<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:Wingdings;
panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
mso-font-charset:2;
mso-generic-font-family:auto;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}
@font-face
{font-family:Calibri;
mso-font-alt:"Century Gothic";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:Cambria;
mso-font-alt:"Palatino Linotype";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle
{mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:15.0pt;
margin-left:0cm;
mso-pagination:widow-orphan;
border:none;
mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt;
padding:0cm;
mso-padding-alt:0cm 0cm 4.0pt 0cm;
font-size:26.0pt;
font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;
mso-ansi-language:EN-US;}
span.TitleChar
{mso-style-name:"Title Char";
mso-ansi-font-size:26.0pt;
mso-bidi-font-size:26.0pt;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:#17365D;
letter-spacing:.25pt;
mso-font-kerning:14.0pt;}
p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph
{mso-style-name:"List Paragraph";
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:36.0pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:EN-US;}
p.Quote, li.Quote, div.Quote
{mso-style-name:Quote;
mso-style-next:Normal;
margin-top:0cm;
margin-right:0cm;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
color:black;
mso-ansi-language:EN-US;
font-style:italic;}
span.QuoteChar
{mso-style-name:"Quote Char";
color:black;
font-style:italic;}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
/* List Definitions */
@list l0
{mso-list-id:156383169;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:-1710315536 939179706 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l0:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
@list l1
{mso-list-id:513111384;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:711629932 1072082916 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l1:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
@list l2
{mso-list-id:1238780996;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:-1218020834 -936106012 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l2:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
@list l3
{mso-list-id:1914654349;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:729972204 -2043799118 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l3:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
@list l4
{mso-list-id:1957710982;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:-447066442 1652096638 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l4:level1
{mso-level-start-at:0;
mso-level-number-format:bullet;
mso-level-text:;
mso-level-tab-stop:none;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;
font-family:Symbol;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
ol
{margin-bottom:0cm;}
ul
{margin-bottom:0cm;}
–>

Sabtu
ini saya libur. Saya mencoba mengendurkan kembali ritme cepat yang biasa saya
gunakan saat bekerja. Saya membuka laptop saya dan mencoba melihat seluruh isi
yang ada di dalamnya. Folder My Documents berisi begitu banyak dokumen
penting yang saya bawa dari kantor dan bisnis pribadi saya. Hampir setiap saat
saya membuka dan mengisinya dengan tumpukan file-file penting. Namun ada satu
folder yang jarang saya buka. Folder Others yang berisi tentang
rekaman-rekaman baik itu dokumen, rekaman suara, atau video masa lalu. Saya
buka kembali dan mencoba mencari sesuatu disana.

Tak
ada yang istimewa. Hanya beberapa dokumen dan catatan-catatan ringan masa lalu.
Beberapa foto, rekaman percakapan telepon, dan video momen-momen penting. Namun
ada satu folder yang sangat jarang saya buka. Bukan karena tidak ada sesuatu
disana, tetapi justru ada sesuatu disana yang menjadi masa lalu yang
menyakitkan. Saya membukanya kembali. Folder itu terbuka. Isinya hanya beberapa
file mp3 yang berjejer sebanyak dua baris. Namun rekaman tersebut adalah
sedikit rekaman dari masa lalu saya yang menyakitkan. Dan saya kembali dibawa
dalam situasi itu.

* *
*

Hari
itu, Minggu, beberapa bulan yang lalu, saya berada dalam kamar saya. Mengerjakan
proyek di depan komputer dan tenggelam diantara buku-buku pemrograman yang
sehari-hari saya baca. Tiba-tiba, telepon genggam saya berdering. Salah satu sahabat
saya membutuhkan bantuan. Sahabat saya, seorang wanita, membutuhkan bantuan.
Dia menghadapi seorang laki-laki yang secara sadis dan bengis membentaknya dan
benar-benar memperlakukan wanita layaknya banci. Tentu saja, seorang wanita
melawan seorang laki-laki bukanlah lawan yang seimbang. Saya memintanya untuk
menyebutkan dimana posisinya dan saya langsung meng-hibernate laptop
saya dan secepat mungkin menuju ke lokasi yang disebutkannya.

Sesampainya
disana, saya melihat pemandangan yang mengerikan. Seorang laki-laki yang sudah
beristri membentak-bentak sahabat saya itu. Entah apa yang jadi masalahnya,
namun saya tidak akan menerima perlakuan seperti itu. Dengan sedikit marah,
saya parkir motor saya di depan mereka. Rupanya, kedatangan saya membuat
laki-laki ini terdiam. Ia lalu mengambil posisi agak menjauh dan benar-benar terdiam.
Sebelum saya mulai, saya pergi mengambil air wudhu agar segala ucapan dan
tindakan saya tidak keluar batas. Saya berdoa seperti doa Nabi Musa ketika
menghadapi Firaun,

“Ya
Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan
lepaskankah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”

Selesai
mengambil air wudhu, saya berjalan menuju mereka. Saya mulai berbicara pelan
dan tenang. Mencoba mengurai apa yang sedang terjadi. Sahabat saya menangis. Lalu
saya mencoba mengajak laki-laki itu untuk berdialog. Saya katakan padanya bahwa
tidak seharusnya seorang laki-laki memperlakukan wanita seperti itu. Tindakan
yang hanya dimiliki seorang laki-laki penakut.

Kejadian
itu terus berputar dan menjadi hidup dalam benak saya selagi saya mendengarkan
dialog yang saya rekam sejak saya tiba di tempat itu hingga laki-laki tersebut
melarikan diri dengan motornya terburu-buru. Ia melarikan diri meninggalkan
saya dan sahabat saya yang tak berdaya.

Rekaman
itu terus berputar menuturkan dialog saya dan sahabat saya waktu itu. Dan akhirnya,
rekaman itu selesai ketika saya dan sahabat saya masing-masing pergi
meninggalkan tempat itu. Hingga saat ini, kejadian tersebut menyisakan luka
yang mendalam bagi saya karena dengan jabatan dan kekuasaan yang dia miliki,
sampai detik ini laki-laki tersebut tak pernah berhenti menjatuhkan saya,
dengan berbagai cara.

* *
*

Kita
memiliki masa lalu, baik yang menyenangkan ataupun yang menyakitkan. Hampir
semua orang (atau bahkan semua orang) memiliki masa lalu itu. Masa lalu yang
menyenangkan biasanya kita koleksi ke dalam lembaran-lembaran album foto dan keping-keping
CD. Masa lalu itu selalu ingin kita kenang dan menjadi penyemangat hidup kita.
Masa lalu yang menyenangkan itu akan menjadi sesuatu yang membuat kita
tersenyum di saat dunia seperti tak bersahabat sama sekali.

Sebaliknya,
masa lalu yang menyakitkan biasanya kita simpan dalam ruang yang sempit, kardus
yang gelap, dan berada di pojokan gudang yang tak terjangkau sama sekali. Harapan
kita adalah masa lalu yang buruk itu tak akan pernah mengingatkan kita lagi
tentangnya. Tak akan pernah hadir lagi dan tak akan pernah mengusik hari-hari
ceria yang kita miliki. Saya pun menyimpan masa lalu yang menyakitkan dalam
folder yang jarang saya jangkau, folder yang tidak penting dan tidak menarik
untuk dibuka.

Sebagian
orang berpikir untuk melenyapkan saja kenangan-kenangan masa lalu dan memulai
hidup baru dengan lebih baik. Namun justru beberapa tahun kemudian, ketika
mereka sukses dan kenangan tersebut tanpa sengaja hadir kembali, biasanya
mereka tidak siap dan menjadi jatuh karenanya. Sebagian orang lagi dengan
bijaksana menyimpannya dan menjaganya sebagai pelajaran terbaik dalam hidup. Saat
mereka ditimpa kesulitan dan musibah, terkadang mereka justru melihat dan me-review
masa lalu mereka yang buruk, agar mereka dapat membandingkan bahwa saat ini
tidaklah seburuk dahulu. Dan mereka yakin jika mereka mampu lepas dari masa
lalu yang buruk, saat ini pun mereka pasti bisa.

Tidak
ada sesuatu pun yang dapat menghalangi keceriaan kita jika kita mampu menanggapinya
dengan positif. Pengalaman apapun, apakah itu baik atau buruk, bisa saja
menjadi penyebab keceriaan kita di masa yang akan datang. Rekaman yang saya
dengar tadi biasanya sangat menyakitkan dan saya tidak menemukan satu celah pun
yang membuat saya ceria ketika mendengar rekaman itu. Namun, lambat laun,
seiring berjalannya waktu, saya mampu mengatasinya dengan baik.

* *
*

Selesai
mendengarkan rekaman itu, suasana hati saya tidak berubah. Saya sudah tidak
lagi terpengaruh dengan situasi saat itu. Kondisi saya menjadi lebih baik. Saya
buka Windows Media Player dalam laptop saya dan memilih satu diantara ratusan
koleksi lagu yang ada disana. Salah satu lagu favorit saya adalah dari Oasis
yang berjudul Don’t Look Back in Anger

Yogyakarta, 9 Agustus 2008

Seharusnya seperti itulah kita bersikap
pada masa lalu yang menyakitkan.. Don’t Look Back in Anger… agar kita selalu
dapat mengambil pelajaran darinya…

Leave a Reply