Siapa
yang ngga pernah kena virus? Bukan virus
influenza, apalagi virus merah jambu. Yang saya maksud disini adalah virus
komputer. Siapapun yang pernah dan masih menggunakan komputer pasti minimal
pernah sekali merasakan jengkelnya terkena virus. Apalagi jika antivirus yang
dimiliki sudah up-to-date tetapi masih saja lolos.
Menjengkelkan? Pasti.
Tulisan
ini saya buat persis setelah laptop saya terinfeksi virus bernama KALONG.VBS. Bagi para programmer, file dengan ekstensi
VBS ini sudah tidak asing lagi. Namun bagi pengguna biasa, jangankan ekstensi
VBS. Virus dengan ekstensi .TXT saja pasti sudah kerepotan (tetapi apa ada
virus dengan ekstensi .TXT ya?).
Kisahnya
begini: Suatu hari, komputer di asrama saya terkena virus tak dikenal yang
mengubah folder menjadi tipe application.
Berbagai macam antivirus sudah dicoba, mulai dari antivirus ala dr. Avast hingga mbah dukun AVG. Namun mereka tetap tidak
mampu menangkal keganasan virus ini. Akhirnya, teman-teman menyerah. Ada dua
laptop di asrama yang tidak terinfeksi virus yaitu milik saya dan salah satu
teman saya, Eko. Beliau menggunakan Kaspersky. Wah! Lolos juga ternyata! Mau tak
mau, NOD32 saya turun tangan.
Hasilnya tidak mengecewakan. Hampir setidaknya lima ribuan folder yang terinfeksi
telah dibersihkan. Bangga juga dengan NOD32 (maaf,
bukan promosi).
Setelah
kondisi kembali tenang dan terkendali, saya masuk ke kamar saya dan seperti
biasa, membuka laptop untuk mengerjakan tugas sehari-hari. Tidak ada yang aneh,
hanya terasa sedikit lambat. Hmm… saya double-click
drive E dimana saya menyimpan data. Aneh. Tidak terbuka. Dan ternyata semua
drive saya tidak dapat dibuka dengan cara double-click.
Saya
mulai curiga bahwa laptop saya terinfeksi virus. Saya jalankan NOD32 dengan mode in-depth analysis dengan harapan
muncul virus tersebut. Selesai in-depth analysis,
tak tampak hasil apa-apa. Ah, saya tak percaya. Akhirnya mau tak mau saya
mengeceknya secara manual. Hasilnya, saya temukan file aneh dengan nama k4l0n6.sys.vbs terdampar di root folder masing-masing drive.
Saya
yakin inilah virus itu karena saya merasa tidak pernah menyimpannya, apalagi
dengan nama mirip mafia begitu. Saya telusuri jalannya virus tersebut. Pertama,
menekan Ctrl+Alt+Del untuk melihat apakah ada aktifitas yang mencurigakan di processes yang sedang berjalan. Gotcha! Wscript.exe dijalankan lebih
dari satu kali dan dengan intensitas yang berbeda. “Ini pasti virus, ini pasti
virus”, begitu dalam hati saya sedikit kegirangan bercampur cemas.
Dengan
hati-hati, saya buka file k4l0n6.sys.vbs
dengan menggunakan editor favorit saya, EditPlus.
Hasilnya? Viola! Script
Visual Basic yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Kabar baiknya adalah, si
pembuat virus tersebut juga menyertakan komentar (comment)
tentang apa yang diperbuat oleh programnya. Sangat cerdik (sekaligus bodoh).
Akhirnya,
dari script tersebut, saya mengerti
bagaimana virus ini menginfeksi laptop saya. Dengan sedikit susah payah dan
semangat membara, virus ini akhirnya pamit undur diri dari laptop saya secara
damai. Saya hanya mampu geleng-geleng kepala dan beristighfar, mengapa masih
ada saja orang yang tega membuat kerusakan di komputer orang lain serta membuat
repot dan membuang-buang waktu orang lain? Bisa jadi, si pembuat virus tidak
pernah terpikir dosa. Namun apakah ia tidak pernah terpikir bahwa ayah, ibu,
kakak atau bahkan adiknya kerepotan dan bersedih hati ketika pekerjaan mereka
hilang gara-gara virus yang dibuat orang lain? Harusnya si pembuat virus telah
memikirkan hal itu sejak awal. Atau semoga, semoga saja, data pentingnya tidak
hilang oleh ulah virusnya sendiri, atau virus orang lain.
Yogyakarta, 7 November 2007
“Well done, NOD32!”
1 Comment »
Software
Operating System :: Microsoft Windows XP SP 2
:: Still looking for the best…
Browser :: Mozilla Firefox
:: It’s the BEST browser in the earth
Mail Client :: Mozilla Thunderbird :: Great, but still wondering why MS Outlook is
more fancy
Office Tools :: Microsoft Office 2007 :: This is the best that I got. Any suggestions?
Programming Language :: Delphi
and PHP :: PHP is powerful and the rest
is history…
Photo Editor :: Adobe Photoshop :: Hmm, no comment….
Art Editor :: CorelDRAW :: Light and … not bad…
PDF Creator and Reader :: Adobe Acrobat :: I count on this
Multimedia Editor :: Cool Edit Pro :: Simple but #1
Burning Tools :: Nero Essentials :: Standard tools, eh…
Image Creator :: Alcohol 120% :: Altough Nero is standard but I use this for
imaging CD
Multimedia Player :: Windows Media Player :: Seeking for the best and still comparing with iTunes…
Upload Manager :: FileZilla :: It’s fast and FREE
Download Manager :: Free Download Manager :: Nice companion for Firefox
Video Editing :: Ulead Video Studio :: Of course. Anything else?
Chatting and Video Conferencing :: Yahoo! Messenger :: It’s a must!
Virtual Hard Drive :: Gmail Drive ::
I have unlimited space. Do you have it?
Accounting :: Microsoft Money :: Whew, my (finansial) life become easier (to
watch)…
Repository/SubVersion :: TortoiseSVN :: Best repository. Thanks to Codesign geeks J
Server :: Apache :: I like this one. No doubt!
SQL Server :: MySQL :: Not so perfect but awesome one
SQL Client :: PHPMyAdmin ::
I am a web programmer and if you do, you use
this, don’t you?
Antivirus :: NOD32 :: I use it almost 2 years. Why should I change
it?
Zip Manager for Multimedia :: WinRAR :: Nothing else matter…
Zip Manager for
non-Multimedia :: WinZip :: Nothing else matter, too…
Text Editor :: EditPlus :: I wonder if vi editor can run in Windows. I
love vi… (and EditPlus)…
Encryption :: Pretty Good Privacy (PGP)
:: at least, I am (relatively) secure…
And the last is…
GAMES ::
NEED FOR SPEED UNDERGROUND II
AND MOST WANTED :: Don’t ask, don’t tell…
FOOTBALL MANAGER 2008 :: Wanna play? I am the Red Devils manager…
Additional Information You Didn’t Want to Know
Processor :: AMD Turion :: Together we sang the song, “AMD, How is the
day?”
Yogyakarta, December 5, 2007
This information is not intended to be advertisement nor show
up thing. Someone ask me to put it up in my blog (there it is) and become
available to her/him. If you don’t like this article, don’t read (but if you
reach this text anyway, I am sure you have read all of the text). Feel free to
leave a comment or send me a message for suggestions on what I suppose to use
(but, please, don’t recommend Linux. I already use it in my P166 MHz box). I
thank you for it.
No Comments »
“Senang berjumpa lagi denganmu.”
Dialog itu adalah salah satu dialog yang cukup membuat novel ini terkenal.
Erich Segal, sang pengarang novel yang berasal dari luar negeri, dapat membuat
para pembacanya tertegun dan larut dalam novel hasil karyanya. Only Love,
atau Cinta Abadi, berkisah tentang pria dan wanita yang saling jatuh cinta.
Awalnya mereka berdua dikirim oleh Medicine Internationale —semacam
organisasi kedokteran yang membantu korban perang— ke sebuah tempat di
pedalaman Afrika. Sejak awal, Matthew, yang menjadi pemeran utama dalam novel
ini, sudah menaruh hati kepada Silvia, gadis lulusan kedokteran asal Italia.
Persiapan-persiapan menjelang keberangkatan menuju Afrika membuat mereka
semakin dekat. Dan ketika hari keberangkatan tiba, Matthew yakin bahwa dirinya
telah jatuh cinta kepada Silvia.
Kejadian yang mereka alami setibanya
di Afrika sungguh di luar dugaan. Penyakit yang melanda penduduk setempat
adalah penyakit-penyakit yang tidak mereka temui dalam kehidupan sehari-hari di
negara masing-masing kecuali hanya sebatas pengetahuan belaka. Dan saat ini, di
depan mereka, telah berdiri ratusan penduduk setempat dengan segala macam
penyakitnya menunggu pengobatan dari mereka. Kejadian ini benar-benar membuat
Silvia takut dan kehilangan keberanian. Bahkan, Silvia sempat kehilangan
ingatan mengenai ciri-ciri orang yang terkena penyakit tertentu. Saat itulah,
Matthew datang dengan membesarkan hati Silvia sehingga Silvia kembali bangkit
dan berusaha sekuat tenaga. Ia berhasil. Silvia Berhasil. Hal ini terbukti
ketika ia berani mengambil keputusan untuk mengoperasi seorang anak yang
menderita selaput paru-paru tanpa obat bius. Dan kedua, dengan dukungan
Matthew, Silvia berhasil memasok obat-obatan yang jumlahnya semakin menipis
karena ayahnya bekerja di perusahaan FAMA, sebuah perusahaan mobil terbesar di
Italia.
Hari demi hari pun dilalui dengan
berbagai macam perasaan. Dan akhirnya Matthew mengungkapkan cintanya. Dan
Silvia menerimanya. Akhirnya mereka begitu bahagia hidup di tengah padang
tandus yang panas dan gersang. Bagi dokter yang lain, pergantian hari semakin
menambah penderitaan mereka, tetapi tidak bagi Matthew dan Silvia. Setiap hari
adalah hari yang indah dan berbunga bagi mereka, hingga suatu hari…
Matthew dan Silvia ditugaskan ke
luar kota. Dengan bermodalkan mobil tua dan sebuah pistol genggam, mereka harus
keluar dari klinik. Di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh sekelompok orang
tak dikenal. Matthew dan Silvia berhasil melarikan diri, namun malang bagi
Matthew, pelipisnya tertembak dan ia tidak sadarkan diri.
Kejadian yang tidak diinginkan
Matthew akhirnya terjadi juga. Dirinya telah berpisah dengan Silvia sejak ia
dirawat di rumah sakit karena sebuah peluru telah menerjang masuk hingga sampai
pada bagian otaknya. Silvia, yang keberadaannya dirahasiakan dari Matthew,
tiba-tiba menikah dengan seorang pemuda kaya yang menjadi relasi ayahnya. Dan
Matthew tidak dapat berbuat apa-apa ketika mengetahui berita tersebut.
Tahun demi tahun dilewati Matthew
dengan perasaan duka dan kecewa. Hanya tuts-tuts piano saja yang setia
menemaninya melewati hari-hari kelabu tanpa Silvia. Tetapi akhirnya waktu
jualah yang menyembuhkan luka di hati Matthew. Dan akhirnya Matthew kembali
bekerja sebagai seorang dokter seperti biasa. Tak lama setelah itu, Matthew
menikah dengan seorang gadis cantik yang dikenalnya di sebuah universitas.
Ingatan Matthew terhadap Silvia
hampir hilang. Atau dapat dikatakan sudah hilang. Matthew sudah tidak
memikirkan keberadaan Silvia lagi. Hingga pada suatu hari, seorang laki-laki
yang ternyata suami dari Silvia, menelepon Matthew dan mengatakan bahwa ia
membutuhkan pertolongan Matthew. Istrinya, Silvia, menderita sakit keras. Dan
hanya Matthew saja yang dapat menyembuhkannya.
Pertemuan itu membuat Matthew
kembali mengenang masa lalunya. Namun ia teringat kembali bahwa ia sudah
memiliki seorang istri yang sangat dia cintai. Ketika melihat wajah Silvia yang
sedang terserang penyakit itu, Matthew masih dapat melihat pancaran kecantikan
yang terpancar dari wajah Silvia. Tapi sayang, Matthew juga dapat menyaksikan
sorotan mata sedih milik Silvia, yang terlihat seperti orang yang tertekan dan
tidak bahagia.
Pertemuan itu adalah pertemuan
terakhir dengan Silvia. Gadis yang dulu pernah dicintainya dan mengisi relung
hatinya, telah pergi meninggalkan Matthew dan sang suami untuk selama-lamanya.
Senyum yang terkembang di wajahnya membuat Matthew seakan menghela napas lega
karena penderitaan Silvia telah berakhir. Dan kepergian Silvia telah mengubur
jauh kenangan indah Matthew bersama Silvia ketika mereka masih bergabung dengan
Medicine Internationale.
Yogyakarta, 3 Desember 2007 "Did you believe that I have read this novel over than 5 times?"
1 Comment »
Mereka berkata, hidup
perlukan cinta
Agar sejahtera aman dan
bahagia
Andai tiada atau pudar
warnanya
Meranalah jiwa gelaplah dunia
Warna-warna cinta yang
terlukis di hatimu
Semat pada senyum dan
tangismu
Agar mewarnai jiwamu yang
tulus
Seperti sang pelangi selepas
gerimis
Mereka berkata, cinta itu
merah
Mengalir bersama titisan yang
sempurna
Cinta berharga bila sudah
tiada
Menjadi sejarah yang mungkin
kan dilupa
Apa warna cinta bila hidup
sengketa
Kabur warnanya…
Yogyakarta, 3 Desember 2007
Teringat seorang sahabat yang hobi bertanya, “Laut apa? Laut
biru.”
“Biru apa? Biru warna.”
“Warna apa? Warna-warna cinta…”
(Where are you now?)
No Comments »
Begitu
kira-kira yang saya rasakan ketika setelah beberapa saat kehilangan ATM BCA
saya. Bukan berarti saya bersyukur kehilangan ATM itu. Bukan berarti juga saya
termasuk orang-orang yang terbukti sabar. Perkataan itu saya ucapkan setelah
hampir satu jam lamanya membodoh-bodohi diri sendiri dan tidak memaafkan
kealpaan yang saya lakukan.
Saya
baru menyadari betapa bersyukurnya saya ketika sibuk mencari ATM yang biasanya
ada di dompet dan kini sudah tidak ada lagi. Saya tidak menyadari bahwa isi
dompet saya bukan hanya ATM itu saja. Di dalamnya masih ada SIM C, SIM A, KTP,
KTM yang juga berfungsi sebagai ATM Mandiri, dan STNK Motor. Alangkah
beruntungnya jika hanya ATM saja yang hilang karena diantara kartu-kartu
tersebut, sepertinya hanya KTP dan ATM saja yang mudah dan murah
penggantiannya.
* * *
Sulit
rasanya untuk selalu dapat menghadapi saat-saat seperti ini dengan penuh
kesyukuran. Saya ingin selalu belajar bertindak seperti apa yang baru saja saya
pikirkan. Saya ingin bersyukur seperti itu bukan satu jam setelahnya, atau
sehari setelahnya, atau mungkin setelah ATM saya berhasil ditemukan atau
diganti. Sangat banyak sebetulnya alasan yang dapat saya gunakan untuk selalu
dapat bersyukur.
Menyadari
bahwa nikmat dan anugerah yang kita terima dari-Nya lebih besar dari apa-apa
yang hilang dari kita memang suatu hal yang sulit. ATM bisa jadi merupakan hal
yang enteng dan kecil. Anda mungkin pernah merasakan sesuatu yang lebih besar.
Kecopetan uang plus dompetnya, kehilangan handphone, kecurian laptop dan
beberapa kehilangan lain yang membuat hidup Anda menjadi tidak nyaman.
Semakin
besar kehilangan kita, biasanya semakin sulit untuk melihat nikmat yang lebih
besar yang kita terima dari-Nya. Semakin besar kehilangan kita, biasanya kita
mengecilkan pemberian-Nya yang begitu dahsyat. Secara teori, kehilangan mobil
mungkin tidak berarti apa-apa ketimbang ‘kehilangan’ jantung atau paru-paru
Anda sehingga Anda tidak dapat bernafas. Kehilangan televisi, kehilangan rumah
(maksud saya secara legalitas, bukan secara fisik), kehilangan kendaraan,
perhiasan, fasilitas, dan semua yang kita cintai, tidak lebih besar dibanding
kehilangan satu buah ginjal. Namun saya katakan itu baru teori. Implementasinya
jelas sulit.
Saya
pun membutuhkan waktu satu jam hanya untuk mengurusi ATM yang nilainya maksimal
mungkin hanya mencapai 50 ribu (biaya penggantian ATM). Dibanding dengan SIM A
dan SIM C saya yang keduanya saja sudah bernilai 800 ribu, KTM plus ATM Mandiri
yang bernilai 500 ribu (karena untuk mendapatkannya harus membayar SPP terlebih
dahulu), KTP yang cuma 10 ribu namun harus menunggu hingga 2 bulan lamanya
(biasalah, birokrasi Indonesia), maka ATM saya tidak ada apa-apanya (kecuali
jika saldo saya memang jumlahnya cukup signifikan; toh
masih bisa diblokir).
Mengapa
sulit untuk selalu bersyukur ya? Allahu Rabbi,
berikan kami kebiasaan bersyukur seperti halnya yang telah engkau berikan
kebiasaan itu kepada para Rasul-Mu yang tak ada satu pun manusia mampu
menanggung beban seberat mereka. Aamiin.
Yogyakarta, 8 November 2007
“Alhamdulillah, SIMnya ga ikut ilang…”
No Comments »
Betapa indahnya kehidupan
orang-orang yang beriman
Segala yang terjadi di dalam
dunia ini
Bagi mereka tiada yang
merugikan
Segalanya dijadikan pelajaran
Saat berada di atas tiadalah
berpongah diri
Karena kekayaan bukanlah
untuk dibanggakan
Namun disyukuri dan diberi
Kepada yang memerlukannya
Saat berada di bawah tiadalah
berputus asa
Karena kemiskinan bukanlah
untuk dicela
Namun dihiasi dengan
kesabaran
Agar tampak indah
Dan Allah pun semakin cinta
Subhanallah Alhamdulillah Wa laa
ila ha illaLLah Allahu Akbar
Begitulah kehidupan
orang-orang yang beriman…
[senandung nasyid yang bahkan penyanyi dan judulnya pun aku
tak tahu]
Yogyakarta, 19 November 2007
“Ku mencintaimu, walaupun tak
sebesar cinta Allah padamu karena kesabaranmu… karena cinta-Nya padamu tak kan
dapat ditandingi dengan apapun…”
No Comments »
Tidak dapat dipungkiri bahwa partai
politik yang paling cepat perkembangannya di Indonesia ini adalah Partai
Keadilan Sejahtera (PKS). Partai ini mengusung keadilan dan kesejahteraan untuk
rakyat Indonesia
serta didominasi oleh kaum muda intelektualitas. Namun demikian, hal tersebut
justru menjadikan PKS partai yang disegani para elite politik dan disukai
masyarakat. Orang-orang PKS dikenal ramah dan santun. Demonstrasi menjadi
sesuatu yang enak dipandang karena rapi dan tidak mengganggu lingkungan
sekitar. Tidak ada teriakan, hujatan, cemoohan, celaan dan sederet kata-kata
kasar lainnya yang tertuju bagi orang yang didemo. Begitu santun dan penuh
etika.
PKS didirikan pada tahun 1998, yang
lebih dulu dikenal dengan Partai Keadilan (PK). Partai ini berubah nama menjadi
PKS sejak diberlakukannya Electoral
Threshold (ET) bagi partai-partai yang tidak memenuhi syarat 3%. PKS saat
itu memiliki kelihaian dan kepiawaian dalam mengkomunikasikan perubahan nama
ini sehingga para simpatisan dan masyarakat tahu pasti PKS itu adalah nama baru
dari PK. Merek beda, tetapi isi tetap sama.
Tidak ada seorang pun yang mengira
bahwa PKS akan melejit hingga Pemilu 2004. Partai-partai lain tidak pernah
mempertimbangkan kekuatan PKS dan sibuk dengan partai-partai besar yang memang
sudah sejak lama bercokol di Indonesia.
PKS sendiri pun tidak menyadari potensi kekuatan massa yang dimilikinya sehingga saat itu PKS sendiri
terkejut dengan hasil yang didapat. Hasil ini tidak terlepas dari usaha dan
kesungguhan para petinggi dan kader-kader dibawahnya untuk serius mengenalkan
PKS kepada masyarakat dan membuat mereka memutuskan untuk memilih PKS pada
Pemilu 2004. Sungguh hasil yang luar biasa!
Marketing yang dilakukan kader-kader
PKS saat itu merupakan marketing mix
yang sering dilakukan oleh perusahaan baru yang sedang melakukan penetrasi
pasar. Berbagai cara dilakukan, asalkan halal dan tidak melanggar aturan yang
berlaku. PKS saat itu begitu sering turun ke jalan, berbagi duka bagi korban
bencana, happening art, demonstrasi
menentang korupsi, prihatin terhadap palestina, dan seabreg aksi marketing lain
yang begitu mengena di hati masyarakat luas. PKS menemukan celah yang belum
dimanfaatkan oleh partai-partai lain: celah kepedulian.
Sebelumnya, kepedulian kepada
masyarakat hanya dilakukan oleh partai-partai besar menjelang pemilu. Itupun
hanya sekedar ritual biasa yakni bagi-bagi uang atau sembako. Namun PKS melihat
potensi yang ada di masyarakat lebih besar dari itu. Selain menyediakan sembako
murah bagi keluarga yang tidak mampu dan tidak menyarankan bagi-bagi uang, PKS
mampu menyentuh masyarakat dengan program-program seperti pelayanan kesehatan
gratis, penyediaan ustadz semasa ramadhan, penyaluran zakat, hingga
penggalangan dana untuk rakyat Palestina. Prestasi terbaik yang menurut saya
belum ada tandingannya hingga saat ini adalah berhasilnya PKS, yang saat itu
masih sangat kecil, menjebloskan koruptor kelas kakap ke dalam penjara. Hal ini
pun tidak terlepas dari peran Nur Mahmudi Ismail yang saat itu menjabat sebagai
Menteri Kehutanan bersama-sama dengan Suripto.
Canggihnya, PKS tidak hanya
melakukan hal tersebut di saat-saat menjelang kampanye. PKS mengagendakan
kegiatan-kegiatan sosial tersebut sepanjang tahun. Bagi daerah-daerah yang
mayoritas PKS akan sangat merasakan kegiatan ini. Didukung sumber daya yang
sangat memadai, bahkan lebih dari cukup, PKS mengisi kekosongan di segala lini.
Ada dokter,
pilot, tentara, pegawai negeri, guru, dosen, mahasiswa, pengusaha, pedagang,
hingga buruh dan tani. PKS melakukan apa yang partai lain enggan melakukannya.
PKS membuat perkumpulan profesi yang ke depannya akan diberdayakan dan
bersama-sama menyelesaikan masalah di bidangnya masing-masing.
Waktu terus bergulir hingga PKS
memetik hasilnya di Pemilu 2004. Kemenangan gemilang dan pukulan telak bagi
partai-partai lainnya begitu nyata. Walaupun saat itu PKS bukan nomor satu,
namun persentase 7% yang diraihnya begitu besar dibandingkan dengan pemilu
sebelumnya yang hanya berkisar 2,3%. PKS berhasil memasarkan ‘produk’nya hingga
pangsa pasarnya meningkat hampir 400%! Dan Ibukota Jakarta sebagai sentra
negeri ini berhasil diduduki PKS yang muncul di peringkat pertama disusul PDI-P
dan Golkar. Suatu pemasaran yang gemilang!
Saat ini, PKS sudah menjadi besar.
Ibarat seorang bayi yang beranjak dewasa, makanannya sudah bukan lagi bubur
bayi dan sereal. PKS mencoba mengembangkan sayapnya, melakukan ekspansi pasar
dan berusaha menjual lebih banyak. Hal ini terlihat dengan keseriusan PKS
menambah jumlah kader di setiap daerah. Namun sebagaimana perusahaan yang
hendak beranjak besar dan berkembang pesat, akan ada perusahaan lain sebagai
saingan yang menahan laju pertumbuhannya. PKS menyadari hal ini.
Berbagai cara dilakukan dan
bermacam-macam strategi coba diaplikasikan di lapangan untuk tetap maju di
tengah hambatan dan tekanan para pesaing politik yang mencoba menjatuhkan PKS.
Lazimnya, perusahaan yang akan dijatuhkan akan melakukan balasan dengan balik
menjatuhkan lawannya. Namun PKS berbeda. PKS melakukan hal-hal yang elegan dan
dianggap pantas dalam menyikapi persaingan antar kepentingan partai politik.
Bukan hasrat menjatuhkan yang dikedepankan namun akhlak dan perilaku santun
yang ditunjukkan. Harapannya, semula musuh bisa menjadi teman. Namun PKS
menyadari bahwa tidak semua musuh dapat berubah menjadi teman.
Kini, petinggi-petinggi PKS telah
menjadi terkenal. Sebagian ada yang menjadi anggota dewan, pengusaha terkenal
(entah terkenal sejak lama atau berkat rekanan yang kini duduk di kursi dewan),
tokoh masyarakat, hingga ustadz nasional. Posisi mereka di partai pun harus
ditinggalkan. Dan sebagaimana organisasi sehat lainnya, PKS memiliki mekanisme
kaderisasi yang rapi. Kader-kader muda naik ke atas menggantikan seniornya yang
sudah tua. Dengan berganti orang, tentu akan berganti pula semangat dan
geraknya. Ada harapan baru, semangat baru, strategi baru, dan hampir semuanya serba baru
kecuali konsep awal dan beberapa hal yang prinsipal.
Hampir genap 3 tahun PKS menjalani
masa pasca pemilu 2004. Kader-kader muda yang baru saja naik kini sudah mulai
dapat menyesuaikan diri. Mereka telah bersiap menghadapi perang baru di tahun
2009. Strategi-strategi telah disusun, rencana telah ditulis, alternatif pun
sudah diperkirakan. Namun pertanyaannya, akankah kader-kader muda ini mendapat
ilmu marketing yang begitu elegan
dari pendahulunya? Atau mereka sekedar mengambil alih kedudukan tanpa sempat
menyerap ilmu marketing mix yang
sudah begitu mantap diterapkan dan dikenal masyarakat? Bisa jadi, kader-kader
inilah yang akan meramu marketing mix
terdahulu dengan perubahan zaman sekarang sehingga tercipta super marketing mix yang mampu melampaui
hasil yang telah dicapai pendahulunya; atau tidak tertutup kemungkinan, mereka
inilah yang akan membuat PKS terpuruk dengan ilmu marketing mix yang gado-gado dan tidak karuan, tidak terarah, serta
penuh dengan kekacauan (chaos). Mereka
bisa menjadi seorang “satria piningit” bagi partai mereka, atau mereka juga
bisa berada dalam posisi generasi ketiga dimana dalam mitos usaha dikenal
dengan pepatah “generasi pertama
merintis, generasi kedua membangun dan mengembangkan, dan generasi ketigalah
yang menghancurkan”. Semoga tidak demikian adanya.
Yogyakarta, 6 Maret 2007 "Setelah membaca buku Hermawan Kartajaya yang berjudul ‘Hermawan Kartajaya on Marketing‘ "
No Comments »
Itu
judul acara yang ditayangkan salah satu stasiun televisi malam tadi. Saya
kebetulan menontonnya karena kakak saya juga sedang menontonnya dan saya tidak
dapat memindah channelnya karena dia yang memegang remote-nya.
Sepintas, saya tidak terlalu memperhatikan isinya karena saya sambil makan malam
(makan malam lebih dari jam 10 karena saya baru pulang dari Bogor).
Lama-kelamaan, saya tertarik untuk mengikutinya lebih lanjut.
Cinta Bikin Pusing sepertinya
bercerita tentang tips-tips untuk wanita dalam menghadapi pria yang ‘hobi’
selingkuh. Mungkin pada saat itu temanya adalah selingkuh. Di film tersebut
digambarkan seorang pria yang berpacaran dengan seorang wanita. Tiba-tiba, sang
wanita memergoki pacarnya, si pria tadi, sedang makan malam bersama wanita lain
di restoran yang sama. Kaget, jelas. Marah, bisa jadi. Tapi wanita ini tetap
tenang dan memberikan nasihat serta trik yang harus digunakan untuk menghadapi
pria macam itu. Setidaknya itu yang saya tangkap dari balik layar kaca.
Si
wanita tadi memohon ijin kepada teman-temannya untuk pergi sebentar ke kamar
kecil. Disanalah wanita ini memberikan tipsnya untuk kita, para pemirsa. Tips
pertama adalah kira-kira seperti ini: “Jika melihat pacar kita selingkuh, sikap
pertama yang harus kita ambil adalah tenang”. Wanita ini menunjukkannya dengan
baik sekali. Ia tenang dan tidak terlihat emosi (walau dalam aktingnya
menggambarkan bahwa ia memendam emosi). Tips yang kedua: “Tunjukkan bahwa kita,
kaum wanita, tidak membutuhkan mereka, kaum pria, dan bersikaplah cuek”. Wanita
ini akhirnya menghampiri pacarnya dan selingkuhannya. Si pria jelas sangat
kaget dan salah tingkah (sebagaimana para suami yang salah tingkah dan overacting ketika kepergok sedang
berduaan dengan seorang wanita). Lalu wanita ini mengambil alih situasi. Ia
memperkenalkan dirinya kepada wanita selingkuhan pacarnya dan pergi begitu
saja. Tips ketiga: “Buat si pria menderita”. Wanita ini, dalam aktingnya,
meminta putus dan meminta si pria untuk tidak pernah menghubunginya lagi.
Jelas, si pria kalang kabut. Setelah itu, banyak tips-tips lain yang
disampaikan hanya untuk memberikan bagaimana cara wanita bersikap terhadap pria
yang selingkuh.
* * *
Film
tersebut saya akui bagus dari segi perbedaan yang ditampilkan antara pria dan
wanita. Film tersebut memberikan gambaran kepada kaum wanita mengenai kaum pria
dan sebaliknya, walaupun agak sedikit
berlebihan. Film tersebut terkadang sedikit
mendiskreditkan pria dan kadang pula menyorot sisi lemah wanita. Disitu
digambarkan apabila seorang pria patah hati, pelampiasannya adalah berkumpul
dengan teman-temannya dan melakukan sesuatu bersama-sama, seperti menonton
sepakbola, olahraga atau lainnya. Wanita, bila patah hati, pelariannya
digambarkan sebagai seorang shopaholic yang
membabi-buta. Justru disarankan untuk membeli barang-barang yang kita suka
tanpa mempertimbangkan harganya (mungkin ini yang membuat marketing di Venus
lebih berhasil daripada di Mars, hehe..).
Cinta Bikin Pusing. Sebagian
mungkin berkata seperti itu. Buktinya ada fim sejenis sinetron yang barusan
saya bahas. Jika Anda pernah menontonnya, atau bahkan menjadi penggemar
setianya, Anda memang dibuat pusing dengan ceritanya. Bahkan dalam cerita itu,
masalah ringan dan simpel saja bisa menjadi hal yang complicated. Setelah menonton film
itu, Anda akan merasa lebih pusing dari sebelumnya atau bahkan takut dengan
cinta itu sendiri.
Saya memiliki
cara pandang berbeda dalam hal ini. Cinta bagi saya adalah anugerah. Apa yang
membuat pusing dalam film itu sebenarnya adalah hal yang tidak perlu
dipusingkan. Bukankah cinta itu adalah berbagi? Cinta tidak menuntut, walau
terkadang kita menuntut orang-orang yang kita cintai melebihi apa yang mereka
mampu. Namun, dengan komunikasi, tuntutan-tuntutan tersebut dapat kita ubah
menjadi sesuatu yang kita sepakati bersama. Dan hasil akhirnya bukan lagi
tuntutan, melainkan kesepakatan bersama.
Jika
dalam film itu kita diajari untuk merasa bahagia jika orang yang kita cintai
menderita setelah ia menyakiti kita, maka saya memandang dari sisi yang berbeda
pula. Orang yang kita cintai adalah orang yang bersedia berbagi hidupnya dan
sejarahnya dengan kita. Jika suatu saat ia menyakiti kita, mengapa kita jadikan
itu sebagai alasan untuk berbalik menyakitinya? Apakah balas dendam dapat
secara tuntas menyelesaikan masalah? Hampir semua kerusakan di bumi ini
disebabkan oleh dua hal: Keserakahan dan kemarahan.
Cinta,
menurut saya, adalah berbagi bersama. Jika dalam film tersebut digambarkan
bahwa pria posisinya lebih tinggi dibanding wanita (karena pria lebih mudah
selingkuh), maka saya memposisikan pria dan wanita sama dan sejajar. Mereka
hanya berbeda cara penanganan masalah saja. Anda yang khatam membaca Men are from Mars and Women are from Venus
karya John Gray pasti mengerti maksud saya. Jika Anda belum membacanya, saya
rekomendasikan buku bagus tersebut untuk Anda baca.
Saya
tidak heran kenapa di negeri ini tingkat perceraiannya sangat tinggi, terutama
para artis. Mereka, pasangan-pasangan itu, memposisikan diri mereka lebih
tinggi di atas yang lain dalam hal kekuasaan. Memang, dalam Islam, kekuasaan
tertinggi ada pada para suami, namun kekuasaan itu tidak sampai tingkat
diktator. Kekuasaan itu adalah kekuasaan yang didukung bersama seluruh anggota
keluarga. Kekuasaan itu adalah kekuasaan yang melindungi seluruh keluarga dan
bukan untuk menindas anggota keluarga. Kekuasaan itu adalah kekuasaan yang
dibangun bersama oleh istri dan anak-anaknya, bukan sebaliknya, yaitu kekuasaan
yang dibangun diluar untuk menghancurkan istri dan anak-anaknya
Cinta ternyata
tidak bikin pusing jika kita mampu memposisikan diri kita di hadapan yang
lainnya, terutama orang-orang yang kita cintai. Jika Anda sulit
membayangkannya, bayangkan saja cinta yang kita miliki adalah seperti hubungan
antara seorang dokter dan perawat. Mereka berbeda, namun dengan perbedaannya
itu, mereka mampu menyembuhkan pasien yang terluka. Seorang dokter memiliki
keahlian bedah yang mampu menyembuhkan sakit dalam secara fisik dan seorang
perawat mampu menyempurnakan kesembuhan sang pasien dengan keahliannya menjahit
luka dan membersihkan hal-hal kecil yang dokter tersebut tidak mampu. Ditambah,
seorang perawat mampu ‘berbicara’ dengan seorang pasien.
Dokter
adalah seorang suami dan perawat adalah seorang istri. Pasien itu bisa jadi
adalah anak-anak kita, tetangga, masyarakat, bahkan bangsa ini. Dengan
kombinasi keahlian yang berbeda-beda, dihasilkan sesuatu yang sungguh
menakjubkan. Tidak diperlukan trik-trik khusus untuk memperlakukan orang-orang
yang kita cintai sedemikian sehingga mereka mau mengikuti kemauan kita. Justru,
semakin kuat kita menuntut, mereka akan semakin kuat pula penolakannya. Dalam
cinta, sederhananya hanya ada tiga hal yang perlu kita perhatikan agar
‘selingkuh’ diatas tidak terjadi: komunikasi, kejujuran, dan keterbukaan. Semuanya
dirangkai dalam bahasa understanding. Lagipula,
bukankah selingkuh itu akan muncul jika kita terlalu posesif terhadap
orang-orang yang kita cintai? Milikilah sikap memberi, bukan menuntut. Dengan
begitu, sikap posesif kita akan berkurang atau hilang dengan sendirinya.
Jakarta, 16 Oktober 2007
“Thanks for
my bestfriend, Anggit, yang hari ini menikah di Pati.. Maaf ngga bisa datang karena aku sedang di Jakarta… Barakallahu laka…
“
No Comments »
Dunia
ini telah banyak dipenuhi oleh kepentingan-kepentingan yang baik. Juga
kepentingan-kepentingan yang buruk. Siapapun, termasuk kita, memiliki
kepentingan untuk hidup, mencintai dan dicintai. Kita juga memiliki kepentingan
terhadap orang lain; artinya, kita membutuhkan orang lain.
Sangat
sedikit orang di dunia ini yang memiliki sosok seperti Bunda Teresa, Mahatma
Gandhi, Muhammad saw., Isa al-Masih dan beberapa orang besar lainnya. Terlepas
dari apa dan siapa mereka, kita melihat satu kesamaan yang mereka miliki yang
menjadikan mereka memiliki kualitas orang besar: mereka sama-sama memiliki
kepentingan untuk dibutuhkan oleh orang lain.
Kebanyakan
kita sebaliknya. Kita memiliki kepentingan terhadap orang lain hanya jika kita
membutuhkannya. Kita hanya ‘say hello’ dan bersapa hangat hanya jika ada
maunya. Semakin kuat kemauan dan tujuan kita terhadap orang tersebut, maka
semakin besar kepedulian kita terhadap orang tersebut.
Saya
mengenal beberapa orang yang memiliki karakter seperti itu. Anda boleh
mengatakan bahwa saya adalah orang kolot yang masih saja mengharapkan
persahabatan atau pertemanan tanpa pamrih, namun saya masih menjadikan hal
tersebut prinsip dasar saya dalam berteman dan bersahabat. Masih banyak teman
dan sahabat di sekeliling saya yang memiliki prinsip zero-zero atau kosong-kosong dalam
pertemanan dan persahabatan. Tulus dan saling memberi.
Beberapa
orang, sangat sedikit sekali, memiliki karakter berbeda. Saya bersyukur sekali
karena sangat sedikit dan jarang memiliki orang-orang seperti ini di sekitar
saya. Mereka terkadang memuji berlebihan, bermanja-manjaan, bahkan membenarkan
semua yang saya katakan dan lakukan. Setiap manusia pasti senang diperlakukan seperti
itu. Namun lama-kelamaan, saya menjadi tidak nyaman.
Dalam
waktu yang relatif singkat, jika keinginan mereka sudah tercapai atau
sebaliknya, tidak tercapai sama sekali, mereka akan berbalik 180 derajat. Sikap
yang tadinya ramah, suka memuji, selalu mengiyakan, selalu tersenyum dan
bahagia, kini tak ada lagi. Yang ada hanyalah sikap diam, dingin, dan tidak
berkomentar apa-apa. Ketika saya memintanya untuk membantu saya dalam hal-hal
yang kecil dan sepele, mereka biasanya langsung menghindar dan enggan membantu
kita.
Saya
bersyukur dikelilingi orang-orang yang selalu siap membantu saya kapan saja
tanpa peduli apakah saya sanggup membalasnya atau tidak. Begitu pun sebaliknya.
Saya akan selalu berusaha hadir dan membantu tanpa peduli apakah mereka sanggup
membalasnya atau tidak.
Sulit
memang membedakan orang-orang tersebut, namun berdasarkan pengalaman, Anda
pasti dapat mengenalinya dari perubahan drastis yang terjadi padanya. Saya
tidak menyarankan untuk berburuk sangka (su’udzon) kepada orang lain apabila
ada orang lain yang tiba-tiba menjadi ‘aneh’ di mata Anda, namun Anda pasti
sudah lebih dulu mengenalinya.
* * *
Orang-orang
besar yang saya sebutkan diawal tulisan ini memiliki kepentingan untuk
dibutuhkan oleh orang lain, bukan membutuhkan orang lain. Mereka tidak meminta
apa-apa kepada orang-orang di sekitarnya. Justru, mereka memberikan apa yang
mereka miliki untuk orang-orang yang mereka kenal dan, bahkan, tidak kenal
sekalipun.
Sekalipun
mereka membutuhkan orang lain, mereka tidak memintanya kepada kita. Jangankan
memuji atau menghormati secara berlebihan, terkadang justru mereka tidak
terlihat jika sedang membutuhkan bantuan. Dan hebatnya lagi, mereka justru
memberikan bantuan disaat mereka membutuhkan bantuan.
Mari,
sekali lagi, kita bercermin pada mereka. Sudahkan kepentingan kita terhadap
orang lain merupakan kepentingan untuk dibutuhkan dan bukan membutuhkan?
Sudahkah kita mendekati seseorang dengan tujuan memberinya pertolongan dan
bukan meminta pertolongannya? Sudahkah kita berbaik hati pada siapapun di
sekitar kita dengan maksud membantunya, bukan justru meminta bantuannya?
Sulit
memang, namun jika kita membiasakan diri, kita akan terbiasa. Kita tidak perlu
takut lagi dengan kejahatan orang lain karena dengan bersikap seperti ini,
tidak ada orang yang tega menyakiti orang yang selalu membantu orang lain. Jika
ada, mungkin orang itu adalah orang yang memanfaatkan kebaikan orang ini untuk
selalu membantunya.
Yogyakarta, 7 November 2007
“O my best friends, I proud to
be a part of you…”
No Comments »
Suatu hari, saya berniat
mengakses internet via free-public Wi-Fi
di salah satu lokasi di Jakarta. Tempat itu cukup ramai dengan berbagai macam
orang yang sengaja online atau
sambil rapat dan makan-makan (tentunya dengan membawa laptop atau PDA mereka).
Saya sendiri berniat mencicipi sedikit makanan yang tersedia disana. Bukan
apa-apa, saya tidak berani banyak-banyak karena harga yang dipatok cukup tinggi
bagi kantong mahasiswa seperti saya.
Saya melihat tempat duduk yang
tersisa dan mengambil tempat yang paling nyaman. Di depan saya dua orang suami
istri sedang berbicara santai dan disebelah saya seorang.. hmm, bahasa kita
mungkin ‘bule’ untuk menunjukkan seorang asing dengan kulit putih dan rambut
agak pirang. Seorang wanita ‘bule’.
Saya tersenyum padanya yang
sedang asyik menikmati milkshake-nya
sambil memelototi layar LCD laptop Compaq-nya. Ia tersenyum cuek sambil
melanjutkan browsing yang sepertinya sangat
dinikmatinya.
Tak lama kemudian…
“Oh, God. Cover me, please”, bule
itu berkata.
Saya bingung. Dengan siapa ia
bicara? Saya sedikit melirik ke arahnya dan sepertinya ia berbicara pada saya.
“Excuse me, are you talking to
me?” Jawab saya dengan sedikit unsure about my english
grammar.
“Yea, I’m taliking to you. Would
you please cover me?”, ulangnya dengan matanya mengarah ke pintu masuk (entrance).
“From
what? And… How do I cover you?” saya masih bingung dengan maksudnya.
“Just
sit on your chair and don’t move, ok?” tekannya dengan kali ini menatap saya
dengan tajam.
“Ok,
ok. Sorry…” jawab saya singkat sambil melihat laki-laki yang baru saja datang
dan sepertinya ditakuti olehnya itu.
Tak
berapa lama kemudian, ia sedikit tenang dan kembali asyik dengan laptopnya
sambil sesekali melirik ke arah dalam dimana laki-laki itu berkumpul bersama
kawan-kawannya.
“Oh,
by the way, thank you for your help. I didn’t mean to order you like that. It’s
just… you know…” jelasnya tak yakin apakah saya akan mengerti atau tidak.
“Yeah,
I know…” jawab saya sok mengerti.
Well,
at this point, saya akui saya tidak
siap dengan conversation dadakan seperti itu. Menyesal
juga mengapa tidak mengasah kemampuan bahasa Inggris ini hingga tingkat advance, atau bahkan expert.
“My
name is Tina. You?” tanyanya singkat, masih dengan gaya yang cuek.
Saya
terdiam sebentar. Nama tersebut mengingatkan saya tentang nama seorang adik
dari seorang sahabat yang dahulu pernah dekat dengan saya, namun sekarang sudah
tidak lagi.
“Setyadi.
Kristiono Setyadi”, reflek saya menjawab dengan nama belakang saya.
“Are
you still a student or a worker by now?” tanyanya.
“I’m
a student and will become a worker someday” senyum saya.
Ia
sepertinya mengerti candaan saya dan akhirnya, tersenyum.
“Haha,
I guess you have already spent your whole time in the university more than
anyone expect. Right?” Senyumnya semakin lebar.
“How
do you know that?” Saya pun menahan geli mendengar tebakan jitunya.
“I
used to…” jawabnya singkat.
Dan
akhirnya kami tertawa bersama.
Percakapan
saya dengannya cukup lama. Namun yang ingin saya tulis disini adalah tentang
tema yang saya angkat.
“By
the way, would you mind explain to me about what you are asking me for?” tanya
saya hati-hati, takut ia tersinggung.
“Which
one?” kerut di dahinya menyiratkan kebingungan.
“’Oh
God. Cover me, please…’” ulang saya sambil menirukan gayanya yang
sedikit ketakutan.
Dia meninju lengan atas saya
dengan santainya namun, beberapa detik kemudian, meminta maaf karena dia tahu
saya muslim dan, tentu saja, menghindari bersentuhan dengan lawan jenis.
“It’s hard to tell you about
that, but… Ok, I’ll tell you anyway” senyumnya.
“Well, the man you saw earlier
who ‘scared’ me was… my boyfriend. One of my boyfriends. But please, don’t make
a comment yet. I haven’t finish…” katanya terburu-buru setelah melihat reaksi
saya yang cukup kaget mendengar kata ‘one of my boyfriends’.
Saya mengangguk setuju untuk tidak menginterupsinya.
“This evening, I suppose to be
there in his house but actually, I don’t want to go there…”
“You know why? Because I’m sick
to… you know… to… do… some… thing… with him… every visit. Almost every visit”
lanjutnya dengan hati-hati dan perlahan-lahan. Sepertinya ia mencari kata-kata
yang tepat dan cukup sopan sehingga saya mengerti. Dan saya mengangguk mengerti.
Astaghfirullah, batin saya.
Ia melanjutkan ceritanya,
“I almost the same with the other
woman. Bebas. And I have right to do what
I like and what I love, including not to ‘serve’ him as he expect me to do”
urainya dengan nada sedikit marah dan pengucapan kata ‘bebas’ yang terdengar
agak kurang fasih namun cukup jelas.
Sampai disini, saya mendengar
uraiannya yang lumayan jelas namun agak sulit dicerna karena, saking
mengalirnya, ia menggunakan diksi yang tidak saya pahami sepenuhnya (inilah
efek dari tidak rajin meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Payah!).
Setidaknya saya menangkap bahwa
ia benci dipermainkan terus oleh para laki-laki buaya yang hanya menginginkan
tubuhnya. Ia benci diperlakukan layaknya boneka, ‘a
barbie girl’, oleh para laki-laki sialan. Ia benci diperlakukan seperti
barang dagangan yang bisa dibeli dengan bisikan ‘I
love you’ dan juga ‘you are sexy’. Ia
benci diperlakukan seperti itu walaupun ia mengakui kelemahannya ada pada dua kalimat
itu, ‘I love you’ dan ‘you are sexy’.
Saya terus mendengarkan uraiannya
dan sepertinya ia tulus mengucapkannya. Saya terus mendengarkannya.
Kata-katanya, emosinya, pendiriannya, kemauan kerasnya untuk berubah,
kebenciannya, penyesalannya, semuanya. Saya mendengarkannya.
Hingga sampai pada titik dimana
ia bertanya,
“You are a nice person. Like
other moslems guy, of course. Would you mind to be one of my boyfriends?”
tanyanya dengan mata mengerling genit dan sedikit menggoda.
What!?
Baru saja dia mengungkapkan penyesalannya namun kini menawarkan ‘jabatan’ itu
pada saya? Crazy world! Of course I…
“No, no, no. I’m just kidding. Actually,
I ‘hate’ moslems, but don’t offense. Not because they are moslems, but because
they are too restrict about relationship between a man and a woman,” senyumnya
penuh kemenangan. Saya hanya terdiam dan sedikit menyunggingkan senyum, masih
berdebar-debar kaget mendengar pertanyaannya barusan. Entah harus istighfar
atau bersyukur karena ternyata hanya candaan belaka.
Dia terdiam sejenak dan kembali
ke layar monitornya. Dia mengetikkan sesuatu dan, tak lama kemudian, muncul
tulisan di Yahoo! Messenger saya:
“Would you mind giving your
address and phone number to me? Maybe we can have a conversation like this in
the future,” dengan icon smiley senyum
setelahnya.
Saya berpikir sebentar dan
akhirnya mengetikkan balasannya seperti ini:
“Address: viaris@yahoo.com. Phone number: this id. You
can call me or send me a letter anytime and anywhere, when I’m online.” Dengan
tanda smiley senyum lebar di akhir pesan.
“Moslems!” umpatnya sambil
tertawa dan, lagi-lagi, mengayunkan tangannya untuk memukul lengan atas saya
namun tidak jadi.
Beberapa menit kemudian kami
terdiam dan asyik dengan laptop masing-masing. Hingga tak terasa, datang
seorang laki-laki yang, bisa dibilang lebih tampan dari yang pertama tadi,
datang menghampirinya.
“Hello, honey. Miss you so much!”
katanya. Dari wajahnya, jelas ia orang Indonesia asli. Namun penampilannya
menyiratkan semua orang bahwa ia datang dengan membawa sebuah Jaguar atau Mercy
terbaru. Sangat mewah.
“Hello, miss you too…” wanita itu
berdiri dan mereka berpelukan.
Saya hanya manyun saja melihat tingkah
mereka.
“Riki, this is my new friend,
Setyadi. He is a moslem and he such a nice person. Just like you.” ia tersenyum
bangga ke arahnya.
Laki-laki yang dipanggil Riki itu
menoleh sejenak pada saya dan mengulurkan tangannya,
“Riki,” Katanya singkat.
“Kristiono,” jawab saya dengan
nama depan karena saya yakin Riki ini orang Indonesia. Yah, dilihat dari
tampilannya, sepertinya ia tinggal di kawasan Pondok Indah atau Menteng.
Riki ini ternyata lebih cuek
dibanding Tina. Ia hanya tersenyum dan sedetik kemudian perhatiannya jatuh pada
Tina.
“So, where we going tonight?”
tanyanya dengan senyum menggoda.
“Dear, what about Planet
Hollywood? But only Planet Hollywood, not more…” warning
Tina dengan penuh kemanjaan dan sesekali matanya melirik ke arah saya. Genit.
“Ok, just only that. Not more…”
kata Riki.
Dan sambil Tina membereskan
laptopnya, Riki pergi ke mobilnya.
Lalu,
“I love him, too. And he is one
of my boyfriends. And you… You are one of my bestfriends!” kedipnya penuh canda
sambil tertawa riang.
Dan ia, Tina, pergi berlenggang
dengan pakaiannya yang seksi sambil melambaikan tangannya ke saya sebagai tanda
perpisahan. Namun sebelumnya, ia berhasil mencuri cubitan terakhir di punggung tangan
saya. Lagi-lagi saya beristighfar, Astaghfirullah…
* * *
Laki-laki
bisa jadi memang pantas disebut buaya, karena dengan mudahnya mengucapkan
kata-kata ‘I love you’, ‘you are sexy’, ‘I miss you’, dan sebagainya. Bisa jadi
pula, laki-laki pertama yang ditakuti Tina, Riki, dan saya, juga Anda, termasuk
salah satu ‘buaya’ nya. Namun, saya berpikir, selalu ada saja wanita yang
menjadi pecinta buaya. Seperti halnya ular yang banyak dibenci orang-orang, toh, tetap saja ada perkumpulan
pecinta ular.
Bagaimanapun,
Tina adalah salah satu representasi dari wanita bebas zaman modern saat ini. Ia
tidak bisa disalahkan karena budaya yang membentuknya seperti itu. Saya hanya
mampu ber-istighfar dan bersyukur sebagai
seorang muslim. Saya berpikir, itulah untungnya menjadi seorang muslim. Kesempatan
untuk secara tidak sengaja menemukan peluang maksiat sangat kecil. Saya jadi
teringat dengan ayat ini,
Hai Nabi, katakanlah
kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Ahzab: 59)
Sungguh
beruntung menjadi seorang wanita berjilbab (akhwat). Sungguh amat-amat
beruntung karena mereka dikenali kemuslimannya. Sedangkan laki-laki, seperti
saya, dan Anda, tidak akan dikenali kemuslimannya di tengah-tengah umum jika
tidak ditanya. Subhanallah, Maha Suci Allah.
Some place around Senayan, Jakarta.
“In the middle of crazy
world… Did I wrong, or maybe I just step in the wrong place… I don’t know… I
just miss them, muslimah who wear their
‘jilbab’ and guard their personality against globalization… “
No Comments »
|