oleh dosen pembimbingku ketika konsultasi tesis untuk kali ketiga. Pahit memang mendengarnya. Hati terasa dongkol karena beliau bertanya hanya setelah membaca judul tesis saya (even by glance). Setelah aku jelaskan tentang isi yang akan diteliti akhirnya terjadi kesepakatan kalau judulnya harus diubah.<br />
***<br />
Judul berubah membawa konsekuensi harus mengubah rasionalisasi kenapa penelitian harus dilakukan dan tentu saja hal ini membutuhkan kerja yang ekstra keras. Walhasil demi mencari dukungan terhadap latar belakang penelitian aku harus dan sudah membaca puluhan jurnal selama tiga minggu. Stres memang dan semakin bertambah karena semua jurnal dalam bahasanya David Beckham. Lebih payah lagi menyangkut hal-hal baru yang membuat kepala mengeluarkan ketombe amat banyak.<br />
***<br />
Perjuangan terus berlanjut. Janjian ketemu dosen Sabtu (setalah dua minggu) gagal karena hasil yang dibaca belum dituangkan dalam tulisan. Semakin banyak membaca jurnal ternyata semakin bingung dan kebingungan itu meminta dicarikan solusinya alias harus mencari referensi lain yang mendukung. Tekad ketemu hari Selasa tidak terealisasi karena belum juga kelar. Keinginan kuat harus bisa menyerahkan draft dalam minggu ini menyebabkan tubuh dengan segala alat kelengkapannya harus bekerja keras dan bergadang. Teori  MESTAKUNG-nya Yohanes Surya-pun terbukti terjadi menimpaku karena hari Kamis adalah kesempatan terakhirku ketemu dosen dalam minggu ini.<br />
***<br />
Akhirnya draft itupun selesai dan di-print out tepat pukul 11.30. Hati terasa lega. Namun, kelegaan itu belum dapat dinikmati dengan senyum kemenangan karena draft itu harus diserahkan sementara waktu sudah makin mepet. Setelah mandi ala kadarnya versi seorang bujangan dan motor dipanasi, aku bergegas segera ke kampus meninggalkan kamarku yang bak kapal pecah. Biarlah pikirku. Nanti diberesi setelah dari kampus. Eh, sebentar, tentu saja aku berpakaian dulu sebelum pergi ke kampus.<br />
***<br />
Sial! Ternyata jalan sepanjang menuju Gramedia dari arah selatan ditutup karena ada pengaspalan jalan. Terpaksa aku harus memutar lewat belakang Bethesda dan menembus jalan pintas SMAN 3 Yogyakarta. Syukurlah dua lampu merah yang aku lewati bersahabat, tidak menghentikanku. Motor terus aku kebut dengan kecepatan yang tidak biasa dan hampir terpeleset karena lewat tumpukan pasir di depan Wisma Gadjah Mada Jl. Kolombo.<br />
***<br />
Alhamdulillah, lega juga karena sampai kampus dengan selamat. Buru-buru aku mampir ke papan pengumuman untuk melihat jadwal dosen pembimbingku. Hatiku makin merasa lega karena kuliah dosenku selesainya pukul 12.40. Berarti aku tidak telat, pikirku sambil mengelus-elus dada. Akupun beranjak naik ke lantai dua untuk menunggu dosen di depan pintu ruangan tempat beliau mengajar.<br />
***<br />
Beberapa saat menunggu, tiba-tiba aku melihat orang yang sedang ditunggu ada di lantai satu. Aku berpikir beliau akan naik ke atas untuk melanjutkan kuliah karena jam kuliah memang belum usai sehingga aku tetap di atas. Tapi, setelah menunggu beberapa lama beliau belum kelihatan juga. Akupun segera bergegas mengejar ke ruangan tempat beliau biasa singgah, siapa tahu mungkin ada mahasiswa lain yang akan konsultasi. Ternyata beliau tidak ada. Setelah mengelilingi kampus dan bertanya ke beberapa orang hasil akhirnya adalah CELAKA 13, NIHIL. Aku bergegas ke ruang kuliah dan di sana aku melihat ternyata jadwal kuliahnya dimajukan 1 jam. Pantas beliau sudah tidak ada di ruangan, kataku dalam hati.<br />
***<br />
Bak dihantam halilintar tubuhkupun lemas, kaki sudah ga kuat lagi berjalan. Hasil perjuangan selama tiga minggu akhirnya tidak bisa diserahkan hari ini dan harus menunggu Selasa depan. Konsekuensinya, waktu untuk ke lapangan tertunda lagi. Keinginan untuk lulus dengan segera masih dalam angan-angan. Harapan untuk pulang ke Mataram-pun tertuda.<br />
Hemmm&#8230;Maafkan aku ibu, ayah&#8230;Keinginan kalian untuk memelukku belum bisa terealisasi&#8230; Aku juga kangen sama kalian. Kangen dipeluk. Kangen dengan masakan Ibu. Kangen sama plecing kangkun Lombok&#8230;Duh, betapa nikmatnya. Di Jogja kangkungnya keras, kecil-kecil lagi.<br />
***<br />
Sejenak aku istirahat duduk di bawah pohon menghirup udara segar yang bertiup dari sela-sela daun yang lebat. Beberapa helai diantaranya ada yang jatuh berterbangan. Tiba-tiba aku ingat sebuah kalimat di puisi yang ditulis temanku:</p>
<p>Daun terbang karena tiupan angin atau karena pohon sudah tidak menginginkannya lagi?</p>
<p>Sepintas aku berpikir apakah situasi yang aku hadapi sekarang ini terjadi karena keinginan dosenku atau karena keinginannku sendiri? Aku sempat mengernyitkan dahi memikirkannya.<br />
***<br />
Sambil makan siang–dari pagi perutku hanya diisi separuh gelas energen karena sebagian direbutkan para semut yang kelaparan di kamarku, terpaksa deh ga minum semuanya–aku curhat sama kakak kelasku, mahasiswa S-3 yang dosen pembimbinya sama dengan aku. Aku cerita panjang lebar. Namun, ceritaku ternyata tidak kalah seru dengan pengalamannya dibimbing oleh dosen kami. Sebuah nasihat klasik dia sempat berikan kepadaku sebelum kami berpisah. ”Sabar, dijalani saja. Namanya mahasiswa bimbingan, jadi harus manut”.<br />
***<br />
Yah, sabar! Itu adalah kata yang paling mujarab yang dijadikan sebagai alibi untuk menenangkan diri. Tiba-tiba aku ingat seorang tokoh dalam novel Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata, Lintang namanya. Seorang tokoh yang menempuh jarak 80 km pergi pulang sekolah dengan jalan kaki. Seorang tokoh yang tidak pernah ngeluh atas keadaan yang menimpanya. Seorang tokoh yang tidak pernah bolos sekolah walau apapun halangan yang menghadang. Seorang tokoh yang tetap bersikeras masuk sekolah meski kerap kali dihadang buaya buas. Seorang tokoh yang tetap masuk sekolah meski setibanya di sana teman-temannya sedang menyayikan lagu Padamu Negeri pertanda sekolah akan bubar. Seorang tokoh yang terpaksa jalan kaki 40 km pulang ke rumah dari sekolah karena rantai sepedanya yang sering putus sudah tidak bisa disambung lagi. Seorang tokoh yang sekolahnya sangat memprihatinkan. Seorang tokoh yang hanya memilki 9 orang teman di sekolahnya&#8230;Ya! Lintang, Lintang, dan Lintang. Tiada kata menyerah dalam kamusnya. Tiada kata mengeluh hinggap di hatinya&#8230;<br />
***<br />
Yups! kenapa aku harus mengeluh? Tanyaku dengan hati yang masih menyisakan rasa kecewa. Akupun beranjak ke perpustakaan dengan langkah gontai tidak bersemangat. Sejenak aku buka laptop dan segera aku hidupkan kotak ajaib ini. Biasanya aku browsing jurnal untuk nyari referensi tambahan. Kali ini aku tidak bersemangat. Segera aku buku Microsoft Word yang halamannya masih kosong. Mulai kutulis sebuah kalimat (persis di bawah judul) yang kemudian menjadi ide dari tulisan ini dengan harapan rasa kecewa terobati.<br />
***<br />
Kecewa. Sebuah kata yang memiliki makna yang dalam jika dirasakan oleh hati dan menyakitkan. Sebuah rasa yang timbul karena tidak terpenuhiunya antara harapan dengan kenyataan yang terjadi. Sebuah rasa yang terjadi karena kita mengharapkan sesuatu berdasarkan parameter yang kita tentukan sendiri. Sebuah rasa yang muncul  karena kita menilai sesuatu, keadaan, atau seseorang menurut parameter kita sendiri. Dan, aku menilai dosenku berdasarkan parameter yang ada pada diriku sendiri. Aku beranggapan dosenku akan selesai kuliah sesuai jadwal.<br />
***<br />
Parameter. Kata ini mengacu pada sesuatu yang bersifat luas, dalam ilmu statistik dipandang sebagai karakteristik populasi. Karena menyangkut populasi, keberadaannya tidak bisa diukur secara langsung. Apalagi, jika hal tersebut bersifat kualitatif, hal-hal yang bersifat behavioral , atitude, dan latent trait lainnya. So, harus dikuantitatifkan. Itupun mendapat kritikan karena penguantitatifan laten trait bersifat unroboust.<br />
***<br />
Secara teori, parameter populasi didekati dengan ekspektasi. Jadi, nilai ekspektasi adalah nilai yang bersifat teoritik (hanya berupa postulat), belum berujud, masih abstrak. Contohnya kasus yang aku alami. Aku memiliki ekspektasi untuk bertemu dosen pembimbing dan ekspektasiku beliau ada. Ekspektasi merupakan kesimpulan dari suatu event yang berulang sampai takhingga kali. Aku meng-ekspekatasi dosenku akan keluar sesuai jadwal. Agar ekspektasi menjadi nyata diperlukan suatu estimasi.<br />
***<br />
Estimasi merupakan nilai numerik dari ekspekatasi (parameter) dan bersifat pendekatan. Oleh karena bersifat pendekatan, tentu saja nilai ini mengandung kesalahan (error). Estimasi yang baik memiliki sifat kecukupan (sufficient statistically), konsisten (consistent), dan memiliki kesalahan yang kecil (small variance).<br />
***<br />
Estimasi yang baik adalah nilai yang tidak overestimate atau tidak underestimate. Aku memiliki estiamsi terhadap dosenku yang bersifat overestimate padahal sesungguhnya underestimate. Hal ini terjadi karena data-data yang aku miliki kurang. Seperti jadwal dosen yang berubah, tempat menunggu yang salah, dan teknik-teknik untuk ketemu dosen belum banyak aku miliki (jadi n kecil, tidak representatif). Jadi, karena kurangnya data akhirnya estimasiku menimbulkan kesalahan yang besar dan kesalahan ini berujud kekecewaan. Jika dinyatakan dalam hubungan persamaan sebagai berikut:<br />
Ekspektasi (parameter) = Estimasi + Error<br />
atau<br />
Harapan = Kenyataan + Kekecewaan<br />
Sesempurna apapun tidaklah pernah ditemukan hubungan (exactly):<br />
Harapan – Kenyataan = 0<br />
melainkan semuanya bersifat asimptot<br />
***<br />
Artinya, apapun itu, faktor kesalahan selalu memainkan peran. Dan, bukankah sangat fitrah manusia melakukan suatu kesalahan? Tapi, jika kesalahan itu dilakukan berulang-ulang dan menyagkut hal yang sama, tentu itu bukan kesalahan, melainkan kebiasaan. Aku teringat tausyiah Ust. Syatori Abdur Rauf bahwa</p>
<p>“semakin kita sering mengabaikan kesalahan kecil, semakin mengurangi sensitifitas kita terhadap kesalahan, dan karena merasa aman dan nyaman akan mencoba melakukan kesalahan yang lebih besar”</p>
<p>Kalimat ini memiliki makna yang sangat dalam dan aku mulai menyadari kalau aku telah melakukan banyak kesalahan dalam manajemen waktuku. Terkadang, bahkan sangat sering kita menyalahkan kesalahan sendiri sebagai sebab terjadinya kegagalan. Padahal, bukankah kesuksesan itu butuh yang namanya kesabaran? Yah, memang untuk tahu apa dan bagaimana sabar itu kita akan dikasi media berupa kegagalan atau kekecewaan..hemmmm&#8230;..<br />
***<br />
Jika ditarik keluar untuk generalisasi–tapi, ini hanya pendapat pribadi, tidak mewakili pendapat orang secara umum–ketika menilai sesuatu, keadaan, atau seseorang secara umum amatlah bijak kalau kita tidak menggunakan parameter yang melekat pada kita. Tindakan menggunakan ekspektasi parameter tidaklah tepat karena setiap sesuatu, kondisi, atau orang memiliki ukurannya sendiri-sendiri.<br />
Kalaupun menggunakan estimasi, estimasi-lah dengan bijak. Cari informasi yang banyak agar hasilnya tidak overestimate atau underestimate.<br />
***<br />
Janganlah kita mengukur baju orang dengan menggunakan tubuh kita sendiri karena setiap kondisi memiliki arti berbeda bagi setiap orang”<br />
***<br />
Meng-estimasi dengan overestimate (berdasarkan apa yang ada pada kita) cenderung akan menimbulkan kekecewaan atau dapat menimbulkan kesan akan meremehkan orang. Meng-estimasi dengan  underestimate, jika itu terhadap seseorang akan menyebabkan orang itu menjadi sakit hati. Sebuah kalimat bijak dari Salim A Fillah mungkin ada baiknya kita renungkan ”Janganlah kita mengukur baju orang dengan menggunakan tubuh kita sendiri”.  Karena apa yang aku alami, dari sudut apapun dosenku memandang tesisku, demikian pula keberadaan tokoh Lintang, semuanya mengandung makna sendiri. Hasil prasangka kita akan minimal dalam kesalahan jika kita sedikit merelakan diri untuk mencari informasi yang lebih banyak. Karena dengan kearifan dalam diri ketika memandang keadaan, sesuatu, atau orang akan bermuara pada sebuah kalimat ”Setiap kondisi memiliki arti berbeda bagi setiap orang”.</p>
<p>Ya Allah, segala sesuatu terjadi atas kehendak-Mu. Dan Engkau pulalah yang menciptakan kesulitan itu bersama kemudahan.. Laa Ilaaha Illaa Anta Subhaanaka Innii Kuntu Minazzolimiin&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>(1)	 tulisan ini dibuat tepat setelah peristiwa yang menjadi prolog tulisan ini terjadi. Kamis, 31 Juli 2008, pukul 14.15 – 17.30, di perpustakaan Pasca Sarjana UNY</p>
<p>Musmuliadi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
